Hari-hari terus saja berlalu, hingga tanpa terasa akhirnya aku naik kelas 3 SMA dan tentunya, tepat
Hari ini adalah akhir bulan Mei, 2013. Tepatnya dimana angkatan kak Taqwa akan di wisudah. Ada rasa senang karena melihat kak Taqwa dan teman-temannya akan pergi dari sekolah ini mengejar mimpi mereka masing-masing. Aku meliha atnya dengan setelan kemeja biru langit dan celana kain berwarna hitam serta sepatu kets putihnya. Rasa sedihnya adalah, aku akan jarang bertemu dengan kak Taqwa dan aku merasa takut jika saat kuliah nanti kak Taqwa akan melupakanku dan hubungan kami merenggang sehingga tak lama akan terjadi putusnya hubungan ku dengan kak Taqwa.
“ congrats for you my Taqwa.” Kataku saat tmenghadiri acara penamatan SMA.
“ what?! I’m not hear you. Please say it again.” Pinta kak Taqwa.
“ congratulation for you my Taqwa.”
“ thanks my Michi.”
“ ehem.. ehem…” suara dehaman seorang guru olah raga membuat kami jadi salah tingkah ditatap dengan intens olehnya.
“ apa yang kalian lakukan ditempat sepi seperti ini Taqwa, Ismi?.” Tanyanya dengan tegas.
“ nothing pak, we just… “
“ hey Bro, ternyata disini rupanya sama Michi. Hai Michi, hallo pak.” Akhirnya sang penyelamat datang disaat yang awkward.
“ eh, hai Bro.. emang kenapa?.”
“ kak Jacky nyariin kakak tau dari tadi. Emang enggak laper? Udah siang juga. Sekarang kan waktunya makan siang.”
“ yah… lapar sih… kamu lapar enggak?.” Tanya kak Taqwa yang menatapku.
“ lapar sih.. tapi ntar saja aku makan, aku mau shalat Dhuhur dulu.” Kataku mencari alibi agar tidak makan didepan kedua seniorku itu.
“ oh, okey. Aku lagi tidak shalat Cha, so… aku ikut kak Taqwa sama kak Jacky aja yah ambil makanan duluan.” Kata Chucha menyusul kak Taqwa dan kak Jacky.
Sementara aku berjalan menuju musollah, aku melihat kedua orang tua kak Taqwa yang sepertinya sedang mencari kak Taqwa. Ibunya yang memakai kebaya warna cokelat muda dan sarung batik cokelat sangat kontras dengan rambutnya yang hanya di kuncir kudan namun sangat rapih. Sedang kan ayah kak Taqwa memakai tuxedo hitam dengan kemeja cokelat seperti warna kebaya istrinya. Pasangan serasih menurutku.
“ permisi om, tante..” sapaku, membuat kedua orang berumur sekitar 40’an dan 50’an berbalik badan menghadap kearahku.
“ om sama tante nyari kak Taqwa yah?.” Tanyaku gugup berhadapan dengan orang tua kak Taqwa.
“ iya nak. Apa kamu melihatnya?.” Tanya ayah kak Taqwa.
“ kamu Ismi kan?.” Kini mamanya kak Taqwa yang berbicara.
“ iya tante, saya Ismi.”
“ enggak. Taqwa banyak cerita tentang kamu ke tante. Ternyata benar, kamu cantik.”
Waduh… what’s happened with my gravitation… I feel fly now. Apa saja yang kak Taqwa ceritakan tentang aku pada ibunya?
I hope bukan sesuatu yang membuat emage ku down di muka orang tuanya.
“ tante nyari kak Taqwa yah? Tadi kak Taqwa sama kak Jacky dan Chucha tante untuk ambil lunch.” Kataku.
“ oh, begitu yah nak. Thanks yah. Permisi.” Kata ayah kak Taqwa.
“ sama-sama om, tante.” Setelah orang tua kak Taqwa pergi, aku juga melanjutkan langkahku menuju musollah.
Seusai aku shalat, aku menuju tempat dimana Chucha dan yang lainnya berada setelah aku bertanya melalui sms tadi.
“ hai Cha.” Sapaku saat tiba di kantin sekolah yang sepi.
“ hai too…” sapanya.
“ kenapa dengan wajahmu, sepertinya tidak di cuci yah sebelum kau ke sini.” Candaku, membuat Chucha sedikit mengembangkan senyumnya.
“ nope. Cuman gimana yah… kalau misalnya kak Jacky pengen putus.”
“ kenapa takut bukannya kalian itu tunangan. Dan kak Jacky juga udah ngenalin kamu sama orang tua mereka kan? Walau aku sedikit cemburu dengan kalian yang kini berstatus tunangan.”
“ ye… Michi cemburu. Sabar aja lagi, suatu saat kalau kak Taqwa itu jodoh kamu pasti akan disatukan sama Allah.”
“ tuh kamu tau. Ngapain jadi galau gitu khawatir kak Jacky minta putus sama kamu?.”
“ iya juga sih… sabar aja yah mendingan. Lagi pula kita juga baru naik kelas tiga sedangkan kak Jacky dan kak Taqwa masih baru lulus SMA. Kita masih sangat-sangat muda.”
“ well, mendingan kita kelapangan yuk. Sepertinya acaranya sudah selesai. Atau kamu masih mau galau disini?.”
“ ya sudah, kita kelapangan. Aku juga mau pulang.”
“ by the way, kamu bawa motor kan?.”
“ mau dianter pulang lagi?.”
“ yah… gitu deh… Ardid lagi enggak bisa, katanya sibuk. Padahal lagi cari jodoh sama temen-temen kampusnya.”
“ ya sudah, yuk. Kita pulang. Kamu kasih tau kak Taqwanya lewat sms aja..”
“ iya.” Sambil berjalan lamban, aku mengirimi kak Taqwa message tentang aku pulang duluan bersama Chucha.
*******
Assalamualaikum…. Readers, aku senantiasa menunggu vote dan komentar kalian yah… and sorry kalau ada salah ketik atau semacamnya yah… namanya juga mnausia, pasti ada kesalahan-kesalahan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEMOT, IT'S ME
Novela Juvenilcerita cewek yang serba lemot dalam segala hal, termasuk ngomong and makan... namun gimana dengan kisah cintanya? apa kah selemot dirinya atau tidak dan akankah dia berubah menjadi tidak lemot lagi?
