Bagian 29

129 26 4
                                        

Malam harinya, Laksana di Ignite Cafe setelah ia mendapat info dari Dika jika Hildan sedang ada disana bersama teman-teman komunitas mogenya

Dari kejauhan, Laksana berdiri bersandar di balik mobil yang diparkir tak jauh dari kafe. Hoodie hitam menutupi sebagian wajahnya, menyamarkan identitasnya di tengah keramaian. Matanya tajam menatap ke dalam kafe melalui jendela kaca besar.

Di sana, di tengah tawa dan kepulan asap rokok, Hildan duduk santai di sofa panjang, satu kaki diangkat ke lutut satunya, menampilkan gaya santai yang menjengkelkan. Di sekelilingnya, beberapa pria berdandan necis, sesama anggota komunitas motor gede. Gelak tawa mereka meledak sesekali, seolah dunia sedang sangat baik-baik saja.

Padahal baru dua belas jam yang lalu, istri dari laki-laki itu terbaring di rumah sakit dalam kondisi mengenaskan. Dan dia, suaminya sendiri, malah di sini tertawa dan bersulang seperti tak ada dosa.

Laksana mengepalkan tangannya di balik kantong jaket. Dadanya panas, emosinya menggelegak, tapi ia tetap menahan diri. Terlalu banyak orang di sini. Terlalu ramai. Belum saatnya.

Tak lama, seorang wanita berambut panjang bergelombang datang menghampiri meja mereka. Tubuhnya semampai, pakaian ketat, wajahnya cerah. Laksana langsung bisa menebak, ini bukan rekan bisnis, bukan sekadar teman, tapi selingkuhan.

Interaksi mereka tak terbantahkan, tangan Hildan melingkari pinggang wanita itu, membisikkan sesuatu hingga wanita itu tertawa manja. Bahkan dengan enteng, Hildan mencium pipi wanita itu tepat di depan teman-temannya.

Laksana tanpa sadar menggertakkan gigi "Bangsat!" gumamnya

Beberapa jam kemudian

Hildan dan wanita itu keluar dari kafe, masuk ke sedan hitamnya. Mereka tampak akan pergi entah ke mana.

Laksana yang sedari tadi tetap mengawasi dari kejauhan segera naik ke motornya dan mengikuti perlahan.

Jarak dijaga. Lampu dimatikan. Ia tahu harus menunggu momen yang tepat.

Dan kesempatan itu datang di sebuah jalanan sepi di antara pepohonan kota. Tak banyak kendaraan lewat. Hanya suara jangkrik dan deru mesin yang terdengar.

Ciiiiitttt

Laksana menyalip dari samping dan berhenti tepat di tengah jalan, memblokir laju sedan Hildan. Motor diturunkan, helm dilepas, hoodie masih menutupi kepalanya.

Hildan menginjak rem mendadak.

"APA-APAAN NIH?!" teriak Hildan dari balik kaca.

Tapi sebelum sempat turun, Laksana sudah melangkah mendekat dengan tongkat baseball di tangan kanan. Suaranya penuh amarah

"Turun lo anjing!"

Wanita di dalam mobil panik.

"Hildan, siapa dia?"

"bangsat" umpat Hildan

Dengan percaya diri, Hildan keluar

"Lo siapa-"

Buuuuughh

Sebuah pukulan keras mendarat di perut Hildan. Disusul satu lagi ke punggungnya, membuat tubuhnya melipat. Dia terjatuh, terbatuk, belum sempat bangkit, Laksana menghajar lagi-kali ini ke paha, lalu ke bahu.

"BRENGSEK LO!!"

"BERANI-BERANINYA LO SAKITIN KAKAK GUE!!!"

"LO MANUSIA APA BUKAN?!!"

"MATI LO BANGSAT!!!!"

Hildan terhuyung, mencoba membalas, tapi satu tendangan ke dada membuatnya jatuh ke aspal. Mulutnya berlumur darah. Wanita di mobil menjerit ketakutan dan kabur begitu pintu dibuka.

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang