Minggu depan, Laksana dan Danu benar-benar pergi ke tempatnya Jordy.
Langit malam itu kelabu, berpendar oleh lampu jalan dan sorotan dari mobil-mobil yang terparkir rapi di pinggiran lintasan liar. Suara mesin berderu jadi musik latar yang akrab di telinga Laksana, mengingatkannya akan masa lalu yang dulu sudah ia tinggalkan.
Jordy, pemilik arena sekaligus orang lama di dunia balap liar—menyambut mereka dengan senyum lebar
“San! Danu! Wih, akhirnya kalian balik juga ke sini!” katanya sambil bersalaman dengan mereka bergantian.
Laksana hanya mengangguk kecil, sedangkan Danu langsung nyeletuk “Gimana sama taruhannya? aman bang?”
Jordy menyeringai “Aman. Taruhannya lumayan. Lo menang, lo bawa semua”
Laksana diam, menatap lintasan yang sudah penuh dengan para pembalap. Getaran kecil menjalari tangannya. Ia ragu.
Tapi Danu menepuk punggungnya “Lo bisa, San. Ini cuma balapan. Kayak dulu. Lo paling jago”
Laksana menarik napas. Ia menerima helm dari Danu, lalu naik ke atas motor milik sahabatnya itu. Mesin dinyalakan—derumannya masih buas, tapi tidak sempurna. Laksana tahu, motor ini butuh pemanasan, tapi waktu mereka tak banyak.
“Jangan lupa, jangan rem mendadak pas tikungan. Lo tahu penyakit motor gue,” kata Danu sambil menyeringai
“Lo dan motor lo sama-sama gak bisa dipercaya” gumam Laksana sambil mengenakan helm dan menutup visornya.
Teriakan Jordy terdengar, memanggil seluruh peserta ke garis start. Sorak-sorai penonton mulai menggila.
Brooom
Brooom
Laksana berdiri sejajar dengan lima pembalap lainnya. Gas ditarik perlahan, mesin meraung tinggi. Lintasan gelap hanya diterangi lampu jalan dan senter para penonton.
Tangan Jordy terangkat. Semua pembalap mencondongkan tubuh ke depan.
1
2
3
Tangan Jordy turun. Start dimulai.
Laksana langsung memacu gas. Motor melesat. Angin menampar wajahnya di balik helm. Suara knalpot memekakkan telinga, namun adrenalinnya justru naik.
Ia berada di posisi kedua. Tangan dan kakinya bekerja otomatis, tikungan pertama ia lalui mulus. Tapi begitu masuk tikungan kedua
Braaaak
mesin mendadak mati.
“Goblok!” serapahnya sambil menepi, buru-buru men-starter ulang motor
Penonton mulai gaduh.
Laksana menendang pedal starter karena double starternya tidak mau nyala. Sekali. Dua kali. Mesin nyala. Ia segera tancap gas, mengejar ketinggalan.
Lintasan lurus di depan. Ia menyalip satu, dua pembalap. Napasnya berat, tangan mengencang di stang. Tikungan terakhir ia ambil tanpa ragu, lalu memacu motor sekuat tenaga di lintasan akhir.
Dua motor nyaris sejajar.
Ia memiringkan badannya sedikit, mendorong motor sampai batasnya.
Dan…
Sorak-sorai meledak. Laksana menang tipis, hanya beda setengah roda dari lawan di sampingnya.
Danu yang menonton dari pinggir langsung melompat kegirangan dan memeluk orang random di sebelahnya sanking senangnya “YESSS!!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Laksana (3rd)
FanfictionKetika Impian dan masa depan membuat hubungan Laksana dan Anjani selalu dalam masalah. Akankah hubungan mereka tetap bertahan?
