Sembilan

2.5K 103 1
                                    

"Arfaa!!"

Karin yang berdiri beberapa langkah di belakang Arfa reflek menangkap tubuh cowok yang tiba-tiba jatuh itu.

"Eh, bawa ke UKS aja. Sini gue bantu" Raden segera membawa Arfa ke UKS.

Karin sudah cukup tenang melihat Arfa di UKS, walaupun masih dalam keadaan yang belum sadar. Tangannya terikat pada selang infus, wajahnya masih pucat pasi. Ia benar-benar sakit.

"Hari ini siapa guru yang tugas di UKS?" tanya Karin masih tak bisa mengalihkan tatapan cemasnya dari Arfa.

"Bu Indri, tapi beliau ijin hari ini."

"Bu Indri? Guru biologi gue kan? Berarti ulangan nya batal dong"

"Iya kayanya, lo disini aja dulu. Gue kabarin Dion, Wildan, sama Kevin"

Karin hanya mengangguk paham. Setelah kepergian Raden, ia masuk dan duduk di samping ranjang UKS yang memang dibuat sedikit lebih rendah dibanding ranjang rumah sakit kebanyakan.

"Bisa-bisanya lo jatuh di depan gue. Bikin panik tau ngga, kesel gue sama lo. Lo tuh ngeselin!" kata Karin tanpa mempedulikan partner bicaranya yang asik terlelap.

"Karin, Arfa kenapa?" Dion masuk kedalam ruang UKS.

"Gue nggatau, kalian kan temen-temennya. Dia sakit di kelas kok kalian bisa nggatau sih?" geram Karin sebal.

"Dia baik-baik aja kok semalem, jarang jarang dia ambruk begini" elak Kevin tidak ingin disalahkan.

"Ribut banget sih, diem. Gue ngantuk" suara Arfa sontak membuat semua orang menoleh kearahnya. Matanya mengerjap karena silau. Kevin segera menutup pintu untuk menghindari sinar matahari masuk.

"Lo kenapa?" tanya Wildan tenang.

"Nggapapa, ini apa-apaan sih pake ditusuk-tusuk." Arfa bangun dari posisi tidurnya, ia menarik infus di tangannya dengan paksa.

"Lo istirahat dulu aja," kata Wildan.

Kevin dan Dion mengangguk setuju. Arfa menghela nafas lalu kembali berbaring. Ia juga tak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, ia merasa sangat terganggu hari ini.

***

"Kenapa dia?"

"Entah" Karin mengendikkan bahu.

Sepulang sekolah, keempat gadis itu berencana pergi jalan-jalan. Mereka memutuskan pergi ke Mall sekedar untuk cuci mata.

"Itu hells keluaran terbaru kan?" mata Nina seperti biasa, berbinar saat melihat barang branded.

"Iya, tapi gue agak ngga suka sama modelnya. So gue ngga tertarik buat beli" sahut Putri cuek.

Sementara kedua gadis itu melihat barang barang yang tak lagi cukup mengisi lemarinya, Karin dan Erni memilih duduk tenang di kafe yang tak jauh dari lokasi belanja Nina.

"Kemaren ada yang dapet juara kan dari sekolah kita?" Erni membuka percakapan.

"Oh, si Arman itu kan? Tapi dia juara 2, juara satu nya anak Tunjang kan?"

"Iya, gue kenal Arman. Dia emang jago mapel itu. Wajar aja sih kita juara 2."

Tak lama setelahnya Nina dan Putri menyusul dengan dua tas pada masing masing tangannya. Wajah mereka benar-benar terlihat bahagia.

"Pulang yuk, udah jam segini" ajak Karin.

"Okay"

***

"Sayang, udah siap?" suara Allita dari depan pintu kamar.

"Iya, Ma. Bentar" sahut Karin, ia segera merapikan rambutnya dan mematut diri di depan cermin sebelum melangkah keluar.

Karin (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang