Hayyy indah kembali datang..
Maaf lama karema aku ngumpulin feel dulu biar yaa nggak flat tapi kutakut gagal.. haha apadah
Langsung ajaa yaa happy reading buat kalian yang udah nunggu..
🍁🍁🍁
Fian berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia menggigit jempolnya sendiri, gemas karena Karel belum pulang juga. Tadi setelah mendengar semua perkataan mengagetkan itu dia langsung mencari taxi dan pulang ke rumah.
Matanya kembali melirik jam dinding. Sudah hampir magrib, kemana pria itu pergi. "Dia nggak bener-bener mau nikahin Rain kan?" tanya Fian pada dirinya sendiri.
Pintu kamar dibuka hingga membuat Fian sedikit kaget. Karel masuk dengan kemeja yang sudah acak-acakan dan wajah lebam. Bisa Fian tebak itu adalah perbuatan Fatar.
Karel duduk di ranjang dan menggulung kemejanya. Matanya menatap Fian yang sejak tadi berdiri mematung tanpa bicara. Mata Karel memutar, dia mengulurkan tangan.
"Kenapa berdiri saja? sini duduk," ucapnya lembut.
Fian duduk di samping Karel tanpa menerima uluran tangan pria itu. Matanya terus menatap Karel, ada banyak pertanyaan di mata itu dan Karel tidak sanggup menjawabnya.
Karel menyelipkan anak rambut Fian ke belakang telinga. Matanya menelusuri wajah Fian yang terlihat sedikit bulat karena sedang hamil. "Kamu sudah mendengar semua," gumam Karel.
Fian mengangguk, "kamu akan menikahi Rain? itu bohong kan? kamu sudah tidak mencintainya kan?"
"Tidak sama sekali, kamu tau itu. Kamu wanita satu-satunya Fi." Karel menghela nafas lelah. "Ini kasus lain, kamu tau aku bertanggung jawab atas semua yang menimpa Rain sekarang," jelas Karel.
Mata Fian kembali memanas, dia menggelengkan kepala. "Nggak aku nggak tau, aku nggak mau tau.." jawabnya.
Karel berlutut di depan Fian, dia juga lelah dengan semua akibat dari perbuatannya ini. "Tolong Fi, bagaimanapun aku harus bertanggung jawab untuk kejatuhan Rain," mohon pria itu.
Fian menggelengkan kepalanya lagi. "Aku nggak ngerti kamu bicara apa Karel, ayoo kita tidur.. kamu pasti lelah kan?"
Karel meletakkan dahinya di lutut Fian, dia mengerti Fian pasti menolak tapi dia juga berada dalam pilihan yang sulit sekarang. Mengabaikan kondisi Rain, itu tidak akan mungkin karena semua berawal darinya. Menikahi Rainpun itu bukan pilihan yang mudah karena dia juga tidak ingin menduakan Fian.
"Aku meminta izinmu untuk menikahi Rain," ucap Karel lugas.
Tangan Fian terjatuh begitu saja, mulutnya ternganga kaget mendengar ucapan Karel. Tadinya ia pikir Karel hanya emosi saat mengatakan itu di depan Fatar. Fian mendorong Karel untuk menjauh.
"Apa kamu bilang? jahat kamu Karel!!" isaknya.
"Maaf Fi, aku harap kamu bisa mengerti posisiku," ucap Karel.
"Mengerti kamu bilang?" desis Fian. "Kurang mengerti apa lagi aku?? selama ini aku selalu berusaha mengerti kamu Karel! aku selalu mengalah dan kamu tau pasti tentang itu!!" bentak Fian berang.
"Fii.."
"Aku tidak bisa! selama aku masih menjadi istri kamu, aku tidak akan mengizinkan kamu menikah lagi apapun alasannya titik!!" nafas Fian naik turun karena emosi. Dia tidak mungkin bisa berbagi, butuh hati yang besar untuk siap dipoligami dan Fian merasa belum memiliki keiklasan yang sebesar itu. Lagipula bagaimana bisa Karel berfikir begitu disaat dirinya sedang hamil besar.
Karel menggenggam lengan Fian, "tolonglah Fi, Rain membutuhkan seorang suami untuk anak di kandungannya," bujuk Karel lagi.
Fian menepis genggaman tangan itu. "Lalu aku tidak butuh kamu? apa anakku juga tidak butuh ayahnya?" tanya Fian pahit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomanceSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
