Puncak Rinjani

259 31 7
                                        

"Ehem"

Sebuah suara dehaman terdengar, cukup nyaring untuk memecah keheningan di antara dua insan yang tengah melepas rindu.

“Hem, maaf ya, gue capek jadi nyamuk!” celetuk Sasa sambil berdiri di belakang mereka, kedua tangan disilangkan di dada, bibirnya menyungging senyum jahil.

Laksana dan Anjani sontak menoleh, lalu tertawa kecil. Perlahan mereka melepaskan pelukan, masih dengan sisa haru yang terasa begitu hangat di dada. Wajah Anjani sedikit memerah, sedangkan Laksana cuma cengar-cengir tanpa dosa.

Sasa maju dua langkah, dan tanpa banyak basa-basi

Plaaaak

sebuah jitakan ringan mendarat di kepala adiknya.

“Aw! Apaan sih kak” seru Laksana sambil mengusap kepalanya, cemberut "Sakit lo jitakin pala gue mulu!”

Sasa nyengir puas “tangan gue selalu gatel tiap ngelihat lo bikin ulah”

Laksana mendecak, tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya.

Sasa menghela napas, kini tatapannya melembut saat melihat Anjani menggenggam tangan adiknya erat-erat.

“Gue seneng banget lo akhirnya bareng lagi sama Anjani” katanya pelan “Tapi janji, jangan pernah lo bikin Jani nangis lagi, San”

Laksana mengangguk serius “Gue janji, Kak. Kali ini... gue gak akan nyia-nyiain Jani lagi”

Sasa menatap adiknya dalam-dalam, sejenak diam, lalu mengangguk pelan. “Bagus. Karena kalau sampe lo ngulangin hal bego yang dulu, yang jitak kepala lo bukan cuma gue, tapi semua orang di rumah”

Laksana dan Anjani tertawa. Suasana yang tadinya penuh haru kini terasa hangat dan ringan, seolah dunia mereka mulai berputar ke arah yang benar lagi.

Di tengah galeri foto yang teduh, di antara dinding putih dan karya-karya visual penuh emosi, cerita Laksana dan Anjani kembali menemukan jalannya—bukan dari awal, tapi dari titik yang lebih dewasa. Dari dua hati yang pernah terluka, tapi kini memilih untuk saling memulihkan bersama.

***

Satu bulan kemudian

Namanya juga hidup, setelah drama pasti butuh napas. Tapi buat Anjani dan Laksana, napas itu bukan berarti diam di tempat. Justru mereka melaju, lebih cepat dari sebelumnya.

Anjani kini menjabat sebagai Head of Fashion Design di Lumière, sebuah rumah mode yang sedang naik daun, tidak hanya di Indonesia, tapi juga sudah mulai merambah pasar Asia. Posisinya didapat bukan karena kebetulan. Perjuangannya selama kuliah S2 di Korea, kerja kerasnya, lembur tanpa hitungan, dan proyek-proyek riset desain tekstil—semua itu mengantarkannya ke puncak karier. Ia bukan lagi Anjani yang hanya duduk di balik meja, tapi kini memimpin langsung tim kreatif yang menghasilkan koleksi couture tiap musimnya.

Sementara itu, Laksana juga tak kalah sibuk. Sejak foto-foto karyanya viral dari proyek pengganti Yoga tempo hari, tawaran berdatangan dari berbagai perusahaan besar. Ia jadi langganan untuk pemotretan fashion show, editorial majalah premium, hingga iklan eksklusif. Bahkan, salah satu event organizer internasional baru saja memintanya memotret konser tunggal artis Korea di Jakarta. Siapa sangka, cewek berjaket kulit yang dulu cuma keliling bawa kamera jadul kini jadi fotografer paling dicari.

Namun, di sela kesibukan itu, mereka tahu satu hal kalau tidak menyisihkan waktu untuk berdua, semua bisa terasa hambar.

***

Mobil jeep yang mereka sewa bergetar di sepanjang jalur berbatu menuju basecamp. Angin gunung mulai terasa menusuk, tapi matahari yang menyelinap di antara awan membuat suasana jadi hangat.

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang