"Ayo kita bercerai!"
Bagai disambar petir, Naya terdiam membatu mendengar ucapan yang paling tidak pernah ia harapkan keluar dari bibir suami yang paling ia cintai.
"Ke... kenapa?"
Mata bulat itu kini dipenuhi genangan air mata yang siap jatuh. Naya merasakan rasa panas menjalar dari hati hingga ke kepalanya.
"Sejak awal hubungan kita hanyalah sebatas perjodohan antara kakekmu dan ayahku yang kolot itu. Sekarang mereka sudah mati. Kenapa harus mempertahankan pernikahan ini?" ucapan Juna sangat tajam, menyayat segala sesuatu yang ada dalam diri Naya.
"Tapi aku tulus mencintaimu Juna."
Juna mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya terlihat. Pria itu menatap Naya dengan nyalang. "Berhenti mengatakan omong kosong! Aku tidak sudi mendengarkan perkataan itu."
Air mata yang membendung di pelupuk mata Naya turun dengan deras. Wanita itu terisak.
"Juna, aku mohon jangan ceraikan aku! Aku... Aku sudah tidak punya siapa-siapa selain dirimu!" Naya menggenggam lengan Juna, memohon dengan derai air mata.
Juna enggan melihat ke arahnya. Pria itu menghempaskan genggaman Naya, seakan hal itu adalah hal yang menjijikan untuknya.
"Cukup, Naya! Kau sudah membuatku kehilangan cintaku selama 5 tahun. Sekarang Christine sudah kembali dan aku akan menikahinya!"
Naya kembali membatu. Nama itu adalah nama yang paling Naya takutkan. Nama yang dengan mudahnya merebut Juna yang begitu ia jaga. Nama yang selalu berada di hati Juna dan tak pernah bergeser sedikitpun meski Naya berjuang keras selama lima tahun.
Naya duduk terkulai di lantai, berusaha menerima sakit hati yang Juna berikan padanya. Kenangan tentang masa-masa dimana ia berusaha merebut hati suaminya itu kembali berputar di ingatannya seperti kaset rusak.
Tak pernah sekalipun, tak ada sedikitpun Juan membalas semua apa yang telah ia perjuangkan. Pria itu memasang tembok tinggi yang berduri, membuat Naya berdarah-darah hanya untuk memanjatnya. Namun ujung-ujungnya wanita itu gagal.
Naya mendongak, menatap Juan dengan pipi yang basah, "Juna, bagaimana jika aku hamil anakmu?"
Ia meluncurkan senjata satu-satunya, senjata terakhir yang ia harap dapat membuat Juna tidak meninggalkannya.
Juna menatap Naya dengan pandangan yang begitu kesal dan jijik. Pria itu teringat kembali dengan kejadian malam dimana ia tidur bersama Naya untuk pertama dan ia jamin akan menjadi yang terakhir kalinya.
"Jangan bermimpi aku akan luluh. Kau menjebakku untuk tidur denganmu! Lebih baik kau pergi sekarang dari sini! Kita akan bertemu di pengadilan!"
Juna melangkah pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan Naya yang sudah berderai air mata.
Naya merutuk dirinya. Kenapa ia merasa begitu sakit hati, padahal Juna sudah sering menyakitinya. Mengapa ia merasa tidak bisa melepaskan Juna padahal ia juga tak bisa memilikinya?
Naya kesal, kesal pada dirinya sendiri.
"Juna!" suara wanita yang terdengar manja itu membuat Naya menoleh. Di sana ada perempuan itu! Dia Christine! Wanita yang sangat mudah mengambil Juna darinya. Wanita yang memiliki kunci pintu hati Juna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Their Story
Fiksi PenggemarKumpulan Short Story Eunkook. Ada part bahasa non baku! Update sesuka hati author!
