27. DIANTARA KITA BERTIGA

14 2 1
                                        

Happy Reading🌈

Malam itu kamar Nayra remang-remang, hanya diterangi lampu meja yang warnanya kuning hangat. Di luar jendela terdengar suara motor lewat sesekali, tapi pikirannya jauh dari semua itu.

Nayra duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk bantal guling. Ponselnya tergeletak di samping, layar menyala-menampilkan chat terakhir dari Reano.

Hanya satu kata.
"Iya."

Nayra menatap pesan itu lama, seolah berharap kata itu berubah jadi lebih panjang kalau ia menunggu cukup lama. Tapi sepertinya tidak?

Ia menghembuskan napas lirih. "Gue berharap apa sih?" gumamnya pelan.

Dulu, kalau dia chat, Reano selalu membalas cepat. Kadang malah over banget, mengirim foto random, voice note tidak penting, atau tiba-tiba nanyain udah makan apa belum.

Sekarang? Balas sekenanya, nanya seadanya. Kadang cuma baca, tapi tak dibalas.

Nayra mengusap rambutnya frustrasi. "Wajar gak sih dia kayak gitu. Secara, gue juga gitu waktu dichat mulu sama dia."

Ia menarik lututnya ke dada, memeluknya. Ada rasa malu yang tidak mau ia akui, rasa kangen.

Kangen saat Reano menanyakan dirinya tiap pagi. Kangen saat Reano mengejek dia tapi sebenarnya cuma mau perhatian. Kangen cara Reano ngomong mau menjemputnya. Seolah itu hal paling normal di dunia.

"Dia udah gak suka lagi, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar.

Pikirannya kembali ke hal tadi sore, waktu Reano mengantarkan dia pulang. Dulu, itu momen yang bikin laki-laki itu deg-degan salting parah. Tapi tadi?

Reano cuma, biasa saja. Tidak ada senyum kecilnya. Tidak ada tatapan lembut yang sering dia tangkap tanpa sengaja.

Hanya, Reano yang netral. Datar. Seolah dia cuma menunaikan kewajiban.

"Apa dia udah move on beneran? Kok laki-laki cepat banget yah, move on nya. Masa dia gak mau nunggu sih. Apa gue kelamaan yah sadarnya."

"Ck, kayaknya gue telat banget ya, Run," gumamnya, teringat kata-kata Arunika.

Ia memejamkan mata, mengambil ponsel. Membuka chat Reano. Jempolnya siap mengetik sesuatu, apa pun. Hanya untuk dapat sedikit perhatian lagi. Tapi akhirnya dia menghapus semua tulisan itu.

"Gak lah. Gue juga punya harga diri. Bisa malu tujuh turunan gue," Nayra sangat frustasi. "Gue harus bicara sama Runi besok, titik."

Dan malam itu, Nayra untuk pertama kalinya merasakan apa rasanya jadi orang yang terlambat suka ketika orang yang ia suka sudah berhenti menunggu.
.
.
.
.

Minggu pagi itu, angin pelan berhembus di area taman kota. Tempatnya lumayan rame, dengan beberapa anak kecil yang main sepatu roda di kejauhan. Arunika yang sudah lari dua putaran, duduk di bangku kayu sambil menghapus peluh keringat.

Tak lama, Nayra datang tergesa-gesa. Rambutnya sedikit acak, napasnya belum teratur.

"Lama banget baru sampai Nay," ujar Arunika sesaat setelah Nayra datang.

Nayra langsung duduk dan menarik napas panjang. "Gue lambat bangun, hehe."

"Makanya tumben kamu ngajak jogging minggu pagi gini. Pasti masih ngantuk," kata Arunika sambil minum sebotol air.

"Iya maaf. Yaudah ayok kita lari." Nayra bangkit lebih dulu bersiap untuk jogging.

Mereka pun memutari taman disana. Setelah dirasa cukup, mereka pun duduk sembari menikmati makan cemilan dari penjual kaki lima.

AREANO  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang