Alina.
"Hehh.. sumpah nyaman banget disini."
Ucapku menghirup udara segar dari hamparan taman bunga yang cukup luas dihadapanku.
Sebelumnya perkenalkan namaku Alina Orlin panggil saja aku Al. Aku sekolah di Flavor East hight school dan sekarang duduk di bangku kelas 12.
"Alina! Ternyata kamu disini! "
Teriak seorang gadis berlari kecil menghampiriku.
Karena suaranya yang keras dan memekakkan telinga, spontan aku mengumpat tidak jelas dan langsung memberinya tatapan tajam.
"Risha! Kamu ngerti jantungku mau copot tadi. Jangan berteriak aku pasti mendengarmu! "
Ucapku dengan nada sedikit meninggi.
Dia Varisha. Temanku satu kelas, bahkan kita duduk bersama satu bangku, ia sudah cukup lama mengenalku terhitung kita berteman sudah 5 tahun, jadi dia tahu semua tentangku, termasuk masalah yang sedang menimpaku beberapa jam lalu.
"Iya deh maaf. Kanapa sih Al akhir-akhir ini aku merasa kamu menghindari Justin? "
Tanya Varisha menatapku penuh tanya.
"Ti-tidak aku tidak menghindarinya. Ugh... Benar aku menghindar, karena aku tidak mau mendapat masalah dari Adresia hanya karena aku terlalu dekat dengan dia"
Ucapku gugup.
Alasanku tidak sepenuhnya benar. Aku hanya merasa dadaku sesak ketika melihat dia kemarin, dan entah kenapa aku tiba-tiba jadi membenci Justin.
Kita terdiam cukup lama. Aku hanya memandangi beberapa kupu-kupu berterbangan yang mengelilingi beberapa bunga.
"Ayolah Alina Orlin, aku ini sahabatmu bahkan sudah lima tahun aku mengenalmu. Alasan yang aku dengar barusan itu seperti dusta belakang"
Seringai Varisha menatapku curiga.
Aku salah tingkah karena Varisha yang terus-menerus menatapku dengan cara yang dibilang tidak wajar. Apakah dia seorang peramal atau semacamnya, kenapa dia bisa menebakku semudah itu, apa aku sendiri yang payah dalam berakting.
"Rish cukup kali ini jangan menyebut namanya lagi. Telingaku seakan menolak jika namanya terdengar"
Desisku tajam.
Disini tidak terlalu ramai, mungkin karena efek taman ini belum cukup dikenal. Aku mengedarkan pandangan, berusaha mencari mahkluk lain yang berbeda ditempat ini selain aku dan Varisha tapi maksudku manusia juga.
Langkah derap kaki perlahan mendekatiku, suara nafas yang menderu bercampur dengan angin yang berhembus kencang menerbangkan beberapa helain rambutku dan juga sekolompok bunga yang sudah mekar.
"Kita pulang sekarang Al. Matahari aja udah mau pulang, tuh"
Varisha menunjuk sang surya yang perlahan-lahan meredupkan sinar kuningnya.
Semburat sinar jingga terlukis indah di langit senja, menggantikan sinar kuning terang yang bersinggah. Mataku kerap kali menatap sinar itu sampai tidak berkedip, bahkan gadis disampingku yang tadinya merengek minta pulang malah mengurungkan niatnya karena ikut terpana melihat sinar senja oranye yang menenangkan.
"Rish pulangnya agak nanti ya? Sayang kalau dilewatin"
Ucapku memohon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Same Mistakes
Novela Juvenil[COMPLETED] "Kau tak harus bertanya itu, karena kau sudah tahu jawabannya. Semua yang telah kau lakukan, tidak akan membuat kita kembali relevan" Alina Orlin. "Menyakitkan tapi itu perlu. Jika kau hancur maka akulah yang harus memperbaikinya...
