Hay semua....
Ada yang kangen Fian gk? Diujung part ada sedikit suprise untuk readers2 tercintahhhhhh 😂😂😂
Ohh iyaa mau promo juga..
Langsung aja yakk.. happy reading!! 😉😉
🍁🍁🍁
Fian POV
Sejak kedatangan Fatar dua minggu lalu sepertinya hubungan Karel dan Rain mendapat masalah. Terlihat dari wajah Karel yang setiap hari nampak kusut seperti kemeja belum disetrika seminggu.
Aku memakan sarapanku dengan santai. Ini sudah hampir jam tujuh tapi Karel belum juga keluar dari kamar padahal tadi saat aku tinggal dia sedang mandi.
"Nyonya ini tehnya," Meri memberikan secangkir teh kesukaan Fian.
"Makasih yaa," jawabku dengan tersenyum seperti biasa. Aku menghela nafas, jika aku tidak kesana maka hari ini kita akan telat ke kantor. Aku tidak ingin mendapat cap pembawa pengaruh buruk untuk Karel.
Dengan terpaksa aku ke atas menuju kamar kami. Yaa kamarku dan Karel, dia curang, padahal dulu dia bilang akan membuat kamar untukku sendiri.
Aku mengetuk pintu dengan sabar, takut ia sedang ganti baju atau apalah. "Karel!!! ini sudah siang.. ayo berangkat.." teriakku karena sejak tadi ketukan pintu tetap tidak direspon. Tidak ada jawaban dari dalam, apa Karel tidur lagi.
Kubuka pintu kamar untuk memastikan tapi aku tidak menemukan siapapun. "Karel.." panggilku. Kemana orang itu.
Karel keluar dari kamar mandi dengan terhuyung. Aku langsung menghampirinya dan membantu Karel berjalan.
"Kamu kenapa?" tanyaku dengan nada suara khawatir.
Karel menggeleng lemah, wajahnya pucat dengan keringat di keningnya. Baru saja ingin membantunya untuk tidur di ranjang tubuh Karel sudah limbung dan menimpa tubuhku.
"Aduhh Karel.. bangun!! kamu berat..." gerutuku sembari mencoba menyingkirkan tubuhnya. Tidak bisa juga, "aduh mati dah ini.. nggak elit banget mati kehabisan nafas gara-gara ketimpa," racauku. "Karel!! ini badan berat banget sih!"
Dengan usaha ekstra akhirnya aku bisa menyingkirkan tubuh Karel dari atas tubuh mungilku. Aku mengambil nafas dengan rakus. Aishh perasaan tadi pagi masih sehat, ehh masih sehat kan, ohh aku tidak terlalu memperhatikannya.
Aku menyiapkan kompres untuk Karel, hari ini terpaksa aku tidak bisa bergosip ria dengan Putri.
Dengan telaten aku mengurusnya, kubuatkan bubur untuk Karel meski rasa kesalku karena dibohongi belum hilang.
Karel membuka matanya. "Huhh akhirnya bangun juga, ini aku buatkan bubur.. makanlah," ucapku dengan nada jutek seperti hari-hari sebelumnya.
Karel menggeleng lemah, "tanganku lemas,"
Aku tersenyum sinis, "kalau begitu biar kupanggil Rainmu itu untuk mengurusmu," aku langsung melangkah pergi meninggalkannya. Dengan hati berat tentu saja.
Ku telfon orang yang paling kubenci saat ini. "Halo.. lo bisa ke rumah? selingkuhan lo sakit dan gue nggak mau direpotin. Urusin dia sono!" semburku saat dia mengangkat telfonnya. Tanpa menunggu jawaban aku langsung mematikan telfonnya.
Aku benci dengan kata kebohongan, jika Karel jujur dia pergi dengan Rain aku tidak mungkin semarah ini.
Bi Peni menghampiriku dengan bingung, "Nyonya kenapa marah-marah? sedang ada masalah?" tanya wanita yang sudah lumayan tua itu.
Aku meringis pelan, lupa kalau di rumah ini ada orang lain selain aku dan Karel. Semoga Bi Peni tidak mendengar ucapanku tadi.
"Biasa Bi.. hehe lagi PMS," jawabku dengan asal. Bi Peni sepertinya percaya pada ucapanku. "Bi.. nanti kalau ada perempuan datang, langsung suruh ke kamar aja yaa.. Fian mau ke belakang dulu," pesanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomanceSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
