Awan berkumpul cukup tebal membuat teduh suasana minggu hari ini. Karin sudah punya rencana jauh jauh hari untuk menghabiskan waktu bersama kakak nya di Mall dan toko buku kesayangannya.
"Jangan belanja banyak banyak. Males bawanya ke mobil!" keluh Karin melihat binar di mata Agnes saat dihadapkan papan bertulis SALE.
Agnes hanya tersenyum mengalah melihat adiknya yang sudah tak tahan ingin cepat sampai di dunianya yang penuh buku itu.
"Mau beli novel lagi?" tanya Agnes begitu memasuki toko buku.
"Iyaa. Udah abis yang kemaren"
Tak sampai lima menit, Karin sudah tenggelam dalam dunianya. Sibuk berkutat dengan berbagai buku dihadapannya. Dibacanya sinopsis yang sengaja dicantumkan di beberapa buku dalam genggamannya.
Yang ini bagus, tapi part satunya sold out. Yang ini menarik sih tapi ngga bikin kepo.
Batinnya berusaha menemukan jalan keluar. Setelah beberapa saat menunduk ia akhirnya mendongakkan kepala dan melakukan sedikit gerakan untuk mengurangi nyeri lehernya.
Saat itulah ia melihat sosok yang amat dikenalnya. Ia tersenyum singkat mengetahui di tempat seperti ini pun mereka masih saja bertemu. Ia berpikir apakah ini suatu kebetulan atau memang ia diikuti.
Berjalan pelan ia mengendap-endap mendekati pria dengan kemeja abu-abu dan jeans hitam yang pas melekat di tubuh atletisnya.
Sejak kapan rambut dia warna merah kecoklatan gini? Abis diwarna kali yaa. Nakal banget sih. Kena point baru tahu rasa dia!
"Arfa!!" ia menepuk punggungnya dari belakang membuat sang empunya tubuh terlonjak kaget bukan main.
Kerutan sedikit terlihat di keningnya seperti tak mengenali sosok gadis yang mengintainya dan baru saja berhasil menerkamnya.
"Tumben banget ke toko buku. Cari apaan?" suasana masih terasa canggung, namun senyum yang dinantikan Karin akhirnya datang.
"Bosen di rumah, main aja sih kesini. Kamu ngapain?" pertanyaan baliknya membuat Karin sedikit terkejut.
Kamu?? Sejak kapan kita pake aku-kamu. Dan bukannya dia udah tau kebiasaan gue suka ke toko buku? Kok aneh gini sih ni orang.
"Lo bosen di rumah terus kesini? Engga lo banget tau. Kenapa bukan kumpul bareng kawanan lo itu malah ke toko buku?" tanya Karin berusaha membenarkan analisisnya dalam mengenal karakter Arfa.
Enggan menjawab pertanyaan lebih lanjut gadis di hadapannya, ia akhirnya pamit beralasan sudah ditunggu 'kawanannya' yang bahkan ia sendiri bingung kepada siapa kata itu ditujukan.
***
Tangannya masih memetik gitar seperti tak mengenal lelah, sudah dua jam lebih ia memutuskan duduk di beranda lantai dua rumahnya hanya berteman dengan gitar dan melodi melodi sederhana yang ia ciptakan.
Beberapa petikan menghasilkan melodi yang cukup bisa dinikmati, namun tak sempat lama dinikmati karena tangannya lagi lagi terhenti membuat jeda terlalu lama yang pada akhirnya mengakhiri melodi yang ia ciptakan sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karin (END)
Novela Juvenil"Dia itu pentolan sekolah, anak paling nakal di angkatan kita. Berandalan banget deh. Suka nelat, cabut, ngerokok, ngga ada sopan sopannya juga kalo sama guru." - Putri Shania. Kehidupan Karin berubah setelah pertemuannya dengan Arfa, anak berandal...
