30. Sadar

117 6 0
                                        

Sudah lebih empat jam aku duduk di kursi sembari kerja dan sekarang jam sudah menunjukkan angka 12 lewat. Aku mulai merenggangkan tubuh. Kulihat Mbak Tari dan Riska masih sibuk dengan kerjaan mereka dan seperti tak ada niat untuk berhenti sejenak.

Sebenarnya aku masih kesal dengan kejadian tadi pagi dan malas mau turun dan melewati karyawan gila gosip di Paradise, tetapi karena perutku lebih penting untuk diisi, aku memilih mengabaikan kejadian itu. Toh, nanti juga akan reda sendiri. Yah, biarpun aku tidak tahu kapan tepatnya itu.

"Kita mau makan di mana, nih?" tanyaku dengan suara yang agak keras sampai Mbak Tari terperanjak karenanya. Sementara Riska masih asik dengan dunianya dan tidak terganggu sedikit pun dengan suaraku barusan. Kemungkinan dia menggunakan headset.

"Ar, ya ampun suara lo sudah ngalahin toa masjid." Mbak Tari bersungut tetapi melihat jam tangannya. Setelah itu ia mulai membereskan barang-barangnya di atas meja. "Lagian, heran gue, lo masih semangat setelah kejadian tadi pagi, ya?" lanjutnya sembari geleng-geleng kepala.

"Jadi, gue harus kayak gimana, Mbak? Sedih? Atau samperin karyawan penggosip itu terus ngamuk? Malas banget deh. Mending gue urusi perut. Lebih penting."

Mbak Tari tersenyum lalu memberikan jempol padaku. "Bagoos. Ini yang gue suka dari lo. Tapi, jujur gue pengen banget samperin si biang gosip terus sumpal mulutnya pake sempak bekas."

Aku tertawa, "Sama, Mbak. Betewe, itu Riska keenakan kerja apa gimana?"

Mbak Tari berpaling pada Riska. "Ris lo gak mau makan?"

Riska tetap bergeming. Pandangannya masih fokus pada layar PC di depannya.

Aku menyengir, "Gue ada ide." kataku kemudian melemparkan kertas bekas yang sudah kuremas ke Riska. Tetapi, karena tidak mempan, aku menjahilinya dengan mengirimkan rekaman suara desahan suara bas lelaki dan gambar laki-laki shirtless yang lagi berpose seksi.

"Anjim lo ...."

Aku tertawa terbahak melihat reaksi Riska yang melepas headset-nya dan melototiku.

"Untung gak sampe otak. Tanggung lo kalau sampe gue horny siang-siang."

"Mulut lo Ris, ya ampun." Mbak Tari mengeleng, tetapi sedetik kemudian mendatangi meja Riska dan menyengir. "Mana gue juga mau lihat yang tadi hampir buat lo horny."

Aku menggeleng lalu terkekeh, "Emang dasar otak mesum lo, Mbak."

Mbak Tari tidak menyahut dan hanya angkat bahu seraya fokus pada HP Riska yang sedang disodorkan Riska padanya.

"Serius, Ris? Gini doang lo mau horny? Gimana kalau lo lihat calon gebetan gue yang shirtless di tempat tidur nanti?"

Aku dan Riska reflek menatap Mbak Tari. Dan, rasanya aku tahu siapa yang ia maksud. Kali ini bukan hanya sekedar rasa curiga, tapi kenyataannya memang seperti itu. "Siapa? Fandy, Mbak?" tanyaku.

Mbak Tari mengangguk. Senyumnya terbit. Tapi, aku jadi tidak enak dengannya, karena aku seperti sedang berselingkuh dengan Fandy, meski kenyataannya tidak. Ini bukan hanya perasaan ge er-ku saja. Kenyataannya Fandy memang tidak menyembunyikan kalau ia sedang berusaha dekat. Memangnya ada laki-laki yang cuma ingin dekat sebagai teman tetap berusaha mendekati seorang perempuan meski beberapa kali ditolak ajakannya?

"Yang lo maksud Fandy yang pernah makan bareng Aria bukan sih, Mbak?" Riska memastikan. Aku dan Mbak Tari mengangguk.

"Yaps." kata Mbak Tari.

"Yang ganteng kayak idol kpop itu?"

"Kalau menurut gue dia lebih mirip Criss Evans, sih." Mbak Tari menyanggah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 14 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RESTARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang