Sudah di up, yey.
Hahay, tadi sempat gak bisa up karena karyaku
Hilang semua, jadi gak bisa di up. Tapi sekarang sudah muncul 😁.
Btw, silahkan tinggalkan jejak yah.
Bintangnya jangan lupa 😆
Baiklah.
Cek it out 😄😄
...
Tarik nafas
Hembuskan
Tarik nafas lagi
Hembuskan
Tarik-
"Ada apa? Sesak nafas?"
Aku menggeleng. Sean masih fokus pada jalanan di depan tanpa repot melirikku sama sekali.
Sejak kami meninggalkan rumahku, laki-laki itu belum sekali pun berpaling padaku. Bahkan melirikku pun tidak. Padahal sudah berlaku manis begitu tadi dan sekarang dia menjadi cuek. Idih, menyebalkan sekali.
Tapi,
Sean ganteng banget. Apalagi kalau lagi serius begitu. Kalau gini, kan aku gak bisa fokus ke yang lain selain melihat wajah gantengnya.
"Atau kamu gugup karena hanya berdua dengan saya?"
Aku mendengus secara refleks tanpa mau repot peduli jika ia akan merasa tersinggung.
"Gak kok. Saya biasa saja tuh sama bapak. Saya cuma sedang olahraga nafas. Saya gak mau kalau sampai di sana asmaku kambuh." balasku. Ponsel di tanganku kujadikan sebagai pelarian karena rasa gugup yang sedari tadi kurasa tak kunjung mereda. Ini semua gara-gara Gilang yang sudah menempatkanku pada situasi seperti ini.
"Bener nih?"
Aku mengangguk, meski tanganku semakin mengeratkan peganganku pada ponsel. Takut ketahuan.
Mobil berhenti tepat ketika trafic light berubah merah. Sean melirikku lalu kemudian berpaling seutuhnya padaku beberpaa detik kemudian. Ia menatapku intens. Matanya yang tajam membuat badanku semakin gugup.
"Ar..."
"I...iya, Pak."
Sumpah, kondisi ini benar-benar membuatku lebih gugup. Aku ingin menunduk karena tak tahan menatap matanya, sayangnya jika kulakukan itu, aku akan disangka seperti salah satu wanita yang mengagumi (meski sebenarnya itu adalah kebenaran) dan ia akan berada di atas angin.
Tidak!
"Saya baru sadar, ada yang berubah dari kamu."
Hm?
Aku menyerngit, mengingat-ingat apa yang sudah kuubah dan ketika sudah mengingatnya, refleks tanganku menyibak rambut di bagian telinga. Yah, baru kali ini aku mengurai rambutku, karena biasanya kalau ke kantor aku akan menguncirnya. Ini juga kumaksudkan untuk menarik perhatian lelaki yang ada di sana. Barangkali ada yang terpesona dengan sosokku ini. Hehehe...
"Dan kamu terlihat menarik dengan anting itu."
Eh?
Ini yang salah telingaku atau memang barusan dia memujiku? Tumben sekali, ada kata-kata bagus yang keluar dari mulutnya. Biasanya juga, kalau bukan perintah, penolakan, atau singgungan secara halus yang membuatku ingin menampar mulut manisnya itu dengan ular.
Aku berdehem untuk menyamarkan rasa gugup yang kurasa semakin bertambah seiring dengan tatapan Sean yang terus menghunus ke arahku. Dia kenapa sih? Bikin orang cenat-cenut saja.
"Tumben loh, pak memuji." kening Sean menyerngit dan buru-buru aku menambahkan beberapa kata, "Tapi, terima kasih, untuk pujiannya." Seraya tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
RESTART
Romance"Sleeping Beauty seri 2" Label menjadi pengangguran abadi akhirnya tidak lagi disandang oleh Aria setelah ia lolos dan bekerja di perusahaan besar. Tapi, kalau bosnya seperti Sean yang seenaknya sendiri, tukang buli, dan pemaksa sepertinya Aria haru...
