Part 4

68.5K 2.6K 15
                                        

Boy POV

Tringg.. tringg... tringgg...

Gue pun bangun dan langsung mematikan jam yang ada di samping kasur gue. Setelah mematikan jam, gue langsung berbaring kembali ke kasur.

"Boy, bangun! Udah mau jam 6.10, tuh!" ucap bibi gue yang sudah merawat gue dari kecil.

"HA!? MATI GUE! GUE MAU JEMPUT CHELSEA LAGI!" ucap gue dan langsung siap-siap memakai baju seragam sekolah. Jam menunjukkan pukul 6.15. Gue langsung menghidupkan motor tanpa pamit ke bokap gue.

Nyokap gue udah meninggal 2 tahun yang lalu dan bokap gue selalu sibuk dengan pekerjaannya. Nyokap gue meninggal saat dia melahirkan adik gue, tapi adik gue dan nyokap gue gak selamat. Pada saat itu, gue berubah menjadi Boy yang berandalan, tapi gue gak pergi ke club #BoyAnakAlim dan hubungan gue dengan bokap gue menjadi hancur.

Gue sampe di depan rumah Chelsea yang kelihatan sepi, lalu seorang ibu keluar dari rumah tersebut.

"Cari siapa, ya?" ucap perempuan paruh baya dan kemungkinan itu adalah pembantu Chelsea.

"Cari Chelsea, bi. Chelsea-nya ada?" ucap gue dengan ramah. Gue suka ramah orangnya kalau sama yang lebih tua.

"Ada, kok, den. Lagi siap-siap. Saya ke dalam dulu, ya, den." ucap perempuan itu dan masuk ke dalam rumah.

Setelah beberapa menit menunggu, Chelsea akhirnya keluar.

"Ngapain lo disini?" ucap Chelsea ketus.

"Mau jemput lo. Sekarang cepat naik, peluk gue atau lo mau kita telat?" ucap gue dengan cepat.

"Iya, gue naik, tapi gue gak mau peluk lo."

"Serah deh."

Saat itu, gue merasa bahwa gue sudah berhasil membuat Chelsea baper karena Boy ganteng.

Chelsea POV

Setelah mendapat hukuman apa yang harus dilakukan dari pak Irawan, gue dan Boy segera pergi ke perpus.

"Lo yang kerjain semua, ya. Gue capek, mau tidur." ucap Boy memecahkan keheningan.

"Apa lo bilang? Lo pikir lo siapa suruh-suruh gue?" jawab gue dengan kesal.

"Gue mau tidur. Kalau udah siap, bangunin gue. Selamat berkerja, calon pacar gue." ucap Boy dengan nada licik.

"Hell!" ucap gue.

Setelah hampir 1 jam, gue pun menyelesaikan rak buku terakhirnya.

"Huh! Akhirnya siap juga. Ini semua karena Boy!" ucap gue.

Gue melihat ke arah Boy yang sedang tertidur dengan nyenyak. Wajar saja Boy dapat tidur dengan nyenyak, sebab di perpustakaan ada 3 AC yang hidup.

"Nih cowok kalau dilihat-lihat, ganteng juga ya. Coba aja dia gak ngeselin, pasti udah naksir deh gue." ucap gue dalam hati.

"Ih, ogah banget gue naksir sama cowok kayak dia." Gue langsung merapikan rambutnya dan keluar tanpa membangunkan Boy.

Sampai di kelas, gue langsung disambut oleh keempat teman gue.

"Chelsea! Darimana aja lo? Lo telat ya!? Tumben lo telat, biasanya datang paling awal lo." ucap Camilla.

"Telat bangun. Capek banget gue semalem." ucap gue.

"Lo telat sama Boy, ya? Cie udah bukan calon lagi, nih, ceritanya? Udah resmi, ya?" ceplos Katty.

"Gila lo, enggak lah! Amit-amit gue pacaran sama dia." jawab gue.

"Amit-amit atau amin-amin?" Goda Camilla.

"Eh, btw, kalian udah dengar belum, ada murid baru di kelas Boy?" tanya Ashley.

"Ada ya? Siapa? Cewek cowok?" tanya Pricilla.

"Cewek, namanya Amanda kalau gak salah." jawab Ashley.

"Kalian berlima! Duduk di tempat masing-masing!" ucap wanita berkacamata, berbadan gemuk, dan termasuk salah satu guru killer di Hermes School. Ya, dia adalah Bu Tati, guru bahasa Inggris.

Gue langsung duduk di samping Ashley. Sementara Pricilla yang berada di belakang gue langsung duduk dengan tenang. Katty dan Camilla langsung terbirit ke tempat duduk mereka.

Boy POV

"Lo yang kerjain semua, ya. Gue capek, mau tidur." ucap gue memecahkan keheningan.

"Apa lo bilang? Lo pikir lo siapa suruh-suruh gue?" jawab Chelsea dengan kesal.

"Gue mau tidur. Kalau udah siap, bangunin gue. Selamat berkerja, calon pacar gue." ucap gue dengan nada licik.

Setelah itu, gue larut ke dalam mimpi. Mimpi yang gak bisa gue ingat sama sekali.

"Woi! Bangun kali! Tidur mulu kerja lo! Bangun, woi!" ucap seseorang membangunkan tidur gue. Gue pun membuka mata gue. Samar-samar gue melihat, dia adalah Alex bersama teman-teman gue.

"Aduh, apaan sih, ganggu aja. Gue ngantuk, mau tidur." ucap gue setengah sadar, tapi masih ganteng kok, tenang aja.

"Buset dah ni anak! Bangun, woi! Lo dipanggil pak Irawan ke kantornya" ucap Jack.

"Hmm, 5 menit deh. Gue kumpulin niat untuk bangun dulu," ucap gue. Dengan keterpaksaan, gue bangun sambil mengucek-ngucek mata. Setelah beberapa menit, gue berjalan ke arah kantor guru.

"Permisi, pak. Kenapa pak? Kok, panggil saya?" ucap gue.

"Kamu, ya! Saya tadi suruh kamu beresin buku-buku di perpus! Bukannya suruh kamu tidur! Sekarang, kamu saya hukum. Keliling lapangan 15 kali!" perintah pak Irawan.

"10, deh, pak." bujuk gue.

"Bapak bilang 15, ya, 15!"

"9, deh, pak. Panas tau, pak. Nanti kulit saya hitam, bapak mau tanggung jawab?"

"Saya bilang 15! Cepat, sekarang kamu lari!"

15 keliling bukan hal yang sulit bagi gue karena gue udah sering lari-lari saat latihan basket. Oh ya, gue adalah ketua team basket di Hermes School. Asek, gue leader.

Ini semua pasti ulah Chelsea. Lihat aja, gue bakal kasih pelajaran buat dia.

"Aaa gila, ganteng banget!"
"Aduh, itu kok bisa ganteng banget ya,"
"Gila, rambutnya!"
"Aduh, senyumnya!"
"'Meleleh adik, bang."

Gue hanya terkekeh geli mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh kakak dan adik kelas gue. Sekarang gue menuju ke kantin bersama teman-teman gue dan menghampiri meja Chelsea and the geng.

Gue menarik tangan Chelsea dan mengajaknya ke taman sekolah. Awalnya, Chelsea sempat terkejut dan menolak permintaan gue, tapi akhirnya dia mau juga mengikuti gue.

"Lo kan yang bilang sama pak Irawan kalau gue tidur tadi?" ucap gue tanpa basa-basi .

"Emang kenapa? Lo gak senang? Enak banget lo tidur-tidur, sementara gue capek-capek kerjain," ucap Chelsea.

"Sebagai gantinya, lo harus jalan sama gue nanti malam. Jam 6.30 gue jemput lo. Gue gak terima penolakan!" ucap gue dengan cepat dan membuat Chelsea tersontak kaget.

"Gak, gue gak bisa. Gue sibuk!" tolak Chelsea.

"Gue. Gak. Terima. Penolakan. Sayang." ucap gue sambil menekan kata 'sayang'.

"Oh ya, nanti gue antar lo pulang. Tunggu gue di gerbang sekolah. Jangan pulang duluan." ucap gue mengakhiri pembicaraan.

Gue berpikir kemana gue pergi nanti. Tiba-tiba, terlintas satu tempat dari kenangan masa lalu gue.

maaf kalau banyak typo-typo dan kata-kata yang masih acak-acakan. hehe mohon maklum yaa!

VOTE AND COMMENT!

From A Little DrinkCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang