Too Late (3)

198 21 3
                                        

Senja mulai turun ketika Naya menutup etalase kaca toko rotinya. Tinggal beberapa menit sebelum tutup, hanya aroma roti manis yang tersisa memenuhi ruangan.

Naya mengenakan apron, rambutnya diikat asal. Ia hendak masuk ke dapur saat bel pintu berbunyi.

Kring...

Naya menoleh. Gerakannya terhenti.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan wajah letih, rambut berantakan, dan mata yang seperti kehilangan arah.

Juna.

Mantan suaminya.

Naya merasakan jantungnya turun ke perut. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang sudah membuncit, seolah melindungi bayinya.

"A-apa yang kamu lakukan di sini?" suara Naya mengeras, otomatis defensif.

Juna melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah takut salah gerak akan membuat Naya lari.

"Aku... cuma ingin bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
Naya memutar badan hendak masuk ke dapur.

"Naya, tolong." suara Juna pecah.

Tubuh Naya sontak membeku.

Juna jarang—sangat jarang—mengatakan kata tolong padanya.

Naya memutar badan dengan tatapan tajam. "Cepat. Aku mau tutup toko."

Juna mendekat dua langkah, tapi masih menjaga jarak. Tatapannya turun ke lantai, lalu ke wajah Naya.

"Aku minta maaf."

Naya tertawa kecil—tawa tanpa humor. "Untuk apa? Untuk menghancurkan hidupku? Atau untuk meragukan anakku?"

"Naya..." suara Juna serak. "Beberapa bulan ini... aku—aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran kamu terus. Aku kepikiran semua omonganku waktu itu."

"Mengapa? Karena kau tidak bahagia dengan Christine?" potong Naya pedas.

Juna terdiam. Kena tepat sasaran.

"...iya," akhirnya ia mengaku. Lirih. "Ternyata semua yang aku kira mau aku dapatkan... kosong. Aku salah, Nay."

Naya menahan napas, menatap pria itu seperti ia melihat orang asing yang tidak ia kenal.

Juna melanjutkan dengan suara pecah:

"Aku jahat sama kamu. Aku buta. Aku memperlakukan kamu... seolah kamu bukan istriku."

"Nggak perlu kamu sebutin. Aku ingat semuanya," Naya membalas dingin.

Juna menelan ludah, menunduk. "Aku datang bukan buat minta kita balikan."

Naya mengangkat dagunya skeptis.

"Aku cuma mau... minta maaf. Dari hati aku yang paling dalam."

Naya menahan diri agar tidak gemetar. Kata maaf yang ia tunggu bertahun-tahun... sekarang justru terasa tidak berarti.

"Aku terlambat, ya?" tanya Juna pelan, seperti tidak ingin mendengarnya tapi tahu itu kebenaran.

"Sudah sangat terlambat, Juna."

Naya melepas apron, membalikkan badan. "Tolong pergi. Aku tidak mau melihatmu lagi."

Tapi saat ia berjalan ke arah dapur, ia mendengar suara langkah Juna mendekat.

"Naya—"

"JANGAN DEKAT-DEKAT!" seru Naya, membalik cepat sambil memeluk perutnya. "Kalau kamu mendekat, aku panggil polisi!"

Their StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang