Sarapan pagi itu berakhir dalam keheningan yang nyaris sempurna.
Beberapa pelayan mulai membereskan meja, sementara sekretaris yang sejak tadi menunggu di luar ruang makan masuk membawa setumpuk agenda kerja hari itu. Eunha membacanya sekilas sambil berjalan menuju ruang keluarga, diikuti Jungkook beberapa langkah di belakangnya.
Langkah perempuan itu tiba-tiba terhenti.
Tatapannya beralih kepada Jungkook, tepatnya pada setelan jas yang dikenakan pria itu sejak pagi.
Jas berwarna abu-abu tua itu tampak bersih dan disetrika dengan rapi. Tidak ada lipatan yang mengganggu pandangan. Jungkook jelas merawatnya dengan baik.
Namun kain yang telah memudar di beberapa bagian serta potongan model yang sudah ketinggalan zaman membuat jas itu tampak asing di tengah kemewahan rumah keluarga Jung.
Bukan jelek.
Hanya... tidak berada di tempat yang seharusnya.
Eunha terdiam beberapa saat.
Ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
Kemudian tanpa banyak bicara, ia membuka dompet kulit tipis yang selalu dibawanya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam pekat dan meletakkannya perlahan di atas meja.
Suara kartu itu beradu dengan permukaan kayu terdengar begitu pelan.
Namun entah mengapa, bunyinya terasa jauh lebih keras di telinga Jungkook.
"Ambil."
Jungkook mengalihkan pandangannya dari kartu itu menuju wajah Eunha.
"Beli beberapa setelan baru."
Nada suara Eunha tetap tenang, setenang seseorang yang sedang membicarakan hal biasa.
"Kau bekerja sebagai asisten pribadiku."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Orang akan melihatmu sebelum mereka melihatku."
Tatapannya tidak berubah.
"Aku ingin mereka tahu bahwa asisten Jung Eunha mampu menjaga penampilannya."
Tidak ada nada mengejek.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada sedikit pun maksud untuk melukai.
Kalimat itu hanyalah sebuah standar profesional yang keluar dari mulut seorang direktur perusahaan.
Namun...
Jungkook tetap merasakan sesuatu di dadanya perlahan mengencang.
Pandangannya kembali jatuh pada kartu hitam di atas meja.
Benda kecil itu tampak begitu ringan.
Tetapi terasa jauh lebih berat daripada map tagihan rumah sakit yang pernah ia genggam beberapa hari lalu.
Perlahan jemarinya menyentuh ujung lengan jas yang ia kenakan.
Tanpa sadar.
Jas itu adalah pakaian terbaik yang ia miliki.
Ia membelinya bertahun-tahun lalu menggunakan gaji dari beberapa pekerjaan paruh waktu yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Jas itu menemaninya menghadiri wawancara kerja, wisuda, hingga hari pertama ia bekerja.
Ia selalu menganggapnya cukup layak.
Setidaknya sampai pagi ini.
Sampai akhirnya ia berdiri di samping Jung Eunha.
KAMU SEDANG MEMBACA
Their Story
Fiksi PenggemarKumpulan Short Story Eunkook. Ada part bahasa non baku! Update sesuka hati author!
