Langit malam menggantung kelam di atas lahan kosong yang menjadi titik kumpul para anggota geng motor malam itu. Asap rokok membubung ke udara, suara deru knalpot dan teriakan riuh terdengar bersahut-sahutan. Ada yang sedang adu cepat di lintasan aspal tak resmi, ada yang duduk melingkar bermain kartu, dan ada pula yang sekadar duduk-duduk sambil minum kopi sachet dari warung tenda di pojok area.
Laksana tiba di lokasi bersama Danu dan teman-temannya yang lain. Suara motornya tenggelam oleh dentuman musik yang keluar dari speaker besar milik salah satu anggota. Begitu ia melepas helm, beberapa orang langsung menyapanya dengan sorakan.
“Woy, Laksana hidup lagi ternyata!”
“Gila, Danu ama Laksana dateng! Nih duo jaman old!”
Beberapa tangan terulur, saling menjabat, saling menepuk punggung, saling menggoda dan tertawa. Laksana tak menyangka, dirinya masih dikenali dengan hangat oleh banyak anggota. Ia memang telah lama meninggalkan dunia ini, tapi rupanya kenangan dan reputasinya belum benar-benar hilang.
Di sela-sela keramaian, seorang pria bertubuh tegap menghampiri. Wajahnya serius, namun tidak ada lagi permusuhan di matanya.
“Laksana” sapa pria itu.
Laksana menoleh “Bang Dika.”
Mereka berjabat tangan dengan satu tepukan khas.
“Apa kabar lo sekarang?” tanya Dika.
“Baik. Lo sendiri bang?”
“Masih hidup hahaha"
Laksana terkekeh pelan "kalo Dita apa kabarnya?"
"Dita baik. Syukur deh, Dita sekarang kerja di Surabaya, jadi akuntan. Gue bangga banget sama dia,” jawab Dika, matanya berbinar
“btw Gue denger lo juga kerja sekarang?” tanya Dika
Laksana mengangguk “Iya, jadi fotografer di kantor fashion. Capek, tapi ini jalan yang gue pilih”
Dika menepuk bahunya “Gue seneng lo gak balik lagi ke jalanan. Jangan kayak gue, gaada masa depannya"
"Tapi kalau sekali-sekali nongkrong, ya gapapa lah” Mereka terkekeh.
Tiba-tiba suara knalpot berat memecah suasana. Semua kepala serempak menoleh ke arah ujung lapangan. Sebuah motor Ninja 150 CC berwarna hitam menggilap masuk perlahan, seakan tahu seluruh mata sedang memperhatikannya. Di atasnya duduk seseorang yang sangat mereka kenal—Bimo Mahendra
Sorak-sorai langsung meledak. Beberapa orang memberi jalan, lainnya menyambutnya. Motor itu berhenti tepat di tengah keramaian, dan Bang Hendra turun dengan gaya santainya.
Satu per satu, ia menjabat tangan anggota-anggota yang mendekat. Beberapa dipeluk erat, beberapa hanya ditampar pelan di kepala sambil tertawa. Ia adalah legenda bagi kelompok ini—pemimpin lama yang sekarang memilih hidup tenang, tapi tetap dihormati.
Saat matanya menangkap dua sosok di antara kerumunan, ia tersenyum lebar.
“Danu… Laksana…”
Laksana dan Danu menghampirinya.
“Bang” sapa mereka nyaris bersamaan.
“Gue seneng banget kalian dateng malam ini”
"Gue mau ketemu kalian sebelum gue balik Lampung" Suara Hendra dalam dan mantap “Gue tau kalian sekarang hidupnya beda. Gue bangga, bener-bener bangga. Tapi gue juga pengen kalian tau…”
Hendra menatap Laksana dan Danu satu per satu.
“Vain ini, tempat ini, saudara-saudara ini, selalu jadi rumah buat kalian. Kalian mungkin gak balik ke sini lagi, tapi kalau kalian jatuh, kalau kalian butuh, atau kalau dunia udah gak adil lagi sama kalian, gue ada. Kita semua ada”
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
Fiksi PenggemarKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
