"Assalamualaikum" Yara membuka pintu kos nya dan masuk ke dalam.
Anna menatap aneh ke arah teman sekamar nya, beberapa hari yang lalu gadis itu selalu pulang dengan wajah di tekuk, tapi sekarang dari suara nya saja sudah berbeda, lebih ceria.
"Waalaikumsalam, kenapa lo?" Tanya Anna, tangan gadis itu sibuk melipat baju bersih milik nya.
Yara tersenyum manis berjalan ke arah Anna dan memeluk nya. "Gue di pecat"
Anna terkejut reflek melepaskan pelukan Yara. "Kok bisa? Terus kenapa lo keliatan seneng gitu, padahal abis di pecat"
"Hmm.. adalah pokok nya"
"Ra gue serius, lo kenapa bisa di pecat?" Anna menatap Yara dengan tatapan tidak percaya tapi gadis itu mengabaikan nya dengan berbaring terlentang.
Aneh satu kata di otak Anna saat melihat Yara, gadis itu baru saja di pecat tapi terlihat baik-baik saja bahkan terkesan bahagia padahal beberapa bulan yang lalu dia mati-matian mencari kerja.
"Mandi sana lo" Anna bangkit membawa setumpuk baju untuk di taruh kedalam lemari milik nya. Seraya berjalan Anna menendang kaki Yara yang menggantung.
"Ayok cari makan di luar, abis gue mandi" Yara bangkit dari posisi berbaring nya.
"Heh! Lo tuh abis di pecat harus nya hemat-hemat, malah ngajak makan di luar"
"Duit gue masih banyak Na, tenang aja" Yara meletakan tas nya di atas ranjang berjalan kearah kamar mandi dengan handuk di kepala nya.
Melihat kelakuan Yara, Anna hanya bisa menggeleng kan kepalanya tidak urung ia ikut bersiap-siap.
***
Saat ini Anna dan Yara sudah berada di kedai soto yang tidak jauh dari kos mereka, 2 mangkuk soto beserta 2 piring nasi sudah tersaji di hadapan kedua gadis itu
"Ra lo gak mau kasih tau gue alasan lo di pecat?"
Yara yang saat ini sedang lahap memakan makanan di depan nya tidak langsung menjawab. Padahal sebelum ia pulang dirinya sudah makan malam bersama Rion tapi entah kenapa malam ini ia merasa lapar.
"Anak dari bos gue pindah Na, keluar negeri jadi ya udah gue gak ada kerjaan lagi" alasan yang paling masuk akal untuk saat ini, sampai kapan pun Yara tidak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya pada siapa pun termasuk Anna, bukan karena tidak percaya hanya saja kejadian itu sulit di percaya.
Anna menganggukan paham. "Terus kenapa lo keliatan seneng banget? Bukan nya lo sayang sama tuh anak, harus nya sedih dong"
Gerakan Yara yang sedang menyuap makanan terhenti, yang di katakan Anna benar harus nya ia terlihat sedih bukan sebaliknya tapi sudah terlanjur kebahagiaan yang ia rasakan tidak bisa tertahan.
"Ehm.. gue sih sedih Na, cuma ya kalo di pikir-pikir gaji segede itu buat jagain satu anak jujur itu enak banget gue ngerasa untung, tapi di lain sisi gue juga mau kerja di tempat lain kaya lo gitu yang ketemu banyak orang, gue lebih ke bosen aja sih karena harus di rumah terus" Bohong, Yara suka berada di rumah Rion seharian karena ia bisa tidur siang dan makan banyak makanan yang ia ingin kan.
"Terus abis ini lo mau ngelamar kerja dimana?"
"Gak tau juga sih apa aja lah yang penting kerja"
Kedua nya melanjutkan makan malam mereka, setelah selesai makan kedua gadis itu tidak langsung kembali mereka memelih singgah di taman dengan memakan es krim.
***
Pagi ini Rion berangkat ke tempat kerja nya sebelum matahari terbit karena butuh waktu 5 jam untuk sampai kesana. Jauh sangat jauh di tengah hutan dan letak nya tertanam di bawah tanah, tidak akan ada yang menyadari tempat itu ada di antara bukit dan jalan menanjak.
