"Tolong jangan banyak beraktivitas dahulu ya. Lukamu masih belum sepenuhnya sembuh" Ucap dokter yang telah ada di ruangan Arfa.
"Terimakasih dok" ucap Arma.
Setelah pak dokter keluar ruangan suasana kembali ricuh, semua senang karena Arfa telah sadar dari tidur nya.
"Kak, duduk" hati Arma menghangatkan mendengar Arfa memanggilnya dengan sebutan 'Kak' yang sudah sangat lama tak ia dengar.
Arma yang mengerti segera membantu Arfa duduk bersandar pada sebuah bantal.
Arfa mencoba mengingat kembali bagaimana ia berakhir di ruang putih ini. Lalu ia teringat malam itu, ia ada janji dengan gadisnya.
"Karin!" ia panik mengingat gadisnya dan seketika kepalanya seperti dihujam jarum jarum tak terlihat.
"Jangan banyak berpikir dulu" cegah Arma melihat Arfa meringis memegang pelipisnya.
"Berapa hari gue.."
"Tiga hari." jawab Dion tak menunggu Arfa menyelesaikan pertanyaannya.
"Karin?"
"Gue SMS dia malem itu dan bilang kalo lo batalin janji lo. Sampe sekarang pun dia nggatau." Arfa bernafas lega mengetahui bahwa gadis yang ia jaga mati-matian terhindar dari kekhawatiran.
"Papa sama Mama hari ini pulang. Mereka mungkin langsung kesini" Arfa ingat kakaknya ini tak akan membiarkan nya menutupi hal sepenting ini dari kedua orang tua nya.
Ia sudah berdamai dengan ego nya dan memutuskan memaafkan Arma. Entahlah, tapi ia sempat merindukan Arma dalam tidurnya. Dan ia senang karena orang pertama yang ia lihat adalah Arma.
"Lo mau minum? Biar gue ambilin" kata Arma tak nyaman dengan tatapan Arfa padanya.
"E gile! Ini jam 2 pagi! Besok kita sekolah anjir, lu kenapa bangun tengah malem sih, Fa. Ganggu tidur tauk" celetuk Kevin yang kemudian mengambil jaket dan kunci mobilnya.
Dion dan Wildan mengikut dibelakangnya berpamitan dengan Arfa juga Arma. Arfa memberikan beberapa pesan pada Dion agar disampaikan langsung pada Karin. Ia tak mau membuat gadis manis itu menunggu kabarnya terlalu lama.
***
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Allita mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
"Masuk aja, Ma."
"Ikut Mama yuk sayang, temenin Mama keluar sebentar. Papa kamu belum balik ke Indonesia, Mama malas pergi sendirian."
Karin sebenarnya sedang tidak dalam mood untuk bepergian. Di kepala kecilnya hanya ada nama Arfa yang tak kunjung ada kabar. Kabar terakhir didengarnya dari Dion, dia bilang Arfa sedang tidak enak badan jadi tidak bisa berangkat sekolah.
"Ayolah sayang, daripada suntuk begitu. Nanti Mama belikan ice cream deh buat kamu." bujuk Mama nya.
Ia mengalah, toh tidak ada salahnya pergi sebentar menemani Mama nya jalan jalan. Mungkin ia memang butuh udara segar.
"Karin siap siap dulu ya, Ma" Allita mengangguk senang.
Tak terlalu memikirkan penampilan ia mengambil jeans putih dan kaos polo kuning nya. Tak lupa dipoles nya sedikit bedak dan liptint untuk menyamarkan wajah pucat nya yang kurang tidur belakangan ini.
Sedan putih itu melaju memecah rintikan gerimis malam ini. Karin sedikit heran Mamanya ingin jalan jalan saat suasana sedang gerimis seperti ini.
"Aku mau Baskin ya, Ma" Karin mengingatkan janji Mama nya.
"Iya sayang. Kita beli buah dulu, sekalian Baskin juga."
Karin tak terlalu memperhatikan pembicaraan Mama nya. Yang penting ia mendapat ice cream disaat mood nya sedang tidak baik.
Dia sakit apa? Separah itu sampai gabisa kasih kabar?
Lagi lagi ia mengingat Arfa. Pikiran pikiran gila kadang mulai merasukinya. Ingin sekali ia pergi ke rumahnya dan melihat bagaimana keadaannya.
"Ayuk turun, kamu ini ngelamun aja" ajak Allita yang ternyata sudah berada di luar mobil.
"Iya, Ma"
Karin sedikit terhibur setelah menemani Mamanya belanja buah, kue, dan beberapa ikan. Bahkan Mama nya membeli beberapa kuncup bunga segar.
"Buat apa sih, Ma. Paket bunga bunga segala" tanya Karin.
"Mama mau ketemu temen Mama sebentar. Kasih ini doang kok"
Setelah puas belanja dan memakan ice cream. Allita melajukan mobilnya ke tempat ia janji bertemu dengan teman nya.
***
Temen Mama sakit? Siapa sih sampe pesen kamar VIP room class A.
Batinnya saat Mamanya membaca pesan dari temannya dengan suara cukup keras.
"Nomor 175 disini. Yuk sayang"
Allita menggeser pintu ruangan nomor 175 itu. Ia terkejut menemukan temannya berdiri membukakan pintu.
"Katanya sakit" celetuk Allita.
"Anakku yang sakit. Aku sehat sehat aja." kata perempuan paruh baya yang tak lain adalah Tante Ana.
"Aku bawa anakku. Suamiku belum pulang" kata Mama.
"Sama, aku juga harus pulang ke Indonesia sendirian. Dia sibuk terus disana."
Lalu seorang pria muncul dari balik punggung Tante Ana. Ia menatap Karin lekat, keduanya bertapapan untuk beberapa saat.
"Ayuk masuk dulu. Kita jadi ngobrol di pintu." Kata Ana geli.
Karin kembali ke kesadaran nya saat wajah itu mundur perlahan dan menghilang dibalik pintu.
Ia mengikuti Mama nya masuk kedalam ruangan dan melihat seseorang sedang duduk memunggunginya.
Ia menoleh dan melihat wajah itu lagi. Arfa!
"Ini anakku yang pertama. Yang itu yang kedua." terang Tante Ana mulai membingungkan Karin.
Kakak gue di Malaysia.
Karin masih sangat ingat ia tak mendengar Arfa menyebut seorang Adik dalam keluarganya.
Dan lagi. Bukankah Dion bilang Arfa sedang sakit. Lalu apa ini semua. Apakah sakit hanya sebuah alasan saja.
"Nak, kenalan dulu" tegur Mama membuyarkan lamunanku.
Karin menjabat tangan di depannya dengan tatapan datar. Ia tak tahu harus berekspresi bagaimana.
"Arma." katanya membuat bingung. "Kamu Karin kan? Aku udah cukup kenal kamu" tambahnya.
Sekali lagi Karin terkejut.
Arma? Arma?
Ia menggumamkan nama itu berulang kali, tapi tetap saja ia tidak mengerti.
"Kamu kenal sama Karin?" Tanya Tante Ana setelah Karin dan Arma melepas jabatan tangan.
Yang ditanyai justru berjalan kearah pria yang memunggunginya. Dilepas earphone yang ternyata sedari tadi menggantung di telinga nya.
Ia membungkuk untuk membisikan sesuatu, mereka terlihat dekat. Lalu pria itu menoleh dan membuat Karin semakin terkejut.
"Arfa.." katanya pelan.
"Jadi kalian saling kenal? Wah beruntung sekali ya kita ini." kata Tante Ana. "Yasudah kalian ngobrol dulu disini. Biar kita yang menyingkir" katanya pada Allita.
Beberapa menit sudah berlalu sejak Allita dan Ana keluar dari ruangan. Tapi suasana masih sangat sunyi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing masing.
"Gue keluar dulu ya, Fa" Arma melenggang keluar.
Arfa bergerak untuk turun dan mendekati Karin yang jelas shock. Tapi Karin lebih dahulu mendekat dan mencegahnya beranjak.
"Hai cantik" Arfa memulai percakapan.
Karin sudah menangis saat mendengar suara itu. Ia merindukan suara itu. Ia benar-benar merindukan sapaan itu. Ia merindukan sosok Arfa yang ternyata membuatnya jatuh hati.
"Maaf" Arfa hanya mengucapkan kata itu dan membawa Karin kedalam pelukannya.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Karin (END)
Teen Fiction"Dia itu pentolan sekolah, anak paling nakal di angkatan kita. Berandalan banget deh. Suka nelat, cabut, ngerokok, ngga ada sopan sopannya juga kalo sama guru." - Putri Shania. Kehidupan Karin berubah setelah pertemuannya dengan Arfa, anak berandal...