Bagian 20

143 27 0
                                        

Hari mulai senja saat mobil Danu berhenti di depan rumah Anjani. Setelah satu hari penuh tertawa, bercanda, dan melepas penat di villa, kini semuanya kembali ke rutinitas.

Satu per satu turun dari mobil dan berpamitan. Sari dan Laura lebih dulu pulang dengan taksi online yang mereka pesan. Sari masih sempat nyerocos dan menggoda Laksana dan Anjani sebelum akhirnya pergi sambil melambaikan tangan. Danu menyusul, menguap lebar sambil menepuk bahu Laksana.

“Gue cabut dulu ya, San. Nanti kalo lo ngebatin karena kangen gue, kabarin aja”

Laksana bergidik merinding "najis anjing"

Danu tertawa, lalu melangkah pergi. Tinggal Laksana dan Anjani berdiri di depan pagar rumah.

Laksana membetulkan tali ransel di bahunya “Aku pulang ya”

Anjani memegang lengan bajunya sebentar, lalu tersenyum “Kamu istirahat yang cukup, San. Jangan langsung ngerjain apa-apa dulu”

“Siap, bos” sahut Laksana pelan. Ia menatap mata Anjani sesaat, lalu membelai puncak kepala Anjani dengan lembut “Makasih buat dua hari ini”

Anjani mengangguk kecil, lalu melepaskan genggaman dengan berat hati.

Laksana pun beranjak pulang ke rumahnya yang hanya beberapa langkah dari sana.

Begitu Anjani masuk ke rumah, ia mendapati mamanya sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah amplop putih.

“Jani, ini ada surat buat kamu” ujar mamanya sambil menyodorkan surat itu

Anjani mengerutkan dahi, penasaran "ini surat apa ma?"

"Mama gak tau sayang, buka aja"

Anjani duduk di sofa ruang tamu dan mulai membuka amplop tersebut

Surat itu dibuka perlahan, dibaca beberapa detik, lalu  matanya membesar.

“Yonsei?” gumamnya.

Mama ikut duduk di sebelahnya “Kenapa? Surat apa itu nak?”

Anjani menoleh dengan tatapan kosong setengah tak percaya “Ini surat undangan beasiswa. Dari Yonsei University, Korea”

"Ha? Kok bisa?"

“waktu itu aku sempet kirim esai S2 jurusan desain. Karena… ya, aku masih punya mimpi jadi designer kayak mama. Tapi aku gak nyangka beneran dikasih undangan wawancara dan kesempatan dapat beasiswa penuh”

Mama menatapnya dengan bangga “wah keren banget anak mama"

"kamu mau ambil kesempatan itu sayang?” tanya Mama

Anjani menunduk “Aku belum tahu ma. Aku masih mau pikir-pikir dulu”

Mamanya tidak mendesak. Ia hanya menepuk lembut paha Anjani “Mama gak akan maksa pilihan kamu. Tapi ingat, kesempatan ini gak datang dua kali. Kamu harus pikir matang-matang”

Anjani mengangguk pelan "iya ma"

Setelah mama meninggalkannya sendiri di ruang tamu, Anjani membawa surat itu ke kamarnya. Ia duduk di meja belajar, menatap surat itu lama. Tangannya memegang lembaran kertas itu erat, seakan ingin mencari jawaban dari antara baris-baris huruf asing.

Ingin sekali ia menceritakan semua ini ke Laksana. Tapi tidak malam ini. Belum. Ia akan menceritakan disaat yang tepat, saat kesibukannya dan Laksana sudah meredah. Ia tidak mau membebani pikiran Laksana dulu.

Anjani kemudian menaruh surat itu perlahan di meja.

***

Skip

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang