Worthless(1)

78 15 1
                                        

Lorong rumah sakit itu tidak pernah benar-benar sepi, bahkan di jam-jam ketika dunia di luar tampak sedang menahan napas. Lampu putih yang terlalu terang membuat segala sesuatu terlihat lebih pucat dari seharusnya, seolah warna-warna kehidupan sengaja ditarik keluar dari dinding-dindingnya.

Jeon Jungkook duduk sendirian di bangku panjang yang keras, punggungnya sedikit membungkuk, seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu yang tak terlihat. Di tangannya, beberapa lembar kertas sudah kusut di ujung-ujungnya—tagihan rumah sakit, rincian biaya operasi, angka-angka yang tidak masuk akal jika disandingkan dengan hidupnya.

Ia sudah membacanya berkali-kali, seakan berharap angka-angka itu akan berubah jika ditatap cukup lama.

Tidak berubah.

Tentu saja tidak.

Jungkook menghela napas pelan. Bukan napas lega, melainkan napas seseorang yang mulai kehabisan ruang di dalam dirinya sendiri.

Adiknya masih di dalam sana, di balik pintu putih yang tidak pernah benar-benar memberikan jawaban pasti. Dokter sudah berbicara dengan suara yang hati-hati, seperti seseorang yang takut kata-katanya bisa meruntuhkan dunia kecil pasiennya.

"Harus segera dilakukan."

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk menampung seluruh kepanikan yang ia rasakan.

Jungkook menunduk, memijat pelipisnya perlahan. Kepalanya berdenyut pelan, bukan karena sakit, tetapi karena terlalu banyak hal yang tidak bisa ia selesaikan sekaligus. Usianya baru dua puluh lima, tetapi hidup sudah memberinya pekerjaan yang terasa seperti milik seseorang yang lebih tua, lebih kuat, atau lebih beruntung.

Ia tertawa kecil tanpa suara. Hanya di dalam pikirannya sendiri.

Beruntung.

Kata itu terdengar seperti lelucon yang tidak lucu.

Perlahan ia berdiri. Bangku itu mengeluarkan bunyi kecil saat ditinggalkan, seperti enggan melepas beban yang baru saja singgah. Jungkook merapikan mantel usangnya, lalu mulai melangkah.

Waktu tidak menunggu siapa pun.

Dan ia tidak punya kemewahan untuk berhenti.

Sambil berjalan di lorong itu, ia melipat lembaran kertas di tangannya dengan gerakan terbiasa—seolah sudah terlalu sering melakukan hal yang sama sampai tubuhnya menghafalnya sendiri. Niatnya sederhana: memasukkannya ke saku mantel, melanjutkan pekerjaan paruh waktunya, mencari cara lain untuk bertahan satu hari lagi.

Satu langkah lagi.

Mungkin satu hari lagi.

Atau satu keajaiban lagi, jika alam semesta sedang tidak terlalu sibuk mengabaikannya.

Namun dunia tidak pernah memberi jeda yang sopan.

Seseorang datang dari arah berlawanan.

Dan tabrakan kecil itu terjadi seperti sesuatu yang tidak penting dalam skala hidup manusia—tetapi cukup untuk mengubah arah beberapa detik ke depan.

Kertas-kertas itu terlepas dari genggamannya.

Berserakan di lantai putih rumah sakit yang terlalu bersih untuk menyimpan beban semacam itu.

Jungkook refleks menunduk, hampir bersamaan dengan orang di depannya.

Dan di saat itulah ia mencium aroma itu.

Parfum.

Bukan parfum murahan yang biasa ia temui di bus atau kantor kecil tempatnya bekerja paruh waktu. Ini berbeda. Halus, mahal, dan terlalu tenang—seolah dirancang bukan untuk menarik perhatian, tetapi untuk menegaskan bahwa pemiliknya tidak perlu berusaha keras untuk dikenali.

Their StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang