Dua

4.5K 192 1
                                    

"Dia itu pentolan sekolah, anak paling nakal di angkatan kita. Berandalan banget deh. Suka nelat, cabut, ngerokok, ngga ada sopan sopannya juga kalo sama guru."

"Playboy juga?"

"Engga sih kalo yang itu, dia ngga terlalu tertarik masalah cewe kayanya. Emang kenapa, Rin?"

"Jangan jangan lo.. please bilang sama gue kalo lo ngga suka sama dia. Engga kan, Rin?"

"Iya iya kagaa. Gue juga gak kenal dia, gimana mau suka coba?"

Karin masih memikirkan percakapannya dua hari yang lalu. Ia bergidig ngeri saat membayangkan betapa nakal nya siswa satu itu.

"Woy! Bengong aja nih. Kenapa? Ada masalah?" Agnes tertawa geli melihat ekspresi adiknya yang merasa terganggu.

"Engga kok."

"Bohong nya keliatan tauu, lo tuh ngga pinter boong. Sadar diri napa sih" Agnes tertawa saat menyadari ekspresi bohong Karin yang sangat ia kenali, tangannya mencubit gemas hidung adik kecilnya.

"Ih, apaan sih resek amat."

"Cerita kek kalo ada apa-apa. Gue juga pernah SMA kali, dek"

Karin terdiam mendengar ucapan Agnes. Ia masih bimbang, apakah menceritakan hal ini adalah hal benar atau justru salah besar. Beberapa kali ia menatap mata kakaknya yang sudah ber-puppy eyes agar ia mau bercerita.

Karin menghela pasrah, ia berharap ini jalan terbaik. "Gue ketemu cowo kak" Agnes masih diam walaupun Karin dapat menangkap sorot mata yabg semakin berbinar disana. "Gue takut sama dia"

"Takut? Kenapa takut? Dia ngapain lo? Masa sih jaman sekarang masih ada yang maen tangan sama cewe? Ngga gentle banget" cerocos Agnes.

"Susah ya jelasin sama orang yang ngga ngerti. Udah ah, gue ngantuk." malas menjelaskan lebih panjang, Karin masuk dan merebahkan tubuhnya di ranjang bersampul biru galaxy itu.

Sebenernya dibanding takut gue lebih ke penasaran. Tapi kata Putri gimanapun caranya jangan sampe gue terlibat sama dia. Segitu jeleknya pandangan orang tentang dia. Tapi itu juga kan karna dia yang udah bikin jelek reputasinya sendiri. Apa jangan jangan dia broken home? Biasanya kan anak nakal gitu ada masalah sama keluarganya. Tapi gue lihat kemaren wajahnya tenang tenang aja. Ganteng sih, tapi..

Karin yang tersadar dengan pikiran liarnya segera menenggelamkan wajanya dalam bantal, pikirannya kembali dikacaukan oleh seseorang bernama Arfa. Malas memikirkan nama itu, ia memilih tidur walau dengan paksaan karna matanya belum mengantuk.

***

"Yak, selamat pagi anak-anak!" Pak Amir, guru penjas yang terkenal kejam kini berdiri di hadapan murid murid kelas X.2 -kelas Karin cs-.

"Pagi pak!"

"Hari ini bapak minta maaf sekali karna tidak bisa menemani kalian berolahraga."

"Lohh, pak. Kok gitu sih"

"Ah, ngga asik bapak nih"

Anak X.2 berakting seperti tidak rela pelajaran penjas ditiadakan. Untungnya Pak Amir tidak melihat kepalan tangan mereka di belakang tubuh yang menandakan betapa senangnya mereka. Karin yang melihat kelakuan teman-temannya tertawa geli.

"Anak baru, kenapa kamu ketawa?"

"Eh, engga pak. Maaf."

"Baiklah, cukup untuk hari ini. Sekali lagi bapak minta maaf, selamat pagi!"

"Pagi, Pak! Ati-ati ya Pak! Kita sayang Bapak!" kata Reno melihat kepergian Pak Amir menuju tempat parkir.

"Yess!! Yuk kantin!" Putri tanpa aba-aba menarik ketiga temannya kearah kantin.

Suasana yang sepi membuat mereka dengan bebas menertawakan lelucon yang dibuat Nina, juga cerita Erni saat berada di toko buku.

Bugh!

Keempatnya menoleh saat sebuah tas jatuh dari tembok setinggi 2 meter yang biasa dipanjat anak-anak saat cabut dari kelas. Tak lama kemudian disusul seorang cowo yang dengan sigap nya melompati tembok dan mendarat dengan sempurna.

"Arfa?" Nina bukannya sengaja memanggilnya, ia hanya terkejut dan mungkin karna itulah suara yang menurutnya pelan tapi terdengar sampai ke telinga Arfa.

"Hei, girls! Eh, ada cewe cantik juga disini!" tangannya melambai ke gadis yang memang hanya mereka berempat, tapi tatapannya tertuju pada satu orang yang sedari tadi diam memunggungi Arfa.

"Dia ada apaan sama lo, Rin?" selidik Putri setelah memastikan Arfa tidak ada dalam lingkup obrolan mereka.

"Engga ada."

"Serius?"

"Gue ngga pernah ketemu dia sejak kejadian itu. Ini juga kali kedua gue ketemu. Eh, tapi gue ngga lihat dia, jadi bukan ketemu."

Sebenarnya Karin diam bukan karna tidak peduli. Ia menahan rasa penasaran yang sedari tadi membuatnya dag-dig-dug tanpa alasan.

Dia telat! Dia masuk sekolah lewat tembok! Astaga! Batinnya seperti membuktikan satu per satu apa yang dikatakan teman temannya.

"Dia gila kali, kaya nggatau Arfa aja."

"Ngga mungkin laah, dia tuh anak keluarga yang bener. Ngga mungkin dia gila" kata Erni polos.

"Erni!!!" geram Putri.

Dua jam pelajaran yang cepat menurut Karin. Kini mereka sudah kembali duduk melanjutkan pelajaran sejarah dengan Bu Atik yang super duper baik hati. Guru satu ini aangat disenangi siswa perempuan karna sifatnya yang welcome dan yaah bisa dijadikan tempat curhatan. Karena itulah jam pelajarannya jadi ajang curhat baik dari Bu Atik sendiri ataupun dari murid murid nya. Dan hari ini giliran Karin yang harus berdiri di hadapan Bu Atik karna ber-predikat siswa baru.

"Coba ceritakan bagaimana sekolah kamu yang dulu."

"Nama sekolah saya dulu SMA Teratai, di Jakarta. Ruma saya ngga jauh jauh amat kalo dari sekolah. 10 menit juga udah sampe. Temen asik, guru asik, ya gitu lah sekolah saya."

"Pernah pacaran?" pertanyaan telak dari Bu Atik. Ini jelas memalukan Karin yang memang tidak terlalu peduki dengan cowo saat di SMP maupun di SMA nya dulu.

"Jawab dong,"

"Jangan jangan suka maen ya?"

Beberapa cowo di kelas terlihat menikmati adegan penyiksaan Karin.

"Belum pernah." suasana hening saat kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Karin.

"Cantik gini tapi kok belum pernah pacaran? Aneh banget! Ngga percaya gue!" siapa lagi yang berani berbicara se-sadis ini kalo bukan Reno.

Sial! Gue harus apa dong? Atau gue bilang aja bokap protektif. Tapi kan gue ngga bisa bohong! Aduh Karin! Lo bego banget sih!

"Mungkin ortunya yg over tuh. Dia kan anak konglomerat. Dijodohin biasanya. Makannya pergaulannya dipantau banget!" kata Putri membela Karin yang memberi senyum thanks ya, Put. Lo penyelamat gue banget!.

"Masa sih anak konglomerat? Lo sekolah naek apaan? Gue gatau motor lo tuh" Reno memang sepertinya mulai menikmati aksi debatnya dengan Putri.

"Dia dianter sama kakaknya. Lulusan Aussie. Mau apa lo?"

Karin yang merasa suasana semakin memanas hanya melirik Bu Atik yang justru tersenyum lembut melihat Putri dan Reno beradu pendapat.

"Terserah lo deh! Ambil aja tuh menang! Gue gabutuh!" kata Reno mengakhiri pertikaian diantara keduanya.

Tak disangka Bu Atik justru bertepuk tangan, masih tersenyum. Sorot matanya menandakan kebanggaan tersendiri.

"Saya senang. Sejarah memang seperti ini. Banyak materi yang tidak dijelaskan dalam buku. Jika seperti ini kedepannya kalian tentu akan ikut menyimpulkan berbagai masalah seperti mengapa ibu fatmawati mampu menjahit dua kain secara sempurna potongannya padahal diceritakan keadaan ia mencari dan mebuat bendera pusaka adalah gelap gulita." senyum masih setia bertengger di bibir Bu Atik. "Karin, selamat datang di Efrata. Silahkan duduk"

Karin bernafas lega. Akhirnya, aksi penyiksaan Karin telah dihentikan dan ia sanggup bertahan bahkan berjalan kembali ke posisi dengan kakinya sendiri.

***

Karin (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang