Setahun kemudian...
Sudah lebih dari setahun aku menjalani hubungan bersama Aga. Setelah melewati masa masa yang sempat membuat aku dan Aga saling diam. Hanya karena sebuah masalah kecil yang membuat kami begini.
Semenjak kejadian itu pula, dimana aku dan Aga mendapatkan kabar bahagia bahwa kami berdua akan dijodohkan saat selesai memasuki sekolah menengah atas ini. Semenjak itu, hubungan aku dan Aga menjadi terasa baik baik saja dan semakin dekat.
Kedua kakiku melangkah dengan rasa kerisauan yang teramat dalam memasuki pekarangan sekolah. Hari ini, aku akan mengadakan hari yang selalu tidak ingin dinanti nantikan oleh setiap murid SMA. Hari dimana aku akan menjalani Ujian Nasional.
Tidak terasa, umurku telah bertambah dan sekarang aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Rasanya, seperti baru kemarin aku memasuki SMA ini. Nyatanya, aku akan melakukan sebuah peristiwa yang akan mempertaruhkan antara hidup dan matiku sebagai siswi.
Aku meletakkan tas sandang bewarna creamku ke atas meja. Memandang ke kursi sebelahku. Masih kosong. Ternyata, Jennifer belum hadir saat ini. Yaiyalah, lagian juga dia kan ujiannya berbeda kelas denganku.
"KYLIE!".
Baru saja aku menyebutkan namanya, wanita itu datang menghampiriku dengan suara panggilannya yang menggema. Aku menutup kedua telingaku dengan risih lalu menatapnya sengit. Wahai Jennifer, suaramu begitu cempreng untuk di dengar.
"Gausah teriak teriak najis!".gerutuku kesal.
Jennifer memasang tampang watadosnya. "Lagian juga gue lagi semangat hari ini".
Wtf? Semangat? Jelas jelas ini adalah hari terakhir untuk berada di sekolah ini dengan acara yang sungguh menegangkan. Ujian Nasional yang akan mempertaruhkan antara hidup dan mati.
"Apaan sih, lo seneng gitu bakalan cabut dari sekolah ini?".
"Bukan gitu Kyl. Maksud gue, gue seneng aja gitu hari ini kita terakhir UN".
Aku memandangnya dengan tatapan aneh. Jennifer sudah gila. Dia malah bersemangat untuk menyelesaikan ujian ini. Padahal, aku dengan para siswa yang lain saja harus menahan rasa ketakutan mati matian. Ketakutan karena takut jika nantinya diantara aku dengan yang lain, tidak akan lulus pada ujian ini.
"Aneh lo".
"Memang. Tapi, meskipun ini terakhir UN apa salahnya sih gembira? Emang kalau misalkan kita mau selesai UN, harus tegang terus terusan? Gak kan yaudah".
Benar juga kata Jennifer. Jika terlalu tegang, itu sama saja nantinya otak kita menjadi blank jika saat mengerjakan ujian tersebut.
Dan sekarang, aku bingung dengan kata kataku di atas yang dikarang oleh authornya. Seperti agak gak nyambung gitu. Maafin.
"Aga mana?".
"Di kelasnya lah".
"Tumben gak nyariin".
"Mau UN dulu".
Jennifer berdecak sambil bertopang dada. "Yailah Kyl, udah berapa kali gue bilang kalau kita tuh gak bo--". "Iya gak harus tegang banget kan?".potongku seakan tau apa maksud dari perkataan Jennifer.
Jennifer mengangguk. "Tuh tau, pinter".
"Gue emang pinter".
"Dih? Pede".
"Bagus dong".
"Lo udah belajar belum?".pertanyaan Jennifer benar benar membuatku jengkel. Ngapain sih dia harus bertanya seperti itu yang sudah pasti akan kujawab dengan jawaban iya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EXPECTED ✔
Teen FictionSalahkah aku jika aku memiliki kedua orangtua yang menyayangiku tanpa harus melihat statusku yang sebenarnya? Salahkah jika aku hidup dalam ketenangan dan kedamaian? Salahkan jika aku mencintai seseorang yang juga mencintaiku apa adanya? Apalah arti...
