37. Hadirnya Twins dan Perginya Bintang

122K 5K 1.2K
                                        

Hallo semuaaaa... maaf karena ngaret banget.. tugas banyak dan gk bisa ditinggal 😂😂

Oke langsung ajaa yaaa seperti note aku kemarin.. jadii jangan kaget dengan isinya 😊😊😊 Dan untuk pesan2 yg belum ku bales, aku akan bales sekaligus hari ini bareng sama komen part ini.. Oke??

Di note terbawah ada pilihan cast Fian.. bantu pilih yaa 😉😉😘

Happy reading guys!!

🍁🍁🍁

Fian merapikan pakaian Raka yang baru saja dia keluarkan dari tas. Mereka saat ini sedang menginap di rumah orang tua Karel. Kepalanya menoleh pada putranya yang sedang duduk bersila di ranjang.

"Raka kenapa ngeliatin nda terus?" tanya Fian.

Raka menggelengkan kepalanya. "Ndaa capek nggak sih bawa dua dedek di perut?" tanya anak itu dengan wajah polos.

Fian terkekeh, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Raka. "Nggak dong," jawabnya bohong. Sebenarnya dia sering kelelahan, setiap berdiri lama kakinya sudah pasti pegal tapi dia menikmati prosesnya. Untungnya Karel selalu memijat kakinya setiap malam, pria itu benar-benar mengerti kondisinya. Kening Raka berkerut, matanya menyipit curiga.

Jemari Fian mengusap kerutan itu, gemas dia kecup hidung mancung milik Raka. "Ihh gemes deh ndaa," kekehnya. "Raka makan sama oma yaa, ndaa mau istirahat sebentar." Raka mengecup pipi Fian, dia mengangguk dan pergi keluar kamar.

Fian tersenyum melihat tingkat putranya yang sangat manis. Dia benar-benar merasa seperti ratu saat bersama dengan Karel dan Raka. Tangannya mengusap perut saat merasakan tendangan. Dia mengambil ponsel yang ada di nakas.

"Sayang.." sapa Fian dengan manja setelah telfonnya diangkat.

"Ada apa? aku sedang rapat Fi," jawab Karel dengan terburu-buru. Sepertinya pria itu memang sedang sibuk.

"Cuma mengingatkan, nanti harus pulang tepat waktu. Kita harus mencari keperluan si kembar," jawab Fian. Terdengar helaan nafas Karel disebrang, Fian meringis geli membayangkan kesalnya wajah Karel sekarang.

"Aku tidak akan lupa, sudah ya,"

"Ehh tunggu.."

"Apa lagi Fi?"

Fian tersenyum, dia mengusap perutnya. "Aku kangen," rengeknya.

Disebrang Karel hanya bisa tersenyum gemas. Saat ini dia sedang menjadi perhatian para karyawan yang mengikuti rapat. "Sudah yaa sayang, aku harus rapat," ucap pria itu.

Para karyawan tersenyum takjub. Seorang sedingin Karel bisa menjadi hangat hanya dengan Fian. Dalam sekali lihat mereka sangat mengerti besarnya arti Fian bagi bos ini. Wanita itu seolah menjadi yang tercantik dimata Karel meski disekeliling pria itu jelas banyak yang lebih cantik dan lebih segala-galanya.

Fian menunggu Karel pulang, dia duduk di ruang keluarga rumah ini dengan Mariska yang sedang memangku Raka.

"Iyaa ma, prediksi bulan ini," ucap Fian dengan wajah ceria.

Mariska tersenyum, kerutan tampak jelas diwajah cantiknya. Matanya terlihat teduh, sejak kepergian Kinan wanita itu lebih diam padahal yang Fian tau Mariska itu sangat ceria setipe dengan dirinya. Yaa Fian bisa mengerti perasaan Mariska karena kehilangan seorang anak memang berat.

Satu yang membuat Mariska lebih tegar adalah kehadiran Fian dan Raka yang sering menemaninya di rumah besar ini.

"Semoga lahiran nanti lancar yaa," ucap Mariska. Fian mengangguk dia tersenyum sembari menggenggam lengan ibu mertuanya.

Not A Dream WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang