Bagian 16

143 26 0
                                        

Saat jam istirahat, Anjani curi-curi kesempatan untuk menemui Laksana ke studio.

Studio dalam keadaan sepi saat Anjani melangkah masuk. Ia menoleh kanan-kiri, memastikan tak ada siapa-siapa sebelum matanya menangkap sosok yang ia cari. Laksana, sedang mengecek lensa kamera seorang diri.

“San” panggilnya lirih.

Laksana menoleh kaget. “Eh, kamu ngapain ke sini?” Ia buru-buru menurunkan kameranya “Nanti kalau ada yang lihat—”

Tanpa menjawab, Anjani langsung menarik tangan Laksana dengan gugup “Ayo, ikut aku”

Laksana menurut saja, tak melawan. Anjani menggiringnya ke pintu samping dan membuka akses ke tangga darurat. Setelah pintu tertutup, suara luar meredam, menyisakan hanya mereka berdua di ruang sempit itu.

Laksana memandangnya heran “Ada apa sih? Kamu kelihatan panik”

Anjani menghela napas, matanya berkaca-kaca “Aku... aku dengar soal keributan Yoga pagi ini. Teman-teman aku di divisi semua ngomongin. Aku takut dia nyakitin kamu, atau kamu diapa-apain”

Laksana tercengang sejenak, lalu tertawa pendek “Jadi kamu sampai ke sini buat ngecek keadaanku?”

Anjani menunduk, lalu air matanya benar-benar jatuh “Aku gak bisa tenang. Aku tahu kamu kuat, tapi aku juga tahu dia bisa sejahat itu”

Melihat air mata Anjani, hati Laksana mencelos. Ia pelan-pelan mendekat, mengangkat tangan dan mengusap pipi Anjani yang basah “Ssstt... aku baik-baik aja sayang. Aku janji. Dia cuma teriak-teriak, gak lebih. Kamu gak perlu khawatir ya”

Anjani menggeleng kecil “Tapi aku tetap takut... kalau sampai kamu kenapa-kenapa San”

Laksana mengelus kepala Anjani perlahan, menenangkan seperti biasanya “Aku tahu kamu peduli. Dan aku seneng banget”

Beberapa detik hening berlalu. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, dan tatapan mereka saling menyatu. Dalam keheningan itu, Laksana menatap dalam mata Anjani, lalu berbisik,

“Percaya sama aku ya. Aku pasti bisa menghadapi semua ini. Semuanya akan baik-baik saja"

Anjani mengangguk pelan, matanya masih berkaca.

Lalu, tanpa kata, Laksana mendekat dan mengecup bibir Anjani perlahan dan penuh perasaan. Bukan ciuman terburu-buru, tapi sebuah jalinan rasa yang telah lama tertahan.

Mereka membiarkan kehangatan itu berlangsung beberapa detik. Lembut, tidak tergesa, tanpa nafsu. Saat bibir mereka berpisah, Anjani memejamkan mata, menyandarkan kepala ke dada Laksana. Laksana memeluknya erat-erat, menenangkan, seolah ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Aku sayang kamu” bisik Anjani lirih.

“Aku juga” jawab Laksana, masih memeluk erat.

Suara langkah dari lantai atas membuat mereka akhirnya saling melepaskan, walau enggan.

“Kamu harus balik ke studio” kata Anjani pelan.

“Dan kamu ke kantor. Nanti dicariin” balas Laksana sambil tertawa kecil sehingga Anjani terkekeh

Sebelum mereka berpisah, Laksana kembali mengecup dahi Anjani—hangat, penuh rasa. Anjani tersenyum tipis, lalu membuka pintu tangga darurat dan pergi tanpa menoleh lagi, membawa perasaan yang sedikit lebih tenang.

***

Hari-hari setelah kejadian itu, suasana di studio menjadi jauh lebih tegang dari biasanya. Yoga yang masih terbakar rasa tidak terima dan cemburu, mulai mencari-cari cara untuk membuat Laksana jatuh di hadapan semua orang. Ia tidak lagi sekadar bossy, sekarang ia benar-benar menyabotase.

Laksana (3rd)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang