Hayy guys.. ketemu lagi dimalam minggu.. hehe malam minggu kelabu. Kenapa kelabu? yaa karena langitnya mendung*apadah
Arrggg sudahlahh langsung aja :D
Happy reading guys! part ini panjang lohh.. maksudnya lebih panjang dari part2 sebelumnya :D
************
Fian POV
Kami sedang makan siang di restoran yang berada di dekat resort. Sejak tadi kulihat Karel seperti sedang banya pikiran tapi aku berusaha mengabaikannya.
Saat sedang asik makan, mataku melebar melihat pintu masuk restoran, di sana ada Rain dan Fatar sedang menggandeng kedua anaknya. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan penglihatanku. Yaa itu mereka, aku yakin itu. Mataku tidak minus apalagi katarak, jadi sudah dipastikan itu benar-benar si wanita ular.
Aku langsung mendelik pada Karel, "bisa jelaskan tentang itu," tanyaku dengan datar. Sekarang aku tau apa yang dipikirkan Karel.
Karel ikut menatap Rain dan Fatar. "Mereka ingin liburan, jadi aku menyuruh Rain kemari, kita bisa berlibur bersama,"
Aku hanya menatap datar Karel, dan lanjut makan tanpa bicara lagi.
"Heyy kalian disini," sapa Fatar. "Thanks Rel, tadi pagi Rain cerita kalau lo ngajak kami liburan sama-sama. Tapi kami nggak ganggu kalian kan?" tanya Fatar yang sudah duduk di samping Karel.
Aku mencoba tersenyum pada Fatar, "haha nggak, aku justru senang liburan dengan Keyla dan Rasya.." aku mengusap kepala kedua anak itu. Aku teringat kedua anak ini adalah salah satu faktor kuat untuk aku menerima lamaran Karel.
"Tante nanti kita bikin istana pasir ya.." ajak Keyla.
Aku mengangguk dengan semangat, "oke nanti kita bikin yang banyak, setuju??" Keyla dan Rasya mengangguk senang dan memelukku.
Rain tersenyum dan duduk di sampingku, "jangan ganggu tante Fian dulu sayang, tante kalian ingin makan,"
Aku tersenyum dingin pada Rain, "mereka nggak ganggu sama sekali," lo tu yang ganggu, lanjutku dalam hati.
"Emm sorry nih, aku harus balik ke kamar sekarang," pamitku.
"Habiskan dulu makananmu Fian," Karel memandangku dengan sorot mata tegas tpi aku masih membalaskan dengan tatapan datar. Haha bekerja dengannya membuatku belajar ekspresi wajah datar.
"Kenyang," hanya itu jawabanku sebelum berbalik pergi meninggalkan semuanya. Nafsu makanku langsung hilang saat melihat Rain, lebih baik aku segera menyingkir daripada terus berdoa jelek untuk wanita itu.
Aku membanting pintu kamar dan langsun meloncat ke ranjang. Ku pukuli bantal yang digunakan Karel berkali-kali. Memaki-maki Karel dengan terus memukul bantal itu.
"Karel bodoh!!!!!!!!!" teriakku gila-gilaan untuk yang terakhir. Aku segera melempar bantal itu ke sembarang tempat. Kurebahkan diriku, mataku menatap langit-langit kamar. Ada rasa nyeri yang merasuk hingga aku tidak tau harus berbuat apa.
Suara pintu di buka membuatku langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku hingga ujung kepala.
"Kamu marah?" Aku hanya diam mengacuhkan pertanyaannya. "Fian aku tau kamu tidak tidur," Aku tetap diam, terserah dia mau bicara apa.
Karel menarik paksa selimut itu tapi aku tetap menahannya, aku berusaha menjauh agar dia gagal menarik selimut. "Awww.." ringisku saat bokongku mencium lantai. Karena tadi terus bergeser aku jatuh dari ranjang.
"Heyyy!!" teriakku dengan emosi. "Pergi sana! aku ingin tidur," aku bangkit dan kembali merebahkan diri di ranjang.
"Kamu marah?" pertanyaan yang sama diulang Karel dengan sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Dream Wedding
RomanceSUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU TERDEKAT. Ini bukan pernikahan impianku, jika aku tidak bisa menikah dengan orang yang kucintai setidaknya aku harus bisa menikah dengan orang yang sangat mencintaiku. Sedangkan pernikahan ini? tidak sama sekali. Kami t...
