HAPPY READING GUYS 😘😘😘
🍁🍁🍁
Karel menatap Fian yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dalam hati dia mengucapkan banyak terima kasih pada gadis itu. Seandainya saja dirinya tidak terjebak dalam kisah cinta yang rumit dengan Rain maka Karel tidak akan membuat gadis sebaik Fian kesusahan seperti sekarang ini. Karel menghela nafas berat, dia mengikuti Fian masuk ke dalam rumah.
Hari sudah mulai gelap. Fian berpamitan pada keluarganya karena memang mereka harus kembali ke Jakarta. Wajah Fian nampak sedih saat pamit pada ibunya.
"Fian pulang Bu, Ibu baik-baik disini," ucap Fian.
Nita mengangguk, dia mengusap kepala Fian. "Hati-hati yaa, Ibu selalu doa yang terbaik untuk kamu," ucapnya.
Fian tersenyum, dia beralih pada ayahnya. "Jaga kesehatan Ayah, Fian pulang Yah," pamitnya.
Aryo tersenyum dan mengangguk. Tidak terasa putrinya sudah dewasa. Waktu berjalan sangat cepat, seingatnya dia baru saja menggendong Fian kecil yang menangis minta susu dan saat ini putri sulungnya datang ke rumah dengan membawa calon suami.
Fian pamit pada kedua adiknya yang terlihat sedih. Wajar saja, Fian sangat dekat dengan adik-adiknya.
Ketika Fian hendak menaiki mobil, Aldo tiba dengan motor matic merahnya. "Loh Mbak Fian?"
Fian menoleh, senyumnya mengembang. Dia langsung berlari dan memeluk adiknya itu. Selama ini Aldo adalah adik sekaligus teman untuk menceritakan masalah apapun. "Kamu ini lama sekali kuliahnya, Mbak sekarang harus kembali ke Jakarta," omel Fian dengan wajah kesal.
"Haha maaf Mbak, tadi ada acara di kampus. Kenapa pulangnya sebentar sekali?" tanya Aldo.
Karel menghampiri keduanya dengan senyum ramah. "Saya Karel, calon suami Fian." Tangannya terulur pada Aldo.
"Ehh?" Aldo melirik Fian. Masalahnya Fian tidak pernah menceritakan tentang pria ini sebelumnya. "Aku Aldo adiknya Mbak Fian, ada acara apa ini kemari ramai-ramai?"
"Aku baru melamar kakakmu," jawab Karel.
Mata Aldo melebar. "Yaampun! Aldo melewatkan acara penting, Mbak ini bagaimana sih, acara sepenting ini kenapa tidak mengabari dulu sejak kemarin? Kalau tau akan ada lamaran Aldo tidak akan masuk kuliah."
Fian tersenyum miris, ini memang tidak direncanakan Aldo, batin Fian. Aldo curiga melihat wajah murung kakak perempuannya itu, meskipun samar tapi Aldo bisa melihat dengan jelas.
🍁🍁🍁
Fian merengangkan kedua lengannya. Rasanya tubuhnya terasa sakit karena terlalu lelah. Lingkaran hitam di bawah mata Fian juga terlihat jelas. Semalam setelah tiba di apartemen, Fian tidak bisa langsung tidur karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga. Seperti ada magnet kuat dari meja Fian hingga kepalanya terasa ingin menempel terus.
"Sabar, sebentar lagi jam istirahat," gumam Fian sembari menatap jam tangan.
Matanya mengerjap agar bisa kembali fokus pada layar komputer di depannya. Tulisan-tulisan itu terlihat seperti garis lurus tanpa bentuk di mata Fian. Dia menyerah, matanya sudah tidak bisa diajak bekerja sama.
Fian memelih untuk pergi ke toilet, disana dia bisa membasuh wajah sekaligus beristirahat sejenak. Langkah kakinya terhenti saat mendengar namanya disebut.
"Jadi bos beneran mau nikah? gila! beruntung banget si Fian, baru berapa bulan udah bisa ngejinakin Pak Karel."
Fian berusaha menahan tawanya, memang menjinakkan singa yang sedang lapar itu sangat sulit, dan Karel bukan hanya seperti singa yang sedang lapar, tapi juga seperti singa yang sedang datang bulan. Fian membuka pintu itu dan kedua orang yang sedang membicarakannya langsung terdiam. Sebenarnya Fian tidak masalah jika semua orang membicarakan hal aneh tentang dirinya, toh mereka tidak tahu apa yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomantiekSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
