29. Gerawan

7 1 0
                                        

/ge.ra.wan/
warna yang bercampur sehingga kabur

***

The universal view melts things into a blur.

― Emil Cioran

***

Berbeda dengan rumah Kakek dan Nenek, perjalanan ke rumah Aki dan Nini, orangtua Papa, jauh lebih tegang. Papa jelas-jelas memberikan jarak ke Karina yang bersimbah air mata. Mulut Arina masih terkatup.

Papa berhenti sebentar di warung. Karina dan Arina tak ikut turun.

Dalam perjalanan kali itu, Arina tak terkulai. Ia memperhatikan Karina yang masih tersedu-sedu. Realita menghantam Karina hari itu. Keluarganya, yang sudah hancur sejak ia kecil, kembali tergerus menjadi bubuk.

Posisi Arina dan Karina berbeda, namun keduanya tenggelam dalam duka.

Papa kembali ke mobil. Ia menyerahkan es krim ke Arina dan Karina.

"Makan es krim sama Papa dulu yuk."

Mau tak mau, Arina dan Karina membuka bungkus es krim. Karina pelan bergumam, "Coklat."

"Papa masih inget rasa es krim yang Karina suka." Papa menoleh ke belakang. "Papa nggak tau Arina suka apa. Dibeliin coklat nggak apa-apa kan?"

Arina mengangguk.

"Arina suka rasa apa? Biar kalau Papa beliin lagi, Papa inget."

Untuk pertama kali, Arina menjawab, "Emang kita bakal ketemu lagi setelah ini?"

Papa tergelak.

"Arina kan saudara Karina, kandung atau nggak. Kalau Arina nggak suka, anggap aja ini kewajiban Papa untuk melindungi saudara Karina."

Arina terdiam. Kemudian, ia menjawab, "Arina juga suka coklat."

Papa tergelak.

"Papa mau cerita." Papa menggigit es krim. "Papa kaget pas—nama Arina mirip sama Karina. Kaya kembar." Papa terdiam. "Tapi harusnya Karina sama Arina sering denger kan ya?"

Karina berucap, "Papa sok tau."

Papa menjawab, "Papa tau Mama. Papa tau Mama pasti pingin keluarga sempurna. Papa tau Mama pasti maksain Arina biar akrab sama Karina." Papa mengalihkan pandang. "Kabarnya, Ayah dan Mama nggak ngabarin apa-apa di hari pernikahan, kan?"

Karina berseru, "Papa tau dari mana?"

Papa tergelak, lalu mengaku, "Ada temen Papa yang diundang ke sana. Papa minta liatin Karina. Katanya, Karina keliatan sebel banget lo di acaranya."

Terpojok, Karina membuka diri, "Iya. Aku sama Arina nggak dikabarin apa-apa." Getir dalam ucapan Karina muncul tatkala ia berkata, "Kita—kita bingung."

Senyap. Papa membiarkan Karina merenung. Sembari menghabiskan es krim, tatapnya menyelidiki Arina yang memakan es krim sedikit demi sedikit.

"Arina tadi makan cukup nggak? Kalau masih laper, mau Papa beliin roti lagi?" tawar Papa.

Arina menggeleng.

Karina tiba-tiba bertutur, "Tapi kan Mama tau rumah Aki dan Nini di mana."

"Mama nggak pernah ke rumah Aki dan Nini lagi setelah cerai, Sayang. Mama se-nggak suka itu sama Aki dan Nini karena nggak langsung berkorban dan ngejual rumah supaya usaha Papa tetep lancar." Papa menarik napas. "Mama bener-bener mau gaya hidupnya nggak berubah. Bahkan, rumah dan mobil Papa waktu itu dimasukin ke harta gono-gini."

[2/3] PadmasanaStories to obsess over. Discover now