30. Canting

9 1 0
                                        

/can.ting/
1. sibur kecil (untuk mencedok minyak, sayur, dan sebagainya)
2. pencedok air (dibuat dari bambu dan sebagainya)
3. alat untuk membatik berupa pencedok lilin cair yang bercerat, dibuat dari tembaga
4. takaran untuk membeli benih (udang, bandeng, dan sebagainya)
5. takaran beras terbuat dari kaleng susu, sama dengan 0,25 kg

***

There is no glory in battle worth the blood it costs.

— Dwight D. Eisenhower

***

Kala mata Arina mengerjap, mentari belum terbit. Ia bangkit dari kasur dan meraih ponsel di meja. Ia bahkan terjaga sebelum Shubuh.

Entah mengapa, Arina memilih untuk keluar kamar. Lorong besar dengan lukisan dan guci menyambutnya.

Arina melirik ke samping. Kamar di sebelahnya adalah kamar Aki dan Nini.

Langkah membawa Arina ke tengah tangga besar dekat pintu utama. Walaupun gelap, pintu kamar Papa dan Karina terlihat dari bawah.

Arina mengingat-ingat. Kamar Karina di rumah itu serupa dengan kamar Karina di rumahnya. Hiasan tanaman menjalar dan bunga matahari palsu di dinding menyambut sosok-sosok yang melangkah masuk. Bedanya, kamar Karina dicat warna kuning mencolok; sangat cocok dengan kepribadian Karina yang benderang.

Arina berjalan lunglai ke kamar. Ia merebahkan badan dan menutup mata.

Seandainya Ibu bisa bawa Arina liburan. Seandainya Ibu punya hak asuh. Seandainya Ayah nggak melarang Ibu dan Arina berkomunikasi lagi.

Seandainya Mama nggak pernah ketemu Ayah. Seandainya—

Arina membuka mata. Realita menyergap.

Arina terbuai mimpi. Papa takkan menyelamatkan Arina apabila Karina tak keras kepala membawa Arina pergi. Aki bahkan tak berbincang dengannya. Nini memberikan Arina ruang, namun perlakuannya pada Arina layaknya menyambut teman cucu ke rumah. Hanya Kakek dan Nenek yang benar-benar memperhatikan Arina, walaupun Arina pun ragu akan ketulusannya.

Apakah Arina layak berada di posisinya saat itu?

Acapkali perbandingan dengan Karina muncul, cibiran muncul di benak Arina. Ia bahkan tak membenci Karina. Tapi, hari itu, ia terbaring di tanah tempat Karina tumbuh.

Bukan sebagai keluarga, namun sebagai tamu.

Selain dingin yang menjalar di buku jari, senyap menyergap. Tak peduli jarak yang Karina tempuh untuk menyeret Arina dalam kehidupan normalnya, Arina sulit masuk dalam hidup Karina.

Hanya Arina yang dapat menyandang status 'broken home'.

Seharusnya, air mata Arina sudah turun. Seharusnya, Arina bahkan tak dapat bangun.

Arina bangkit dan duduk di pinggir kasur. Kantuk lenyap.

Pintu kamar diketuk. Sebelum Arina sempat menyahut, Karina langsung masuk ke kamar. Karina memekik.

Arina terbelalak.

"Kenapa serem gelap-gelap?" Karina menjerit.

Seketika, ruangan di sebelah Karina terbuka. Aki terbangun dan mendapati Karina yang terbelalak menatap Arina dalam gelap.

"Aduh, Aki kira ada apa."

Aki kembali lagi ke kamar. Arina dan Karina bersitatap.

"Kenapa?" tanya Arina.

"Kita perlu berangkat pagi, soalnya aku mau ke kantor Papa." Karina menimbang-nimbang. "Mau ikut? Kalau mau nunggu di rumah juga nggak apa-apa."

Arina hanya mengangguk.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 21 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

[2/3] PadmasanaStories to obsess over. Discover now