Please vote before you read guys, menghargai karya orang lain itu ngga bayar kok 😊
Dan komen kalian bener bener bikin aku semangat nulis lagi, so tinggalin banyak banyak komentar ya😚😚😚
***
"Sia.." baru saja Ana ingin bertanya, Arfa sudah turun dari kamarnya menggandeng seorang gadis.
Wajahnya terkejut sesaat lalu tersenyum hangat saat menyadari siapa gadis cantik itu.
"Hai sayang" ia memeluk Karin yang masih tegang karena takut. "Kok kalian ngga ada yang bilang sih kalo dia disini. Tante ngga minta Bi Sari masak banyak jadinya" katanya dengan kedua tangan masih menggantung di pundak Karin.
Karin tersenyum salah tingkah. Sementara Arfa hanya menatap Mama nya bingung, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Setelah cukup lama berbincang, Ana memutuskan untuk mengantarkan Karin pulang sendiri, ia bahkan melarang Arfa ikut dengannya.
"Maa, kok gitu sih. Bosen di rumah aja" rengek Arfa masih mencoba membujuk Mama nya agar diperbolehkan ikut mengantar Karin. Karin hanya tertawa pelan di samping Ana melihat kelakuan Arfa.
"Bi, tolong siapin alat mandi buat Karin. Biar dia bersih-bersih dulu." katanya disambut anggukan Bi Sari. "Kamu naik, mandi trus ganti pakai baju Arfa. Jangan pulang masih berseragam lengkap gitu"
Karin mengangguk lalu berjalan meninggalkan ibu dan anak yang masih sama sama meributkan hal tak penting. Tak sampai sepuluh menit kemudian Bi Sari mengetuk kamar Arfa dan menyerahkan sebuah dompet berukuran cukup besar yang katanya berisi alat mandi dan handuk berwarna biru muda, Ia melenggang pergi begitu Karin mengucapkan terimakasih.
Karin segera masuk ke kamar mandi melihat waktu yang sudah tak sore lagi, ia tidak terbiasa mandi selarut ini.
Sedikit terkejut melihat tubuh Arfa sudah berbaring nyaman di atas ranjang saat ia keluar dari kamar mandi dengan rambut sedikit basah di bagian ujungnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin dengan kaos polos abu-abu milik Arfa yang membuatnya semakin tenggelam karena kebesaran, ia terkekeh geli.
"Seneng banget kayanya bisa pakai baju gue"
Karin hanya tersenyum lalu berlalu, membuka pintu kamar dan melangkah turun. Ia menanyakan pada Bi Sari kemana handuk dan alat mandi ini harus dibawa. Saat kembali ia melihat Arfa sudah berada di ujung tangga, menatapnya dalam diam. Lalu saat ia berada cukup dekat dari jangkauan Arfa, tubuhnya seketika melambung hingga ia merasakan kakinya kembali menapak pada ubin kayu. Iya memukul pelan pundak Arfa mengetahui tingkah Arfa yang tiba-tiba mengangkatnya dan mendaratkannya di tangga, satu tingkat lebih tinggi darinya.
"Pinggang Lo kecil banget" Karin menunduk menyadari kedua tangan Arfa yang sudah bertengger dengan manis di pinggangnya. "Katanya cewek yang udah puber pinggangnya melebar" mau tak mau ia tertawa dengan pernyataan Arfa.
"Pinggul, Fa. Bukan pinggang. Dan sejak kapan kamu tertarik sama pelajaran biologi?" tanya Karin geli.
"Aku?" tanya Arfa, hatinya berdesir saat Karin mulai menggunakan Aku-Kamu.
"Udaah, Fa. Mama cuma minta panggilin Karin, ngga pake grepe grepe gitu." suara Ana membuat tangan Karin yang semula berada di pundak Arfa manjauh dengan cepat, tapi tidak dengan tangan yang tetap setia di pinggangnya.
Arfa masih menatap Karin yang sedikit merona saat Mama nya melihat kelakuan anaknya yang sedang menggoda gadis ini. "Bentar lagi, Ma. Kan aku gaboleh nganter Karin" katanya membela diri.
"Lakuin apa yang Mama minta, abis itu kamu bebas antar jemput dia"
Karin mengerutkan keningnya, tak begitu mengerti pembicaraan mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Karin (END)
Teen Fiction"Dia itu pentolan sekolah, anak paling nakal di angkatan kita. Berandalan banget deh. Suka nelat, cabut, ngerokok, ngga ada sopan sopannya juga kalo sama guru." - Putri Shania. Kehidupan Karin berubah setelah pertemuannya dengan Arfa, anak berandal...