Bagian 27

206 30 0
                                        

Setelah beberapa menit berkendara, Anjani tiba di studio Laksana sesuai alamat yang diberikan Ayah.

Studio itu senyap saat Anjani membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Ia melangkah pelan, memanggil “San?”

Tak ada jawaban.

Cahaya lampu gantung yang redup menerangi ruangan yang mulai tertata. Beberapa kamera, lighting, dan rak-rak kecil sudah terpasang. Aroma kayu baru dan cat dinding masih terasa. Di sudut ruangan, Anjani melihat sesosok tubuh terbaring di sofa panjang.

Laksana tidur dengan tangan menyilang di dada, masih mengenakan kaos dan celana panjang lusuh. Rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat letih. Sangat letih. Seperti seseorang yang memikul terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat.

Anjani mendekat. Suaranya pelan tapi penuh rasa “San”

Laksana tidak bergeming

"San"

Saat namanya dipanggil kedua kali, tubuhnya bergerak.

Ia perlahan membuka mata. Mata itu kosong beberapa detik, sampai akhirnya menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

“Anjani?” suaranya serak, terduduk dengan kaget “Kamu… gimana bisa di sini?”

“Aku dapat alamat dari ayahmu. Dan… pintunya tadi gak dikunci jadi aku bisa masuk” ucap Anjani pelan, nyaris berbisik.

Anjani duduk perlahan di tepi sofa, tak jauh dari Laksana yang masih tampak linglung setengah sadar. Hening beberapa saat, hanya terdengar napas mereka.

“Aku kaget lihat kamu kayak gini” suara Anjani pelan dan bergetar “Kamu kelihatan capek banget”

Laksana menyandarkan punggungnya ke sofa, mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya “Memang capek”

“Kamu gak pulang tiga hari?” tanya Anjani lembut

“Lagi ngurus ini” jawab Laksana singkat, melirik ke sekeliling ruangan “Lumayan banyak yang harus diberesin”

Anjani tersenyum tipis “Tapi kamu keren. Aku gak nyangka kamu bisa bikin tempat sebagus ini sendirian”

Laksana menoleh, raut wajahnya agak mencair “Gak sendirian. Danu bantuin”

Anjani mengangguk “Syukurlah, kamu masih punya orang yang bisa kamu andalkan”

Laksana tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Anjani menunduk sejenak, lalu memberanikan diri bicara lagi.

“Aku datang kesini buat minta maaf. Aku… salah. Harusnya aku dengerin kamu dulu. Harusnya aku percaya. Tapi waktu itu aku malah nyalahin kamu, padahal kamu udah berusaha jagain aku” kata Anjani dengan suara serak dan mata berkaca-kaca-kaca menahan tangis

Laksana tersenyum miring "bukannya kamu selalu begitu? Gak pernah percaya sama aku"

“Aku tahu kamu marah. Dan kamu berhak marah. Aku salah. Aku terlalu cepat nyalahin kamu padahal kamu selama ini selalu jaga aku, belain aku”

"Aku minta maaf San, aku gabisa kayak gini terus sama kamu. Aku sakit San. Aku ingin kita kembali baik-baik aja kayak dulu" Rintih Anjani

Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya "Aku gak mau hubungan kita berhenti cuma karena salah paham”

Laksana menatapnya, kali ini lebih dalam. Tapi ekspresinya mulai melembut.

Laksana menarik napas panjang, menahan emosinya sendiri, lalu akhirnya berkata pelan tapi jelas

“Akhir-akhir ini aku gak pernah coba hubungin kamu lagi bukan karena aku gak peduli”

Anjani menoleh, menatapnya dengan mata masih berkaca-kaca.

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang