Tiga

3.8K 172 3
                                    

Pagi ini seperti hari sial bagi Karin. Barusaja ia melangkah masuk ke area Efrata, sebuah tangan sudah dengan tiba-tiba menarik lengannya. Ia berhenti mencoba melepaskan saat disadarinya siapa orang yang berjalan tepat di depannya. Ia dibawa ke gudang belakang sekolah yang jarang dilewati siswa karna keadaannya yang sepi dan berdebu.

"Arfa, lepasin!" semakin ia berusaha melepas Arfa justru semakin erat menggenggam pergelangannya.

"A!" Karin menjerit kecil saat dirasakan pergelangan kanannya ngilu.

Arfa sedikit mengendurkan cengkramannya pada tangan gadis itu saat dilihatnya raut kesakitan.

"Kenapa?" tanya Karin masih menunduk memperhatikan tangannya.

"Lo! Gue nggatau lagi harus ngapain lo!"

"Maksudnya?"

"Jauh-jauh dari gue!"

Karin terdiam. Bukan hanya karna kaget mendengar ucapan cowo yang baru ia tahu punya banyak fans dikalangan cewe cewe SMA Efrata. Tapi yang lebih membuatnya terdiam adalah perasaannya yang mendadak bingung. Sejak kapan mereka dekat, bahkan sekedar bicara pun mereka hanya sekali saat bertabrakan. Dan sekarang ia bicara seperti meminta Karin untuk berhenti mendekatinya.

"Rin, loe pucet banget hari ini. Sakit ya? Ke UKS aja yok kalo sakit." Putri khawatir melihat raut wajah Karin yang pucat dan gerak nya yang lemas. Namun yang dikhawatirkan justru melamum dan sibuk dengan angannya sendiri.

"Karin!!" kali ini suara Nina berhasil membuat Karin tersadar.

"Apaan? Sorry sorry, gue ngga denger"

"Yaelah, bener sakit nih dia." Putri menghela nafas mendengar respon sahabatnya.

***

Gue bener bener gatau harus bilang apa, ekspresinya bener-bener ngga bisa ditebak. Kaget? Pasti iya lah. Sakit? Oh, iya. Tangannya dia apa kabar ya. Pasti sakit gue tarik kaya tadi. Trus gue harus gimana? Biarin aja kali ya, biar dia benci sama gue. Tapi, kalo gitu ntar gue di cap cowo ngga bertanggung jawab dong.

"Woy!!!" suara Dion menghentikan percakapan satu arah Arfa.

"Apaan sih lo ah! Jantungan nih gue!"

"Gila aja lo jantungan, Fa. Lo kenapa sih? Jadi kaya si Wildan aja lo kerjaannya diem mulu."

"Iya, kan kaga asik kalo lo begini brother." timbal Kevin ikut menimbrung obrolan teman-temannya.

"Kaga! Gue cuma.."

"Cuma?"

"Cuma.."

"Cuma?"

"Gak deh, gue baik kok. Lo aja tuh yang kelewat perhatian sama gue!"

"Anjir ya lu!" Kevin dan Dion serentak menoyor kepala sobatnya yang seharian ini bersikap aneh.

"Wildan mana? Kalo udah ada si Wildan gue cerita deh. Tapi awas aja kalo kalian jadi mak-mak rempong!"

"Win, edwin! Panggilin Wildan diluar dong! Buruan!" kata Kevin, Edwin dengan segera berlari keluar takut takut mendapat bogem dari Kevin jika menolak.

"Kenapa lo?" perhatian Wildan langsung tertuju pada Arfa.

"Segitu bedanya gue ya?"

"Udah njir! Buruan cerita lo kenapa?"

"Kenapa? Burung lo ilang?"

"Kaga, nih ada nih" Arfa melirik kearah bawah membuat beberapa gadia yang memperhatikan mereka terkekeh geli.

"Buruan!"

"Gue minta dia ngejauhin gue" ketiganya sontak terdiam saat mendengar ucapan Arfa.

"Bego! Lo tuh cowo paling bego yang pernah gue tau!" cerca Dion dengan tatapan kecewa.

"Kalo cinta perjuangin lah, bro! Jangan nyerah gini" kini giliran Kevin yang angkat bicara.

"Cinta moyang lu cinta! Gue aja gak tau sebenernya gue kenapa, lo sok-sok-an bilang cinta!" tegas Arfa.

"Udah udah.. Mending dicoba dulu, lo cari tau aja dulu gimana perasaan lo, baru setelah itu lo tentuin mau maju atau mundur." Wildan yang lebih diam dibandingkan ketiganya seperti biasa selalu menjadi penengah saat pertengkaran mulai tersulut.

"Caranya?"

"Ada yang punya usul?" tanya Wildan yang justru menjadi ajang saling tatap antar Dion dan Kevin.

Karna tak menemukan jalan keluar, mereka memilih pergi ke kantin sekedar untuk mendinginkan kepala. Di kantin itulah Arfa cs justru bertemu gadis yang sudah seminggu ini membuatnya berbeda.

"Gue ada ide!" celetuk Dion tiba-tiba. "Ntar nih, abis ini. Lo pandangin tuh cewe. Lo perhatiin gerak geriknya. Gampang kan?"

"Gitu doang?"

"Yaelah ni anak, dibantuin malah ngelawan! Cobain dulu!"

Akhirnya Arfa menurut, kedatangannya ke kantin seperti biasa membuat beberapa gadis menatap kawanan mereka dengan mata berbinar. Arfa sengaja mengambil posisi duduk menghadap kearah gadis itu berada, berbeda dengan biasanya yang justru memunggungi tempat duduk gadis itu.

Ditatapnya gadis berambut gelap ikal yang tengah asik bercakap-cakap dengan kawanannya. Diperhatikannya dengan keseriusan melebihi keseriusannya saat mengerjakan soal matematika, walau sebenarnya ia sama sekali tidak pernah serius saat mengerjakan soal matematika. Yang pasti kali ini ia benar-benar serius memperhatikan gadis yang sama sekali tidak merasa perhatikan.

Arfa merasa ada sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, rongga perutnya seakan penuh dengan sesuatu yang menggelitik. Dan secara tiba-tiba ia merasakan udara sekelilingnya memanas, beberapa kali ia sengaja mengibaskan tangannya, hal yang jarang ia lakukan hanya untuk menghilangkan hawa panas yang menyelimutinya.

"Kenapa, Fa? Perasaan kantin kita ini ngga panas kok, banyak kipas angin tuh di atas lo." selidik Dion dengan tatapan jahilnya.

"Udahlah, Fa. Ketahuan kan sekarang, lo tuh suka sama dia. Kejar dong!" kata Kevin geli melihat reaksi Arfa.

"Fa, dengerin gue. Gue emang ngga ahli dalam hal kaya gini, tapi gue berharap ini bermanfaat buat lo." kini Wildan angkat bicara. "Cewe tuh suka sama orang yang serius merjuangin dia, dia bakal bertekuk lutut sama orang yang bener-bener jadiin dia prioritas. Jadi, lo jangan nyerah ya. Ini baru awal, jalan lo masih panjang bro!" katanya membuat Arfa mau tak mau tersenyum.

"Thanks ya sob!"

***

"Ih, bener. Jadi waktu itu tuh gue ngeliat sendiri dia kepleset di kamar mandi. Wajahnya lucu banget, sok kaya ngga ada apa apa gitu. Jadi waktu dia keluar dari kamar mandi, rame langsung deh pada ngetawain dia!!" cerita Nina disambut gelak tawa dari keempatnya. Putri tertawa seakan benar-benar menikmati suasana saat itu dimana musuh terbesarnya dipermalukan.

Berbeda dengan Karin yang tetawa seadanya karna merasa tak nyaman. Jelas saja, ia tau melalui sudut matanya seseorang tengah memperhatikan setiap gerakannya.

Bego! Mau apa sih dia? Ngapain coba ngeliat kesini mulu.

Sesekali ia menoleh ke belakang atau sekedar menyandarkan kepalanya pada pundak Putri hanya untuk menghalangi pandangan yang sedari tadi membuat jantungnya berdegup cepat.

"Balik kelas yuk, Put" rengek Karin. Ia sudah tak tahan dipandang seperti ini.

"Looh, asik-an disini!" kata Nina yang enggan bangkit dari kursi kantin.

"Sini deh gue bilangin" secara serempak empat kepala itu saling mendekat agar lebih mudah mendengar.

"Dia ngeliatin gue mulu dari awal masuk. Ayolah, lo kok tega banget sih!" bisik Karin.

"Masa sih? Nagapain dia kaya gitu?" Nina ikutan berbisik.

"Lo beneran gak ada masalah sama dia kan, Rin?" Putri mengarahkan tatapan tajam kearah Karin.

"Engga, sumpah gue ngga ada apa-apa sama dia!" kata Karin berusaha menahan geramnya.

"Jangan-jangan.."

***

Karin (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang