Hayy maaf baru update karena aku lagi dinas, next part aku update setelah selesai dinas yaa...
langsung aja deh Happy reading guyss
************
Author POV
Karel terdiam menatap Fian dengan busana lengeri yang sangat pas di tubuh rampingnya. Ia mengerjapkan mata untuk memastikan penglihatannya.
"Fian.. apa-apaan kamu?" geram Karel. Bukan apa-apa, ia pria normal. Siapa yang tidak tertarik disuguhi pemandangan seperti ini, tapi yang menjadi masalah adalah jika ia tidak bisa mengontrol diri dan menyerang Fian. Fian gadis baik-baik dan ia tau pasti itu. Merusak gadis baik adalah pantangan besar untuknya.
Fian bergerak gelisah di tempatnya berdiri. "Emm baju di koperku sudah diganti dengan pakaian begini,"
"Apa?" tanya Karel dengan kaget. Ia memijat keningnya, ini pasti ulah ibunya yahh tidak salah lagi. Karel mengambil koper Fian dan ikut memeriksanya. "Baju apa ini?" tanya Karel dengan membentangkan lingeri berwarna merah berbahan sangat tipis. "Apa yang ditutupi?" lanjut Karel masih dengan memperhatikan semua yang ada di koper Fian.
"Aissh jangan pikirkan itu Karel!! sekarang bagaimana ini??" seru Fian dengan kesal.
Karel membuka kopernya, ia mengambil kemeja berwarna hitam dan mengulurkannya pada Fian. "Pakailah, setidaknya ini lebih baik daripada itu," ucapnya. Mata Karel tidak berani menatap Fian secara lama, ia lebih memilih untuk lanjut membaca buku yang sengaja di bawa sebelum acara resepsi.
Fian segera memakai kemeja Karel untuk menutupi lingeri yang ia kenakan. Yahh setidaknya ia beruntung karena Karel mau meminjamkan kemejanya meski rasanya kemeja ini sangat besar di tubuh mungilnya
Karena malam sudah larut Fian segera melompat ke kasur dan bergulung diselimut. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk tidur setelah acara yang sangat melelahkan seharian ini.
"Fian tolong lemparkan satu bantal," pinta Karel yang sudah meletakkan bukunya.
Ohh benar, Fian hampir lupa dengan Karel. "Apa kamu akan tidur di sofa?" tanya Fian setelah melempar bantal.
"Dimana lagi Fian?" tanya Karel yang kesal akan pertanyaan bodoh Fian. "Apa kamu mau kita tidur dalam satu ranjang?"
Wajah Fian memanas mendengar pertanyaan Karel. Ia menggeleng pelan, "maksudku, apa kamu tidak pegal? sofa itu terlalu kecil untukmu,"
Karel merebahkan dirinya di sofa, yahh benar sofa ini terlalu kecil tapi Karel tetap memejamkan mata untuk tidur. "Tidur Fian, besok kita harus bangun pagi," ucap Karel tanpa menjawab pertanyaan Fian. Ia sudah banyak merepotkan Fian jadi pegal sedikit bukan masalah untuknya.
Dari ranjang Fian terus memperhatikan Karel yang sudah mulai terlelap dengan nafas yang teratur. Perlahan ia bangkit dan mengambil selimut, lalu tanpa menimbulkan suara Fian menyelimuti Karel.
Wajah Karel saat tidur membuat Fian tersenyum, seandainya keseharian Karel adalah wajah tenang seperti ini mungkin ia tidak mungkin memiliki rasa kesal.
"Huhh pikiran gue mulai error," gumamnya. Ia kembali ke ranjang dan langsung terlelap meski tanpa selimut.
-------
Karel mengerang kecil karena merasa badannya pegal. Matanya terbuka perlahan, melihat selimut ada pada dirinya ia langsung menoleh pada Fian.
"Dia terlalu baik," gumam Karel.
Kakinya melangkah menuju ranjang dan langsung menyelimuti Fian. Ia melihat jam di nakas yang memunjukkan pukul satu dini hari.
"Arrgg kenapa lama sekali paginya!" seru Karel karena sudah tidak sanggup tidur di sofa itu. Ia melirik sisi ranjang lain yang kosong. Lebih baik tidur di sini daripada di sofa itu lagipula aku tidak melakukan apapun, batin Karel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomanceSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
