3. Kisah ayah dan ibu

2.1K 235 12
                                        


Sehun duduk bersama keluarganya yang terdiri atas ayah, ibu dan kakak perempuannya. Mereka sarapan bersama, hal yang jarang terjadi. Biasanya mereka tidak lengkap karena kakaknya sangat sibuk dengan kuliah dan modelling-nya. Minhwa adalah model yang cukup populer di Korea.

Sehun membuka pembicaraan. "Ma, kemarin aku udah ketemu sama Pak Shin," ucap Sehun sambil mengunyah makanan.

Ibu berhenti mengunyah makanan dan menatap Sehun. "Pokoknya kamu nggak boleh nolak kali ini."

Seketika senyum terukir di bibirnya. "Lah, siapa juga yang mau nolak kesempatan yang berharga ini." Sehun tersenyum sumringah, membayangkan hari ini dia akan bertemu lagi dengan pujaan hati.

Ibu menatap Sehun lama. "Kan kemarin kamu yang bilang nggak mau ikut. Bagus deh kalo udah berubah pikiran."

Sehun hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

"Sehun, dari awal kamu harusnya nggak nolak permintaan mamamu. Siapa tau kamu bisa kayak mama sama papa. Waktu itu mama tertarik sama papa karena terpesona liat papa main piano," ucap ayah dengan percaya diri.

Memang benar, ayah Sehun saat masih muda digemari oleh banyak perempuan. Persis seperti Sehun. Dia siswa berprestasi dengan banyak bakat yang juga diberkahi oleh fisik yang luar biasa. 

Minhwa yang melihat kelakuan kedua orang tuanya bergidik ngeri. "Ya ampun pa, harus berapa kali aku denger cerita ini waktu kita lari sarapan?" protes Minhwa.

Sehun geleng kepala menatap Min Hwa. "Kayaknya nggak bakal bosan deh, kak."

Perjuangan cinta kedua orangtua Sehun tidak mudah. Saat mereka masih di sekolah menengah atas, ibu bukanlah perempuan yang begitu populer walaupun ia cantik. Namun ia memiliki banyak teman karena sifatnya yang ramah, baik hati dan mudah tersenyum. Sedangkan ayah adalah seorang senior yang setahun lebih tua dari ibu, anak laki-laki yang paling populer dan banyak disukai wanita di sekolah, sehingga tidak mudah untuk mendapatkan perhatiannya. Walaupun ibu sangat cantik, tapi juga banyak yang lebih cantik dari ibu yang mendekati ayah waktu itu.

Semua itu berawal ibu melihat ayah yang sedang main piano di pertenjukkan sekolah. Permainannya sangat indah dan ia terlihat sangat menikmatinya. Semua orang bersorak, bahkan ibu hingga meneteskan air mata. Ibu juga bermain piano dan tampil di pertunjukkan hari itu juga, tepat setelah ayah bermain di panggung. Mereka berkenalan di belakang panggung setelah ibu selesai tampil.

"Bahkan kisah cinta papa sama mama bisa dibuatin drama. Apa mama tulis naskahnya terus kirim ke stasiun TV aja, ya?" Ibu terlihat serius.

"Mama!" Sehun dan Minhwa berseru bersamaan.

Mereka tidak bisa membayangkan jika ibu benar-benar menulis naskah itu dan mengirimkannya ke stasiun televisi. Siapa yang tahu jika naskahnya diterima dan dijadikan drama?

**** 

Kyungsoo tengah menatap perempuan yang duduk sendirian di bangku taman. Ia ingin menghampiri perempuan itu tapi sepertinya ia agak ragu. Setelah memikirkannya dengan baik, akhirnya ia memutuskan untuk menghampirinya. Mungkin ini adalah kesempatan terbaik untuk berbicara.

"Please, dengerin aku." Kyungsoo memohon.

Perempuan itu yang sedang duduk membaca buku sontak kaget mendengar suara seseorang yang dia kenal dari belakangnya. Ia menoleh ke belakang dengan ragu-ragu.

"Maafin aku, aku salah besar, aku nggak bermaksud ninggalin kamu." Mata Kyungsoo berkaca-kaca, suaranya parau.

Perempuan itu hendak pergi namun Kyungsoo menahan tangannya. "Irene, aku mohon."

Irene mengambil sebuah buku catatan beserta pulpen dari kantungnya. Ia menulis sesuatu. Setelah menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas, Irene memberikan kertas itu dan pergi dari hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo membaca kertas itu dengan perasaan sesak di dalam hati. Menyesali perbuatannya.

Nggak apa-apa, udah aku maafin. Nggak perlu dijelasin.

Kyungsoo merasa sangat bodoh. Tentu saja Irene akan membencinya seperti ini. Seharusnya dari awal Kyungsoo sudah tahu. Ini semua perbuatannya. Ia yang meninggalkan Irene tanpa kabar saat ia sedang kesakitan dan membutuhkan kehadirannya. Ia memang pantas dibenci.

Kyungsoo meremas kertas itu, lalu beranjak pergi dari sana. Dadanya terasa sangat sakit. Apakah ini yang dirasakan Irene saat itu? Perasaan ini sungguh menyiksa. Kyungsoo bahkan hanya termenung di dalam kelas saat guru musiknya tengah menjelaskan pelajaran di depan kelas. Padahal, biasanya Kyungsoo sangat bersemangat dengan pelajaran ini.

"Kyungsoo, lo nggak apa-apa?" Suho berbisik-bisik, takut ketahuan oleh guru yang sedang mengajar jika mendengarnya berbicara saat pelajaran.

Kyungsoo menatap Suho malas. "Iya."

"Bohong. Kasih tau gue lo kenapa." 

"Do Kyungsoo, Kim Junmyeon keluar dari kelas saya sekarang. Saya tidak mau ada yang berbicara saat saya menerangkan di depan." Wanita berkacamata itu sedari tadi memperhatikan mereka berdua yang berbicara saat ia sedang mengajar.

Seketika seisi kelas menatap mereka berdua. Kim Junmyeon disuruh keluar kelas? Ini sangat langka. Ia adalah murid yang dibanggakan guru karena prestasinya dan ia selalu serius saat belajar.

Kyungsoo dan Suho saling menatap lalu bangkit dari kursi mereka. "Maaf bu."

"Maaf ya, karena gue kita dikeluarin dari kelas." Suho merasa bersalah, mengingat sebelumnya mereka berdua tidak pernah dihukum apapun.

Kyungsoo tertawa kecil. "Gue juga lagi malas belajar." Ia beralih menatap Suho yang terlihat cemas. "Gimana perasaan lo? Pertama kali dikeluarin dari kelas."

Suho menghela napas. "Semoga nyokap nggak tau."

Kyungsoo menepuk pundak Suho. "Tenang aja, gue yakin bu Yoona nggak bakal lapor ke nyokap lo."

Ibu Suho memang dikenal cukup tegas terhadapnya. Sebisa mungkin dia tidak akan pernah melakukan apapun yang membuat ibunya kecewa dan murka, dan dikeluarkan dari kelas merupakan sesuatu yang akan membuat ibunya murka.

"Irene!" panggil Kyungsoo.

Berada di satu sekolah yang sama membuat Irene tidak bisa menghindari Kyungsoo, apalagi mereka berada dalam departemen yang sama. Mustahil untuk tidak bertemu satu sama lain.

Langkah Irene terhenti, ia berjalan dengan cepat melalui Kyungsoo dan Suho.

"Kita harus ngomong. Nggak, maksudnya dengerin aku." Kyungsoo segera meralat ucapannya.

Irene berhenti melangkah. Ia berdiri beberapa langkah di depan Kyungsoo. 

"Please maafin aku, itu semua bener-bener diluar dugaan aku. Kalau aja papa nggak me--" ucapannya terputus.

"Oyy! Lo berdua dikeluarin dari kelas, ya? Unbelievable!" Chanyel bertepuk tangan heboh sambilcekikikan. Dia juga dikeluarkan dari kelas karena terlalu berisik. Karena bosan, Chanyeol jalan-jalan keliling sekolah.

"Ssst!" Suho memberikan isyarat kepada Chanyeol untuk diam. Dia tau Kyungsoo dan Irene sedang membicarakan hal yang serius.

Irene yang melihat kedatangan Chanyeol langsung berlari pergi meninggalkan Kyungsoo yang belum selesai bicara.

Kyungsoo meremas celananya. "Lo ngacauin semuanya." 

[REVISI]

****

Mianhae kalo ini pendek. Walaupun pendek tapi aku bakal usahain buat update tiap hari ...

Please leave votes and comments, gomawo!

Cotton Candy [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang