Hi, aku berusaha untuk secepat mungkin untuk update.
Part ini sangat melelahkan, karena saya harus bergelut dengan writer block yang tiba-tiba muncul setelah jalan-jalan.
Tapi, semoga kalian suka part ini.
Jangan lupa tinggalkan respon kalian
***The Devil Without Tail***
Seperti hari biasanya, Marvin sudah bangun pagi. Membuka café. Kegiatan rutin yang sama setiap harinya. Tapi Marvin menyukainya, dia tidak bosan sama sekali. Mengambil Koran pagi dipelataran café, mengelap meja, membersihkan pintu kaca agar tetap bersih.
Meredith tidak datang dipagi hari. Dia datang bekerja disore hari sampai café tutup. Dia harus kuliah pagi. Sedangkan Clara, tidak bisa diandalkan. Dia hanya akan merecoki pekerjaan Marvin. Berkomentar dengan bagian yang masih berdebu atau kaca yang kurang mengkilap. Betapa luar biasanya sahabatnya itu.
"Ting"
Bel berbunyi. Seorang pria pirang masuk. Tersenyum ramah.
"Apa yang bisa aku bantu, Billy ?" Marvin bergerak kemeja counter. Mata biru Marvin terpaku pada Billy dan penampilannya yang modis. Jas silver, dasi merah, sepatu pantofel dan Bunga mawar merah ditangan.
Alis Marvin naik sebelah, menunjuk bunga dengan dagunya." Untuk Clarry?"
Billy mengangguk kecil. Kembali tersenyum. "Apa dia ada diatas?"
Sudah Marvin duga. Billy mampir ke café pagi – pagi hanya untuk bertemu Clara, tentu saja. Mana mungkin ada pria dengan jadwal sibuk menyempatkan pergi ke cafe pagi-pagi hanya untuk minum kopi.
"Bisa kau panggilkan dia?"
Marvin melipat tangan. Matanya masih tidak lepas pada Billy yang sibuk menciumi bunga mawarnya.
"Sebenarnya aku bisa memanggilnya sekarang juga, tapi aku rasa dia sedang tidur. Jadi lebih baik kau-"
"Marvin!!!" Clara berteriak. Sepersekian detik selanjutnya suara langkah kaki terdengar jelas. Clara muncul menuruni tangga.
Billy tersenyum miring. Marvin membeku ditempat. Mulutnya terbuka setengah. Takjub. Marvin baru saja ketahuan berbohong.
"6.30 A.M." Billy melirik jam tangannya, tertawa mengejek. Kemudian dia berjalan mendekati Clara yang bergerak mundur.
Mata Clara membulat sempurna. Kaget dengan pemandangan pagi didepannya. Billy dan bunga mawar ditangannya.
"Hey." Billy menyapa. Tersenyum seribu watt.
"H-hey..." Clara tergagap. Masih takjub.
"Ini untukmu." Billy memberikan bunga mawar. "Kau tahu, kenapa aku memberikan bunga cantik ini untukmu?"
Clara menggeleng, "Aku tidak tahu."
Billy tertawa kecil. Menyibakan rambut pirangnya yang berkilauan terkena lampu. "Bunga mawar adalah bukti sebuah cinta. Warna merah pada bunga mawar melambangkan cinta yang tulus, keindahan, rasa hormat, romantisme bahkan sebagai pujian. Karena aku sangat menyukaimu, maka aku akan memberikan rasa cintaku padamu." Billy berjongkok setengah. Kaki kiri terlipat, sementara kaki kanan menopang tubuhnya. Kedua tangannya menggengam bunga mawar dengan posisi menggelikan.
Clara gelagapan. Salah tingkah dengan apa yang dilakukan pria gila dihadapannya. Sampai akhirnya Clara melirik Marvin yang sibuk tertawa dimeja counter.
'Tolong aku Marvin' Clara mulai memasang wajah memelasnya. Clara butuh bantuan.
"Jadi..." Billy mulai merancau.
KAMU SEDANG MEMBACA
MISSING
RomantikMarvin tidak menyerah untuk mencari adiknya yang hilang pada saat musibah gempa besar yang terjadi di Rio de Janairo, Brazil 15 tahun lalu. Sampai pada akhirnya dia nyaris menyerah sebelum akhirnya menemukan iklan audisi pemain film di internet. Seb...