Rion menatap ponsel nya yang menampilkan wajah seorang gadis, menyusahkan sungguh baru beberapa jam tapi ia sudah merindukan gadis ini. Dengan kasar ia mengusap wajah nya, ia harus menahan diri untuk tidak bertemu dalam kurun waktu yang belum di tentukan.
Mobil nya berguncang lebih kencang dari sebelum nya, menandakan ia sudah memasuki lahan pribadi nya. Bebatuan dan jalan yang kasar tidak ada jalan setapak yang menjadi petunjuk arah seakan-akan tidak ada apapun di ujung sana.
Mobil menurun memasuki area gua gelap yang terlihat seperti gua mati, tidak ada yang tau jika di dalam nya adalah jalan menuju Laboratorium besar yang berisikan berbagai jenis alat canggih untuk melakukan penelitian.
Mobil itu seperti di telan dalam kegelapan gua dan menghilang begitu saja seolah-olah tidak pernah masuk kesana.
Rion turun dari mobil nya, mantel hitam panjang membalut tubuh tegap nya dengan langkah lebar Rion melangkah masuk kedalam tidak ada penyembutan seperti yang sudah-sudah, tidak ada yang tahu kedatangan nya.
Lift membawa nya jauh ke bawah tanah tempat aman untuk bersembunyi dari dunia luar yang di anggap akan menjadi penghalang.
Dentuman sepatu milik nya yang beradu pada lantai beton menggema di sepanjang koridor.
Pintu terbuka semua orang yang berada di sana menahan nafas saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Pemimpin mereka telah kembali, kembali sepenuh nya tidak ada lagi wujud anak-anak dengan aura menekan sekarang semua nya akan kembali seperi semula penuh tekanan, tanpa pengampunan dan penuh pengawasan.
Hanya terdengar suara alat-alat yang ada di dalam ruangan ini mereka semua terkejut dengan kedatangan tidak terduga. Sampai akhir nya kepala Laboratorium memebarnikan diri untuk membuka suara.
"Selamat datang kembali Tuan" suara nya nampak sedikit bergetar.
Tidak ada yang menyangka jika pemimpin mereka akan kembali kebentuk sempurna tanpa cacat sedikit pun. Selema percobaan tidak ada yang selamat dalam menjalani perubahan fisik mereka semua mati entah karena semua saraf putus atau otak yang meledak.
Tapi pria yang di hadapan mereka tidak mengalami hal itu. Dia baik-baik saja setelah mengalamu perubahan gila sebanyak dua kali dengan tubuh nya. Bahkan para ilmuwan sudah berdiskusi mengenai perubahan pertama yang di alami pemimpin mereka, berfikir mungkin pemimpin mereka tidak pernah kembali dan menjalani hidup untuk kedua kali nya.
Selayaknya anak kecil yang nanti akan bertumbuh kembang.
"Sampai mana perkembangan kapsul A21?" Pertanyaan itu keluar dengan tegas dari mulut Rion.
"S-setelah kepergian tuan, hanya meningkat 3% dari angkah sebelum nya" pria tua itu berusaha menenangkan degup jantung dan tremor di tangan nya akibat rasa takut.
Rion berdiri diam menatap lembaran kertas di tangan nya yang menampilkan setiap hasil tes.
"Lambat" satu kata itu keluar begitu saja.
Hening tidak ada yang berani membantah, tangan semua mereka terasa dingin dan keringat sudah membanjiri tubuh mereka.
Kaki nya kembali melangkah masuk lebih dalam ke Laboratorium ini lebih tepat nya menuju ruangan kerja.
Setelah kepergian Rion semua orang yang disana baru bisabernafas dengan baik. Mereka semua memandang satu sama lain seperti memastikan keterkejutan yang sama.
Maaf kan typo yang bersebaran ya
Jangan lupa untuk komen dan vote😉👉
See youuu
Coupranghae🍒
27.02.26
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy
FantasiaSkayara Abhista seorang gadis yang baru saja lulus sekolah menengah Atas sebenarnya ia lulus 3 bulan lalu dan sekarang tengah mencari pekerjaan. Sudah berusaha mencari kemana-mana tetapi diri nya belum mendapatkan pekerjaan. Sahabat nya yang bernam...
