Jam makan siang tiba. Kantor mulai sedikit lengang, sebagian karyawan beranjak dari meja kerja menuju kantin di lantai dasar. Anjani sedang merapikan dokumen di mejanya saat dua rekan kerjanya menghampiri.
“Jani, ikut ke kantin yuk,” ajak Sari sambil menggandeng tas kecilnya.
“Iya, yuk makan bareng,” tambah Vina, teman satu divisinya.
Anjani mengangguk "Oke deh. Bentar ya"
Anjani beserta kedua temannya turun ke lantai bawah.
Ketika melewati lobby, ia melihat sosok yang sudah sangat dikenalnya duduk sendirian di bangku dekat vending machine, dengan membawa map coklat dan botol air mineral setengah kosong ditangannya.
"Ehh kayaknya gue gak jadi ikut kalian deh" Kata Anjani
"Kenapa?"
"Gue masih harus ngurusin dokumennya bu Diana" Bohongnya
"Yaudah deh kalo gitu, kita duluan ya"
"Oke"
Setelah melihat teman-temannya pergi, Anjani melangkah menghampiri Laksana
Laksana sambil tersenyum berdiri dari duduknya
"Hai" Sapa Anjani
"Hai"
“kenapa gak langsung pulang?” tanya Anjani.
Laksana sedikit tersenyum “aku lagi mikir, enaknya mau makan siang di mana”
“Mie ayam di depan enak”
Laksana mengangguk “Yuk”
***
Beberapa menit kemudian, mereka duduk di salah satu warung kecil di seberang gedung kantor. Meja plastik dan kursi bulat sederhana, kipas angin berputar lambat di langit-langit, dan aroma bawang goreng memenuhi udara.
Dua mangkuk mie ayam hangat diletakkan di depan mereka.
“Gimana tadi interviewnya?” tanya Anjani sambil meniup kuah panas.
“Bu Diana baca portofolioku, katanya oke.”
“Terus?”
“Terus disuruh ke studio ketemu Yoga.”
Anjani berhenti mengaduk “Dia buka gak portofoliomu?”
“enggak. Dia bahkan nggak nyentuh map-nya. Cuma nanya aku bisa bawa alat berat atau nggak. Bisa nurut atau enggak”
Anjani menghela napas “Itu Yoga banget”
“Gak apa-apa. Aku udah tau resikonya kerja di industri ini, apalagi dari posisi paling bawah”
Anjani menatapnya, bangga sekaligus khawatir “Tapi kamu tetap diterima?”
“iya. Besok mulai kerja”
Senyum Anjani langsung mengembang “Selamat ya sayang. Aku seneng banget denger itu. Aku tahu kamu pasti bisa”
“makasih ya, ini semua juga berkat kamu” ucap Laksana kalem, menatap mie ayamnya yang mulai mendingin.
Mereka makan dalam diam sejenak, sebelum Anjani membuka suara lagi. Suaranya pelan, agak canggung.
“San”
“Hm?”
“Aku boleh minta sesuatu?”
Laksana mengangkat alis “Apa?”
“Nanti waktu kamu udah mulai kerja di sini, aku mau kita gak terlalu kelihatan deket ya?”
Laksana diam sesaat
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
