Repentance (2)

178 25 7
                                        

Naya membuka pintu rumah barunya pelan-pelan. Aroma cat tembok yang masih samar bercampur dengan wangi kayu dari lemari baru membuat hati Naya terasa sedikit tenang. Ia mengusap perutnya yang masih rata namun berisi harapan kecil di dalam sana.

"Mulai sekarang... hanya ada kita berdua," bisiknya lembut.

Di ruang tengah, masih ada beberapa kardus yang belum terbongkar. Naya menatapnya satu per satu, membayangkan bagaimana rumah ini nanti akan penuh dengan tawa kecil yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tawa yang mungkin bisa menutup luka-luka yang Juna tinggalkan.

Teleponnya bergetar. Dari tadi, notifikasi masuk tak pernah berhenti. Tentu saja, berita perceraian keluarga terpandang seperti mereka langsung menyebar cepat. Namun Naya mengabaikan semuanya. Ia tidak peduli lagi.

Yang ia inginkan hanya ketenangan.

***

Persidangan baru saja selesai. Orang-orang keluar satu per satu, tetapi Juna masih duduk di bangku panjang ruang sidang yang sudah mulai sepi.

Christine berkali-kali menarik lengannya.
"Juna! Ayo pulang! Kita harus rayakan ini!"

Namun Juna tak bergerak. Pandangannya kosong ke arah kursi yang seharusnya ditempati Naya.

"Kenapa dia tidak datang..." gumamnya, tak sadar suaranya terdengar.

Christine mendengus kesal. "Karena dia takut bertemu kita! Sudahlah, itu hal bagus kan? Artinya dia tidak akan menghalangi hubungan kita."

Tidak ada jawaban.

Dalam hati Juna, ada perasaan yang tidak ia mengerti. Bukan cinta — ia yakin itu. Tapi sesuatu yang lebih mirip... kehilangan? Kekosongan? Rasa bersalah?

Ia bahkan tidak yakin.

Pengacaranya mendekat.
"Selamat, Tuan Juna. Prosesnya cepat dan bersih. Tinggal menunggu surat resmi keluar."

Juna hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Saat mereka berjalan keluar, Juna sempat menoleh sekali lagi ke kursi kosong itu. Sebuah rasa ngilu menikam dadanya tanpa alasan yang jelas. Malam perpisahan mereka terus berputar di kepalanya.

Naya menangis.
Naya memohon.
Naya memegang lengannya.

Dan ia... mencampakkannya begitu saja.

***

Beberapa berlalu dengan Naya yang sibuk mengelola toko roti. Beruntung kehamilannya tidak rewel, dan semua baik-baik saja. Naya merasa lebuh tenang.

Pagi ini Naya membuka gerai toko roti peninggalan kakeknya. Aroma manis mentega dan adonan roti yang mengembang memenuhi ruangan. Ia sudah bekerja sejak subuh, menata roti-roti segar ke dalam etalase.

Meski hidupnya kini hanya berisi kerja dan kandungan yang semakin besar, Naya merasa tenang. Berbeda dari kehidupannya bersama Juna yang penuh luka, di tempat baru ini ia merasa... punya ruang untuk bernapas.

Bel pun berbunyi.
Pelanggan pertama hari itu masuk.

Tinggi. Rapi. Wangi.
Pria itu mengenakan kemeja putih dan coat coklat muda yang elegan.

"Pagi, Naya." Suara itu dalam, hangat, dan langsung membangunkan sesuatu di dalam dada Naya.

Naya tersenyum kecil. "Pagi, Pak Thadeo."

"Sudah kubilang panggil saja Thadeo." Ia tersenyum balik, menatap Naya dengan mata yang teduh tapi tegas. "Hari ini pesananku seperti biasa. Tapi..." ia melirik etalase, "kelihatannya kamu menambah menu baru."

"Ah, iya. Ini resep kakek... brown sugar custard pie."

Thadeo mengangguk pelan, bibirnya terangkat sedikit. "Kalau racikan tangan Naya, pasti laris."

Their StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang