Worthless(2)

53 13 3
                                        

Setelah bergulat cukup lama dengan pikirannya sendiri, Jungkook akhirnya mengambil satu keputusan yang sejak tadi terus berusaha ia hindari.

Ia akan menemui Jung Eunha.

Bukan untuk berterima kasih.

Bukan pula untuk meminta bantuan lain.

Ia hanya ingin mengakhiri perasaan sesak yang sejak beberapa hari terakhir terus menggerogoti harga dirinya.

Pagi itu, langkahnya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang angkuh di pusat kota Seoul. Dinding-dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari membuat bangunan itu tampak nyaris tanpa cela, seolah debu pun tidak memiliki keberanian untuk menempel di sana.

Di bagian paling atas, terpampang sebuah logo yang sudah begitu dikenal masyarakat Korea.

Jung Digital.

Perusahaan teknologi yang beberapa tahun terakhir hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat. Mesin pencari, aplikasi pembayaran, kecerdasan buatan, layanan kesehatan digital, hingga sistem transportasi, semuanya memiliki jejak perusahaan itu di dalamnya. Orang-orang mungkin tidak mengenal seluruh petinggi Jung Group, tetapi hampir semua orang menggunakan produk mereka setiap hari.

Dan perempuan yang hendak ia temui...

Memimpin perusahaan sebesar itu di usianya yang bahkan belum menginjak tiga puluh tahun.

Ironisnya, Jung Digital hanyalah satu dari puluhan anak perusahaan yang berada di bawah naungan Jung Group.

Jungkook menatap gedung itu cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari seberapa jauhnya jarak yang membentang di antara dirinya dan Jung Eunha.

Bukan hanya soal uang.

Bukan sekadar jabatan.

Melainkan dunia yang mereka pijak sejak lahir.

Perlahan ia melangkah memasuki lobi.

Interior marmer putih yang mengilap, langit-langit tinggi, serta lalu-lalang pegawai dengan pakaian formal membuat tempat itu terasa lebih seperti hotel berbintang daripada kantor. Setiap orang berjalan dengan ritme yang sama; cepat, tenang, dan penuh tujuan.

Jungkook mendekati meja resepsionis.

Ia memperkenalkan diri dengan sopan, lalu menyampaikan maksud kedatangannya.

Resepsionis itu tetap mempertahankan senyum profesionalnya sejak awal hingga akhir.

Namun jawabannya tidak berubah.

Ia tidak dapat bertemu dengan Direktur Jung tanpa jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

Kalimat itu disampaikan dengan sangat halus.

Begitu halus hingga Jungkook bahkan tidak bisa merasa marah.

Ia hanya mengangguk pelan.

Tentu saja.

Mengapa ia sempat berpikir segalanya akan semudah itu?

Perempuan yang ingin ia temui bukan lagi teman sekelas yang duduk beberapa bangku darinya.

Ia adalah seseorang yang waktunya bahkan harus dijadwalkan berminggu-minggu sebelumnya.

Sedangkan dirinya...

Hanyalah seorang karyawan biasa yang bahkan datang tanpa janji.

Perbedaan mereka ternyata tidak hanya terlihat dari saldo rekening.

Bahkan untuk saling bertatap muka pun, dunia telah menempatkan mereka di lantai yang berbeda.

Senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan akhirnya memudar.

Their StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang