29• Kesal

3.4K 233 40
                                        


Jam sudah menunjukkam angka lima sore ketika pekerjaanku sudah rampung. Aku meregangkan tubuh lalu membereskan perlengkapan.

Kurang lebih lima menit kemudian ponselku berbunyi. Di layar sudah ada pesan dari Fandy. Ia bilang sudah sampai dan sedang menungguku di tempat kami janjian. Aku segera membalasnya dan berlalu menuju toilet untuk memperbaiki penampilan dan riasan wajah setelah pamit pada Mbak Tari dan Riska.

Setelah yakin dengan penampilanku, aku segera berlalu.

Sepanjang jalan, aku tahu kalau para penghuni Paradise selalu memperhatikanku. Entah dari bagian apa saja mereka. Dan tidak sedikit juga yang secara terang-terangan menyindirku. Yah, meskipun mereka terdiam ketika aku memberikan pelolotan sadis. Tetapi, yang membuatku tak nyaman adalah pandangan beberapa karyawan yang melihatku seolah aku adalah perempuan penggoda yang jalan di atas panggung untuk dilelang nantinya. Meski aku mendelik dengan tatapan tajam sampai rasanya bola mata mau keluar, mereka malah tersenyum sebagai balasan. Senyum yang membuatku bergidik, macam om-om yang lagi horny. Ngeri.

Mau marah tapi takut dibuat malu. Sebentar aku malah dianggap sebagai perempuan murahan betulan. Jadi, daripada nanti terlibat masalah, aku mempercepat langkah sampai ke kafe tempat aku dan Fandy janjian. Setidaknya wajah Fandy yang ganteng bisa sedikit mengalihkan rasa dongkolku.

Tiba di kafe, dari pintu, aku sudah tahu lelaki itu duduk di mana. Tak perlu mencari satu per satu tempat duduk di dalam kafe, cukup melihat pandangan kagum beberapa perempuan yang mengarah pada satu objek, bisa dipastikan kalau itu adalah Fandy. Yah, karena mayoritas pelanggan kafe ini mukanya rada standar, jadi tiba pengunjung yang mukanya enak dilihat pasti langsung ditahu.

Lelaki itu memakai kemeja biru navi dengan lengan baju yang sudah tergulung sampai siku. Menunduk ke arah ponsel di tangannya. Tidak ada makanan atau minuman yang tersaji di atas meja, hanya ada tempat tissue dan nomor meja, mungkin dia belum memesan.

Aku mendekat, lalu duduk di depannya.

"Gak lama kan, Kak?"

Fandy mendongak lalu tersenyum. Senyum yang bisa mengalihkan pandangan kaum hawa. Dan aku harus menahan diri karenanya.

Ia kemudian menggeleng, "Aku juga baru tiba."

Lalu kami terlibat obrolan receh. Memesan makanan dan lanjut lagi mengobrol setelah makan.

...

Waktu awal-awal ketemu kembali dengan Fandy setelah lama tak bertemu, aku sempat terpesona bahkan memimpikan mengubah keturunan lewat dirinya. Bagaimana tidak, baik penampilan, pembawaan, dan apa yang ada di dirinya sekarang adalah impian kaum perempuan. Pesona lelaki itu layaknya afrodisiaknya kaum hawa. Sangat susah diabaikan apalagi ditolak.

Namun sekarang, aku tak lagi merasakan hal itu. Di mataku, Fandy seperti teman-teman priaku yang lain. Pesonanya seolah luntur dan menjadi lelaki biasa namun dengan penampilan di atas rata-rata.

Termasuk ketika kami berdua saat ini. Aku pikir, aku akan kembali terpesona pada sosoknya. Nyatanya tidak. Semuanya terasa datar-datar saja. Tidak ada perasaan berdebar atau menggebu saat jalan dengan dirinya. Makan malam di kafe berdua, nonton film romantis, bahkan obrolan-obrolan kecil yang ia ciptakan tak mampu membuat hatiku tergerak. Yah, kecuali ketika ia tersenyum. Tak ada yang tak terpesona dengan senyumannya itu.

"Minggu depan kamu ada acara?"

Aku berpaling pada Fandhy karena suara lembut laki-laki itu menarik diriku ke kenyataan. "Kenapa?"

"Aku mau ajak kamu ke nikahan adik sepupuku."

Aku melirik kantong kertas yang ada di kursi sisi kirinya. Ah, rupanya hadiah yang tadi kami beli itu untuk sepupunya yang mau nikah. Dan untungnya aku tidak kepedean.

RESTARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang