7● Teman Lama

3.3K 302 22
                                    

Dennis Oh as Basuki

...

Tarik nafas

Hembuskan

Tarik

Hembuskan

Ta-

"Permisi!"

Eh!

"Bisa geser sedikit? Saya mau lewat"

Aku masih terpaku di tempat dan tak menggubris permintaan laki-laki di hadapanku itu. Waktu seolah berhenti di sekitarku, bahkan suara-suara dari orang-orang yang berada di sekitarku seperti suara sayup-sayup dari angin yang membelai pohon. Pikiranku melayang, entah kemana. Yang jelas, wajah laki-laki di hadapanku ini sudah mengalihkan semua atensiku.

Dengan matanya yang coklat bening, seperti madu yang sudah diolah, hidung yang mancung dan mungkin semut pun bisa pakai buat seluncuran lantaran mancung dan lurus, bibir tipis yang merah alami, mungkin pengaruh tak pernah menyentuh rokok, juga rambut hitamnya yang membingkai rapi kepalanya. Laki-laki ini benar-benar tampan dan termasuk ke dalam tipe ideal yang dicari oleh kaumku.

Dia seperti model pakaian. Atau memang seorang model? Jika dilihat dari bentuk proporsional dan lekukan otot-otot di balik baju kaosnya. 'Pasti padat dan enak dibuat sandaran.'

"Ehm...! Nona?"

"Neng?"

"Hallooooo.....? Apa kesambet kali yah?"

"Ha...."

"Eh?! So... so... sorry? Aduh, apasih yang gue pikirin. Maaf, silahkan lewat." kataku sambil menyingkir dan membiarkan dia lewat. Angin berhembus dan menerbangkan helai-helai daun yang jatuh dari pohonnya. Seperti adegan di anime romance, namun laki-lak itui tak lantas lewat, melainkan masih memperhatikan aku.

Sementara aku yang ditatap seperti itu mulai was-was. Mengecek bagian tubuh satu persatu, mungkin ada yang salah hingga laki-laki itu memperhatikanku. Mulai dari wajah, barangkali masih ada belek, tapi nihil. Aku tidak menemukan apa-apa, meski mataku sudah kugosok. Bagian rambut juga sudah kuperiksa, mungkin ada ketombe atau tiba-tiba ada kutu yang lewat dan mengalihkan perhatian orang di depanku ini, tetapi tetap tidak ada juga. Lalu apa?

"Mas...?" panggilku takut-takut. Mulai berpikir, mungkin dia kerasukan roh atau tiba-tiba penyakitnya kambuh. Atau sesuatu yang tidak kuketahui.

"Kamu Aria, kan?"

Eh, buset. Untung aku masih punya jantung kuat, kalau tidak mungkin aku sudah jatuh pingsan dipelukannya- eh, ini sih namanya berharap, hahaha... lagipula, apa-apaan orang ini? Orang lagi was-was karena khawatir, dianya malah berteriak. Bikin kaget saja.

Tapi, kok dia tahu namaku?

"Iya, kok tau sih Mas nama saya?"

"Ya iyalah tahu, orang kita pernah sekelas waktu SMP, tiga tahun malah."

Aku menyerngit dalam, berusaha menggali ingatanku ketika SMP. Mencari-cari wajah yang sekiranya mirip dengan laki-laki di hadapanku ini. Hingga ada satu wajah yang sedikit mirip dengan laki-laki ini.

"Basuki? Kamu Basuki?"

Dia mengangguk. "Iya. Bagaimana kabar?" tanyanya basa basi.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki yang menjadi idolaku saat masih SMP itu banyak berubah. Dia memang tetap ganteng, namun sekarang dia seratus kali lipat lebih ganteng dari yang dulu. Laki-laki kurus yang dulu selalu baik itu kini dengan tubuh kekar yang dibalut oleh otot-ototnya bisa menjadi penopang. Dia terlihat kuat, tidak lagi seperti pahlawan kesiangan yang sok kuat.

RESTARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang