Happy reading guys.. jangan lupa vomment yaa ;)
🍁🍁🍁
Fian mencoba kebaya yang akan dikenakan saat pernikahan nanti. Kebaya dengan warna putih tulang itu sangat pas di tubuh Fian. Simple dan elegan, Fian suka itu.
"Cantik," ucap Mariska dengan senyum puas.
Fian ikut tersenyum dan kembali meneliti penampilannya. Tidak dia hiraukan Karel yang sejak tadi hanya diam disampingnya. Bagi Fian, Karel adalah mahkluk astral dan langka yang tidak perlu dibudidayakan, percuma hanya membuat rugi. Lebih baik langsung punah seketika.
Bukan karena tampangnya, karena tidak diragukan lagi Karel terlalu tampan untuk sekedar dilewatkan begitu saja. Pemikirannya yang harus dimusnahkan secepatnya. Memacari istri dari sahabat sendiri, itu hal tergila yang pernah Fian dengar.
"Gimana Karel, bagus atau tidak?" tanya Mariska.
Karel mendongak, matanya jatuh pada Fian yang memasang tampang cuek. "Bagus."
Fian mendengus samar, sudah dia duga jawaban Karel akan sesingkat dan sepadat biasanya. Bagus kepala lo botak, batin Fian. Gerutuan, makian, bahkan apapun itu akan Fian berikan untuk Karel yang sayangnya sudah berstatus sebagai calon suaminya. Sayang semua hanya bisa Fian lakukan dalam hati, memaki Karel langsung itu sama saja mencari mati.
Fian kembali teringat saat malam dia membuat Karel marah. Saat itu dirinya sedang kalap jadi tidak takut dengan kemarahan Karel. Lain halnya dengan saat normal seperti ini. Fian bahkan merinding hanya karena membayangkan aura menyeramkan Karel.
"Ada apa?" tanya Karel.
Fian meloncat kaget, wajahnya memucat.
"Ada apa sayang?" tanya Mariska, "Karel sepertinya Fian tidak enak badan, antar dia pulang saja besok kita lanjutkan lagi."
Fian menggeleng cepat, dia tidak kuat kalau harus berlama-lama dengan Karel lagi. "Jangan khawatir Ma, Fian baik-baik saja. Kita lanjut yaa?"
Mariska menatap ragu kemudian mengangguk. "Sayang kamu jangan terlalu lelah, jaga kesehatanmu."
"Iya Ma," jawab Fian.
"Karel kamu harus memperhatikan calon istrimu, jangan berikan banyak kerjaan padanya," omel Mariska.
Karel melirik Fian yang langsung membuang pandangan. "Tidak ada pengecualian, apapun status Fian dia tetap karyawan di kantor."
Mariska mendengus kesal, perdebatan antara keduanya sudah dimulai. Tidak ada yang mengalah, keduanya tetap kekeh dengan keinginan masing-masing.
"Stopp! kita harus selesaikan semua hari ini Ma," ucap Fian.
Mariska cemberut kesal tapi akhirnya mengikuti keinginan Fian.
Gaun untuk akad nikah dan resepsi sudah beres, seragam untuk keluarga besar juga sudah selesai. Hari ini untuk pakaian urusan mereka sudah beres.
Karel mengantarkan Fian pulang ke apartemen. Sebelum keluar dari mobil itu, Fian menoleh pada Karel. "Jangan paksa aku untuk bicara sopan dengan dia, aku tidak bisa." Fian langsung keluar dan menutup pintu mobil dengan keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomanceSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
