Bagian 8

196 27 0
                                        

"San bangun"
Laksana dibangunkan oleh Danu. Ia semalam tidak pulang dan tertidur di basecamp setelah mabuk

Laksana membuka perlahan matanya lalu melihat sekitar

"Gue ketiduran ya?" Kata Laksana sambil mengusap wajahnya

"Iye, lu mabok semalem terus ketiduran. Pulang gih sono. Ntar dicari bokap lu" Ujar Danu

Laksana mengangguk lalu beranjak untuk mengambil jaketnya

"Mau gue anter?" Tawar Danu

"Gausah Dan, gue bisa sendiri" Jawab Laksana sambil memakai jaketnya

"Gue duluan ya"

Laksana mengendarai motornya pulang ke rumah. Sampai di rumah, ia melihat Anjani ada di teras rumahnya sedang menunggu kehadirannya

Anjani berdiri dari duduknya "San" Panggilnya pelan

Laksana memarkirkan motornya, lalu menghampiri Anjani

Anjani menggenggam jemarinya sendiri "San aku... "

"Kalau kamu datang cuma untuk berdebat, silakan pulang. Aku lelah" Sahut Laksana datar

"Aku salah" Ucap Anjani cepat

"Aku salah, aku minta maaf udah gak percaya sama kamu. Aku udah negthink sama kamu tanpa aku cari tau dulu kebenarannya" Imbunya

Anjani mulai terisak "Maaf kalau aku gak pernah ada waktu untuk tau itu semua dari kamu. Aku hanya mikirin diriku sendiri, tanpa aku mikirin perasaan kamu"

"Andai saja aku waktu itu aku sisihin waktu aku untuk dengerin semua keluh kesah kamu. Aku gak tau kalo selama ini banyak masalah yang lagi kamu hadapin"

"Aku salah San, maafin aku karena aku belum bisa jadi pacar yang baik untuk kamu"

Melihat Anjani yang menangis seperti itu membuat Laksana tidak tega. Ia mengusap air mata Anjani dengan lembut "udah ya, jangan nangis lagi Jani. Aku udah maafin kamu, okey"

Anjani memeluk Laksana dengan erat lalu menangis dalam dekapan Laksana. Sungguh, ia merasa sangat tidak berguna untuk Laksana saat ini

"Hikss... Hikss.. Maafin aku San"

Laksana mengelus kepala dan punggung Anjani untuk menenangkan kekasihnya itu "cup.. Cup.. Udah ya, jangan nangis lagi"

Setelah tangisnya Anjani reda, Laksana melonggarkan pelukannya lalu mengusap sisa air mata Anjani "udah ya nangisnya"

Laksana mengajak Anjani untuk duduk di kursi teras "tunggu, aku ambilin minum dulu"

Anjani mengangguk

Laksana pergi sebentar untuk mengambil segelas air untuk Anjani "minum dulu"

Anjani meneguk air pemberian Laksana "makasih ya"

"iya" jawab Laksana lalu duduk di kursi satunya

"Jadi, kamu udah tau kan alasanku resign itu apa?" Tanya Laksana

Anjani mengangguk lemah "iya. Kemarin aku gak sengaja ketemu sama senior kamu, mbak Dewi. Dia udah ceritain semua ke aku masalah kamu di kantor"

Laksana mengernyit kan dahinya "kamu ketemu sama mbak Dewi?"

"Iya"

"Kok bisa?"

"Kita gak sengaja ketemu di kantor pusat waktu aku mau ketemu pak Rey"

Laksana manggut-manggut "Ohh"

"San, kamu pasti capek memperjuangkan semuanya sendirian"

"aku tahu selama ini aku terlalu banyak nuntut. Aku mikir, kamu harus kerja di tempat bagus, punya posisi tinggi, gaji tetap, supaya aku tenang. Tapi ternyata, aku salah. Yang penting bukan kamu kerja di mana. Tapi kamu bahagia, dan gak kehilangan jati diri kamu." Kata Anjani sungguh-sungguh

Laksana (3rd)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang