[PLEASE READ AUTHOR NOTE]
"Aishhh, ige mwoya?" Sehun segera menjauhkan wajahnya dari loker pribadinya. Ketika ia membuka lokernya untuk mengambil baju ganti, tercium bau busuk yang menyengat dari dalam. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada sepotong daging busuk yang sudah berwarna kecoklatan dengan bau busuk yang sangat menyengat. Siapa yang beraninya menaruh daging ini di loker Sehun?
Rahang Sehun mengeras, ia marah. Bajunya yang hendak ia ambil, sudah bersentuhan dengan daging busuk itu hingga bajunya pun menjadi kotor dan berbau tidak enak.
Tidak terpikirkan siapapun di dalam benak Sehun siapa pelakunya. Sehun tidak pernah merasa berbuat sesuatu yang buruk kepada siapapun, Sehun adalah teman yang baik. Apakah itu yeoja yang dia tolak? Tidak mungkin. Sehun selama ini tidak pernah bermasalah dengan yeoja yang ia tolak. Lantas siapa?
Sehun menutup pintu lokernya hingga terdengar suara bedebum keras karena ia membantingnya. Sehun kesal setengah mati. Siapapun yang melakukannya, Sehun tidak segan-segan menonjoknya tepat di wajahnya.
Sehun melangkah dengan perasaan marah besar menuju ke kantin. Ia berharap bertemu dengan Kai, Baekhyun, Chanyeol atau siapapun dari teman-temannya agar ia bisa meluapkan kemarahannya. Ini waktu makan siang, sepertinya mereka ada disana. Sehun tidak ingin Irene melihatnya dalam keadaan marah seperti ini.
Namja itu terdiam tepat ketika ia baru menginjakkan kakinya di kantin. Matanya tertuju pada tiga orang yeoja dan seorang namja yang tengah duduk bersama. Dan lihatlah, mereka tertawa-tawa seakan yang mereka bicarakan adalah hal yang sangat lucu. Sehun menarik napas. Kedua tangannya dikepalkan. Ia mencoba untuk tetap tenang lalu berjalan menghampiri mereka.
"Irene-ya." Sehun memaksa tersenyum. "Ternyata kau sudah duluan."
"Mian, Sehun-ah. Aku mencarimu di kelas dan kau tidak disana," balas Irene.
"Annyeong, Sehun-ah!" Sun Hee dan Hana, kedua sahabat Irene juga menyapa Sehun.
Sehun mengangguk membalas sapaan mereka.
"Eoh, Sehun? Duduklah bersama kami." Timpal Choi Minho.
Tanpa kau meminta, aku pasti akan duduk disini.
"Choi Minho, tidak dapat tempat duduk lagi?" Sindir Sehun dengan lembut. Kalau Minho peka, pasti dia sadar Sehun tidak menyukainya.
Minho mengangguk. "Hm. Mianhae Sehun kalau kau merasa terganggu."
"Ya, aku merasa terganggu. Bisa kau pergi sekarang?" Sehun ingin berkata begitu tapi tidak mungkin di depan Irene dan teman-temannya. "Gwenchanha," ucap Sehun akhirnya.
Tidak ada napsu makan sama sekali, Sehun hanya duduk diam bersama mereka yang sedang asyik bercanda tawa tanpa menghiraukan dirinya. Seakan-akan dia makhluk kasat mata. Begitu juga Irene yang sedang tertawa dengan Minho tanpa melirik dirinya. Seperti mereka sudah kawan lama. Diperlakukan seperti ini lebih mengesalkan baginya dibandingkan seseorang yang iseng menaruh daging busuk di dalam lokernya.
Oh, Sehun sampai lupa. Ia harus mencari teman-temannya untuk menceritakan hal itu. Tapi Sehun juga tidak ingin membiarkan Irene bersama Choi Minho brengsek itu.
"Kau tidak makan?" Irene akhirnya mempedulikannya.
"Tak apa, aku tidak lapar."
"Kau sakit?"
"Aku baik-baik saja."
Irene menghembuskan napas. Ada yang tidak beres dengan Sehun.
Sehun teringat, malam itu Sehun memilih menelpon Irene, karena saran dari Kai menurutnya lebih baik. Sayangnya, belum sempat Sehun mengatakan permasalahan yang terjadi, tiba-tiba orang yang diduga Choi Minho itu beranjak pergi dari depan rumah Irene. Pada akhirnya Sehun mengatakan kalau dia merindukan yeojachingu-nya itu, lalu Kai mengantar Sehun pulang. Sampai sekarang Sehun masih menimang-nimang entah harus memberitahu Irene tentang ini. Tapi ia mengurungkan niatnya sampai dia tahu siapa itu sebenarnya.
![Cotton Candy [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/61132152-64-k841630.jpg)