29. Dapat Cuti Kerja

273 50 59
                                        

Waktu saat ini hampir mencapai jam 1 siang. Dan Yara baru saja menyelesaikan masakan nya.

Gadis itu dengan cekatan menata semua masakan di atas meja makan, tidak hanya tumis kangkung dan ayam goreng, telor mata sapi yang ia buat dengan bumbu balado, beserta tempe dan tahu goreng lengkap dengan sambal.

Yara mengetuk pintu di hadapan sekarang ia berada di depan ruang kerja Rion.

Tok. Tok. Tok.

"Makan siang nya udah siap" setelah mengatakan itu Yara kembali turun.

Rion dan Roy berjalan beriringan menuju dapur. Kedua nya terlihat seperti saudara kandung tinggi mereka juga tidak berbda jauh.

Roy menatap menu makanan yang beragam. "Tadi katanya masak tumis kangkung sama ayam goreng, kok ini lebih banyak"

Yara tersenyum malu dan menjawab. "Iya protein nya harus lengkap kan jadi aku tambahin yang lain"

"Makaih ya Ra"

Telinga dan pipi Yara sudah berbuah warna. " Iya mas sama-sama" melihat Roy seperti melihat pria impian nya, pria yang akan ia nikahi.

Rion bersumpah ingin rasa nya ia menghemaskan meja makan yang ada di hadapan nya, jika bukan karena keja keras Yara yang memasak ini semua dan menjadi image nya di depan gadis itu mungkin sudah ia lakukan sedari tadi.

Rion berhadapan dengan Yara sedangkan Roy pria itu duduk di samping Yara. Gadis itu mengambil piring di hadapan Rion dan mengambil lauk pauk beserta nasi tapi tidak menambahkan sambal karena Rion tidak suka pedas setelah selesai Yara menaruh kembali piring penuh di atas meja.

Roy sedari tadi hanya diam seperti menunggu giliran, tapi bukan itu yang ia maksud Roy hanya terkesima melihat pemandangan langkah di depan ini kali pertama ia melihat tuan nya berinteraksi dengan gadis dan seperti di urus oleh seorang istri.

Walaupun sebelum nya ia sudah melihat hal ini dengan sang tuan versi anak-anak.

Yara menanggapi keterdiaman Roy yang sepertinya menunggu giliran. Yara mengambil piring kosong milik Roy dan mulai mengisi nya dengan nasi.

"Suka pedes kan?"

Roy kalah cepat harus nya ia isi sendiri piring kosong milik nya jika seperti i

ni tuan nya akan marah. "Iya Ra" ucap nya dengan suara tertahan.

Tatapan menusuk milik Rion seperti laser yang akan melubangi wajah nya.

Dan Yara masih tidak menyadari ketegangan di antara kedua nya.

"Makasih Ra" Roy menatap piring penuh di hadapan nya.

Yara juga mengambil nasi dan lauk pauk untuknya sendiri dan mulai memakan nya. Tidak seperti Yara yang tenang dalam makan nya Roy merasakan hal yang berbeda tenggorokan nya terasa kering dan susah untuk menelan makanan sedang kan Rion merasa hawa panas di tubuh nya naik sampai ke otak.

***

Yara mencuci piring kotor dan alat masak yang tadi ia gunakan. Roy sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu sekarang di rumah ini hanya tersisa dirinya dan Rion.

Perasaan tidak nyaman dirinya masih melekat, bukan apa-apa bayangkan saja seorang anak manis dan lucu yang ia anggap sebagian adik atau keponakan nya sendiri berubah menjadi pria dewasa dalam semalam dan dirinya harus tetap berperilaku seperti tidak terjadi apa-apa semuanya harus tetap sama tidak boleh ada yang berubah.

Prilaku nya dan pekerjaan nya dalam mengurus pria dewasa itu harus sama seperti ia mengurus Rion kecil.

Yara menatap kosong kearah depan meski tangan nya tetap mengusap piring kotor dengan spon penuh sabun tapi itu hanya gerakan asal karena pikiran nya berkelana jauh. Dia merindukan Rion kecil entah suara atau wajah nya manis Yara benar-benar merindukan nya ia seperti kehilangan anak itu untuk selamanya. Berbulan-bulan ia habiskan bersama anak itu membuat rasa sayang dalam dirinya tumbuh, rasa sayang seorang kakak.

