Bagian 30

228 34 21
                                        

Ini chapter terakhir ya. Selamat membaca wkwkwk



Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang Anjani sadari. Tanpa terasa, kini koper-koper besar itu sudah terbuka di lantai kamarnya, pakaian dilipat rapi, berkas-berkas tertata di dalam map transparan. Undangan beasiswa dari Yonsei telah diterima, dan ia memutuskan untuk berangkat.

Keputusan itu tidak mudah. Tapi Anjani ingin memulai lagi dari nol. Tanpa beban. Tanpa sisa-sisa luka dari perasaannya pada Laksana yang tak kunjung sembuh. Ini jalannya untuk tumbuh, dan pergi adalah cara paling jujur untuk melepaskan.

Ia duduk di pinggir tempat tidur. Pandangannya menyapu setiap sudut kamar, mulai dari jendela kecil yang sering jadi tempatnya melihat kamar Laksana, sampai rak buku tempat ia menyimpan foto-foto lawas bersama teman-teman. Semuanya akan ia tinggalkan.

Pikirannya berkelana, seperti biasa, ke satu nama Laksana

Seketika napasnya terasa sesak.

“Apa kabar kamu sekarang San?” bisiknya dalam hati

Pintu kamar diketuk perlahan “Jani, udah selesai kemas-kemas barangnya?” tanya Mama sambil masuk membawa senyum yang lembut.

Anjani menoleh cepat dan bangkit berdiri “Sudah hampir semua siap, Ma. Aku cuma butuh istirahat sebentar”

Mama mengangguk “Oke. Nanti makan siang ya bareng. Papa udah lapar tuh” katanya dengan nada bercanda sebelum keluar dari kamar

Anjani menghela napas dan kembali duduk. Kali ini ia memejamkan mata, mencoba mengatur pikirannya. Tapi rasanya terlalu banyak yang masih belum selesai, walau dia telah memutuskan untuk pergi.

***

Selesai makan siang, Anjani mengajak Mama dan Papa menemaninya belanja beberapa keperluan terakhir. Mereka naik mobil keluarga. Papa duduk di kursi pengemudi, Mama di samping, dan Anjani di belakang.

Mobil melaju perlahan di tengah siang di wilayah komplek itu terasa begitu akrab, begitu dekat namun segera akan ia tinggalkan.

Pandangan Anjani tak sengaja tertumbuk pada rumah sederhana berwarna putih dengan pagar besi hitam. Rumah itu terlihat lebih sunyi dari biasanya. Tirainya tertutup, motornya pun tak terlihat di garasi. Rumah Laksana.

Anjani menunduk perlahan. Matanya terasa hangat.
Keputusan itu sudah bulat. Tapi bukan berarti hatinya tidak berat.

Ia tahu, jika menoleh ke belakang terlalu lama, dia bisa batal pergi.
Jadi ia memilih untuk diam, menatap keluar jendela, membiarkan rumah itu menghilang dari pandangan bersama dengan kenangan yang harus ia relakan.

Dan mobil terus melaju, meninggalkan semuanya perlahan.

***

Di sisi lain

Studio kecil milik Laksana itu kini terlihat nyaris sempurna. Perlengkapan foto sudah tersusun rapi, lampu-lampu studio sudah dipasang, dan tirai gelap di pojokan studio membuat suasana jadi lebih profesional. Dindingnya dilapisi kayu lapis bergaya industrial menciptakan kesan hangat dan artistik.

Laksana mengelap salah satu kamera utama yang dipajang, sementara Danu sibuk menyapu sisa-sisa debu yang masih tersisa di lantai.

“Gila ya, San. Dari yang cuma mimpi, sekarang jadi kenyataan. Besok Grand opening studio lu” kata Danu sambil menyenderkan sapu ke tembok dan menyeka keringat.

Laksana tersenyum kecil, menatap sekeliling “Iya, masih gak nyangka. Tanpa lu, mungkin ini gak akan kejadian”

“Tanpa gue, lu juga bisa. Tapi mungkin lebih lama dan pasti lebih berantakan,” Danu bercanda, membuat keduanya tertawa kecil

Laksana (3rd)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang