28 || Model Majalah Bobo

33.5K 1.5K 116
                                    


MODEL MAJALAH BOBO

***

[Author POV]

GUBRAKK

"Aduhhhh..."

Bonbon meringis dibawah tangga besi yang bisa dilipat itu, ia sedang mengintip Bara dibalik tembok penghubung antara ruang tamu dan dapur. Eh malah terpeleset dan ketimpa tangga.

Bonbon itu pencemburuan, jadi dia sedang menguping perihal pasien Bara yang genitnya minta ampun. Sehabis pulang memilih baju pengantin dan tema pernikahan tadi, Bara malah kedatangan tante-tante menor yang membuat Bonbon cemburu setengah mati.

Bonbon mengusap-ngusap kepalanya, ada Bara yang sudah mengangkat tangga itu dari atas tubuhnya. Ada nada geli diwajah Bara melihat Bonbon yang kesakitan.

"Hei Nyonya Alaska, ngapain disini? Katanya mau bobok siang," tegur Bara dengan bercanda, ia membantu Bonbon untuk berdiri.

Bonbon menyengir saja, "Ah itu tadi Dok.. Bonbon lupa, itu ada yang ketinggalan dimobil Dokter.." jawabnya ragu, ia sudah ketahuan mengintip dan menguping Bara.

Dimana harga dirinya?!

"Ekhem, kamu pembantu baru ya? Kerja kok nggak bener," sahut nenek lampir disebelah Bara. Rambutnya sudah seperti orang yang kesentrum listrik dan bibir itu seperti habis dibakar, jontor abis!

Bara menahan tawanya. Tapi ia tak ingin membela Bonbon, biarlah terjadi pertengkaran kecil disini, sepertinya menarik.

"Enak aja! Tante kalik yang calon pembokat disini! Saya tuh calon istri Dokter Bara!"

"Apa kamu bilang? Tante? Calon istri Bara? He anak kecil jangan mimpi deh! Kamu ini pembantu baru yah! Jadi jangan sok kenal sama Bara ya!"

"Aku udah gede Tante! Dan aku bukan pembantu! Tante tuh kayak banci kaleng!'

"Sudah sana kerja lagi!"

"Aku bukan pembantu!"

"Iya nanti Bara naikin gaji kamu kok! Jadi jangan banyak tingkah!"

"Ihhh! Aku. Bukan. Pembantu." Bonbon merenggut kesal karna dikatain pembantu berkali-kali. Wajahnya sudah memerah menahan diri.

"Nanti kamu dipecat Bara loh.."

"Huaaa Dokterrr!!!" Bonbon berteriak dengan keras karna kesal dengan tingkah si nenek lampir satu ini.

Bonbon mengusap-ngusap pipinya yang sudah basah karna air matanya itu. Ia tak mau kalah tapi kali ini ia kalah. Bonbon yang berpakaian seperti pembantu itu pun hanya diam dengan sesegukan.

Bonbon yang kecapekan hanya menggunakan celana jersey dan kaos kebesaran dan rambut yang diikat cepak membuat ia seperti pembantu kelas bawah.

"Sshh.. jangan cengeng dong.." Bara mengeluarkan suaranya dan mengelap air mata Bonbon menggunakan telapak tangannya. Membuat Bonbon terbengong ria.

"Masa udah besar nangis, gimana mau jadi istri yang baik nanti?" Bara tersenyum manis. Membuat Bonbon ingin mimisan sekarang juga.

Nenek lampir sang pasien Bara itupun ternganga-nganga melihat adegan sinetron didepannya ini. Ia hampir terkena stroke ringan.

"Ini siapa kamu Bar?"

"Pelayan,"

Bonbon mundur selangkah karna hanya dianggap Bara seorang pelayan. Syakid hati dedek Bang! Ia menatap Bara tak percaya, seakan Bara itu mahluk abstral yang tak terlihat.

Bara menahan tawanya, ia dengan wajah datar menatap sang nenek lampir itu dengan dalam. Membuat yang ditatap malah melting.

"Pelayan diatas ranjang." kata-kata itu diucapkannya teramat pelan, membuat siapapun mendengarnya bisa merinding karna suara maskulin Bara.

BonbonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang