•
•
masih ada yang baca kah? hehe
•
•
~Happy reading~
Sudah sebulan Javiel menjalani hari-harinya yang damai di kediaman Damon, sejak pria itu memindahkannya ke tempat ini. Damon selalu memberi perhatian penuh padanya, namun entah mengapa Javiel tetap merasa ada yang kurang—seperti ada ruang hampa atau ketenangan palsu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia sendiri tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dirasakannya.
Berdiri di atas balkon, dari tempat itu ia bisa melihat sebuah rumah kecil di seberang taman, diterangi lampu kuning yang hangat. Rasa penasarannya terhadap rumah itu tidak pernah hilang. Sesekali ia bertanya pada Damon tentang apa yang ada di dalamnya, tetapi Damon selalu mengabaikan pertanyaan itu, membuat Javiel tak pernah mendapatkan jawaban yang mampu memuaskan rasa ingin tahunya.
Ia melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Javiel masih menunggu Damon, yang pergi untuk membereskan kekacauan akibat pertarungan terakhir—yang, sayangnya, terjadi karena dirinya. Ia ingin membantu, tetapi Damon tidak pernah mengizinkannya terlibat.
Menghela napas pelan, Javiel akhirnya memutuskan untuk tidur duluan. Ia tidak tahu kapan Damon akan kembali, jadi lebih baik ia beristirahat lebih awal. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, rasa kantuk mulai menyergap, dan perlahan ia pun terlelap.
________
“Kak Viel, kenapa aku tidak mirip dengan Ayah? Kau terlihat seperti Ayah, tapi aku malah jelek seperti paman itu!”
“Wajar saja. Paman itu masih saudara Ayah. Jadi memang normal kalau kamu terlihat mirip dengannya.”
“Aku tidak suka! Aku tidak mau mirip si tua bangka itu! Aku mau operasi plastik!”
“Kau gila.”
“Kenapa? Kau takut kalau ketampananku nanti melebihi dirimu?”
“KAU—!”
“Apa? Mau apa ka— eh, eh, Ayah! Tolong aku! Kak Viel jadi gila! Aaaa!”
Tawa dan teriakan kecil itu menggema di ruangan, hangat dan penuh kehidupan.
Namun semuanya berubah dalam sekejap.
BOOOM!
BOOM!
BOOOM!
Suara ledakan menggelegar, mengguncang seluruh bangunan.
“Javiel! Bawa adikmu keluar secepat mungkin!”
“Tidak, Ayah! Aku tidak akan meninggalkan kalian!”
“Kau harus! Lindungi adikmu! Cepat pergi dari sini!”
“Tapi, Ayah—!”
“Kau harus segera pergi! Pergi sejauh mungkin, dan jangan pernah kembali ke Baro—!”
BOOOM!
“AYAAAH! IBUUU!” teriak Javiel putus asa, suaranya pecah saat melihat kedua orang tuanya tersapu ledakan. Dalam sekejap, mereka lenyap tanpa sisa. Dunia Javiel runtuh saat itu juga.
Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal. Namun tiba-tiba ia tersadar—adik kecilnya. Dengan panik, ia menoleh ke segala arah, mencari.
Di sana.
Tubuh kecil itu tergeletak lemas di lantai, tak jauh darinya. Javiel segera berlari menghampiri.
“Kak Viel… Ayah… Ibu…” suara itu lirih, nyaris tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruthless Dominion
AcakDentuman musik bergema, memenuhi ruangan dengan keharmonisan yang begitu nyaring, disertai sorakan riuh penonton yang memperheboh suasana. Namun, pria yang kejam namanya menjadi terhormat ini hanya duduk santai, mata terfokus pada seorang pria berwa...