"Rara" suara Rion terdengar di samping nya.

Yara tersentak merasakan pundak nya di tepuk dan suara Rion yang memanggil nya.

"Iya kenapa?"

"Kamu melamun" Rion sudah memanggil Yara lebih dari lima kali tapi gadis itu tidak kunjung merespon nya hanya berdiri seperti patung.

"Maaf ya aku kurang fokus, kamu butuh apa? Mau cemilan? Atau mau aku buatin jus?" Yara merasa tidak enak hati.

Rion menggeleng kan kepala nya. "Kaya nya kamu butuh istirahat, aku ada urusan cukup lama mulai besok kamu cuti nanti aku kabarin kapan waktu nya kamu ke sini lagi"

Kalimat panjang dari Rion masuk dengan mudah ke telinga Yara tapi otak nya sedikit lama merespon.

"Ini gue di pecat?"  Yara bertanya-tanya di dalam hati nya maksud dari perkataan Rion.

"Waktu di suruh balik nya juga gak nentu, beneran di pecat ini?"

Bukan nya menangapi perkataan Rion, Yara malah sibuk dengan pikiran nya sendiri.

"Rara" Rion mengguncang bahu gadis itu.

"Eh.. iya" Yara menatap wajah Rion yang di hadapan nya, terdapat kerutan tipis di dahi pria itu.

"Iya aku ngerti, besok aku gak kesini lagi"

"Makan malam mau request apa?" Tanya Yara, dia mencoba mengalihkan topik.

Rion menghela nafasnya, respon dari Yara membuatnya sedikit kecewa. "Aku mau udang"

"Mau dimasak kaya apa?"

"Apa aja" setelah mengatakan itu Rion pergi meninggalkan gadis itu sendiri di dapur.

Yara menahan senyum yang sedari tadi ia tahan, ada perasan gembira yang teramat sangat. Sebentar lagi ia akan berhenti dari pekerjaan ini.

Meskipun harus kembali mencari kerja dengan mengelilingi kota, Yara akan melakukan nya dari pada harus mengurus bayi besar di rumah ini.

Sisa piring kotor ia kerjakan dengan hati yang gembira, senandung kecil mengiringi kegiatan nya.

Malam ini ia akan pulang dengan pundak yang ringan.

***

Rion menyantap makan malam nya dengan seorang gadis yang duduk di sebrang nya, ada yang berbeda dari gadis ini. Rion perhatikan selama beberapa hari belakangan ini lebih tepat nya saat ia kembali normal Yara terlihat lebih banyak diam tidak seperti dulu.

Dan malam ini gadis itu terlihat sedikit berbeda, terlihat dari raut wajah nya yang menampakkan kegembiraan.

Otak pintar milik nya berusaha berpikir arti dari ekspresi wajah Yara. Bahagia? Mungkin karena dapat cuti kerja. Pikir Rion.

"Bisa aja cuti kerja nya dipakai untuk kencan bersama Aska kan" Rion membatin dengan prasangka yang ada di otak nya.

"Gak-Gak mungkin, positif thinking. Yara pasti pakai liburan nya buat hal yang bermanfaat" Rion menarik nafas nya dalam dan menghembuskan nya kalimat ini cukup untuk menenangkan dirinya.

"Malam ini aku tidur sendiri, kamu bisa langsung pulang" ucap Rion, pria itu pergi meninggalkan Yara sendiri di ruang makan.

Yara menganggukan kepala nya, melihat punggung Rion yang semakin menjauh gadis itu merasa senang. "Siapa lagi yang mau nidurin dia" ucap nya dengan nada suara kecil.

Di perjalanan pulang Yara bersenandung kecil gadis itu menghirup udara segar setelah samlai depan gerbang. "Hahh..."

Rasanya malam ini lebih sejuk dari malam-malam sebelum nya, Yara memilih untuk berjalan sampai ujung perumahan ini dan pulang dengan menaiki bus.


Maaf kan typo yang bersebaran ya
Jangan lupa untuk komen dan vote😉👉

See youuu

Coupranghae🍒

26.02.26

CrazyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang