23. Honesty

395 26 0
                                        

Gemerlap lampu yang menghiasi ballroom sebuah gedung hotel tertata rapi dan indah, warna lampu biru navy menambah kesan elegant ruangan ballroom itu.

Gadis pamakai gaun abu-abu itu tengah bingung tentang apa yang dipikirkannya, pikiran jahat dalam diri gadis itu keluar karena rasa cinta yang tak terbalaskan. Setelah ia menemukan sebuah ide yang tiba-tiba muncul, ia menghampiri seorang laki-laki pemakai jas hitam. Dia. Laki-laki itu yang telah membuatnya gila setiap malam, rencana selicik apapun dirasa gagal olehnya untuk mendapatkan laki-laki itu.

"Justin aku ingin bicara denganmu, tapi tidak disini"
Ucap gadis itu sedikit ragu.

"Kenapa? "
Tanya Justin sedikit berteriak melihat keadaan ballroom yang riuh. Detik kemudian ia mengangguk mengerti.

Gadis itu menuntun Justin ke swimming pool hotel yang terletak di lantai 5. Tangan gadis itu terulur untuk memencet tombol naik pada lift. Suara denting yang menunjukkan bahwa mereka sudah sampai tujuannya terdengar, pintu lift kemudian terbuka. Pemandangan malam kota sangat indah, sampai-sampai Justin terpaku melihat gemerlap lampu kota yang menyebar layaknya lautan bintang.

"Oh iya aku sampai lupa, ada apa sebenarnya Dre? "
Tanya Justin lalu menghampiri Adresia yang berdiri dipinggir kolam membelakanginya.

Dengan lantang. Adresia memberanikan diri untuk menarik Justin kedalaman pelukannya, air matanya tumpah tak bisa dibendung. Rasa sesak yang menyerbu Adresia tidak berkurang malah semakin bertambah setiap detik, saat ia menemukan manik hazelnut Justin.

Justin hanya terdiam menanggapi pelukan mendadak Adresia. Adresia mendongak, pandangannya buram akibat ia tumpukan air mata di pelupuknya.

"Ak-aku tahu, seberapa besar pengorbanan yang aku lakukan tidak akan pernah mengubah rasa cintamu padaku"
Ucap gadis itu berlinang air mata lalu malangkah mundur menjauhi Justin.

"Jujur. Demi mendapatkan mu, aku bisa melakukan apapun, tap-tapi akhirnya aku sadar, aku hanyalah kaktus berduri yang mengharapkan hinggapan kupu-kupu. Semua yang aku lakukan selalu sia-sia"
Adresia tersenyum getir setelah memutar beberapa kejadian yang menimpanya.

Justin memahami arah pembicaraan Adresia. Ia mendakati gadis itu yang pundaknya masih bergetar, begitu pula air mata yang membasahi pipinya masih mengalir deras.

"Dre, maafkan aku sebelumnya, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh. Cinta itu tidak bisa dipaksakan Dre, diluar sana pasti ada orang yang mencintaimu lebih dari aku, kumohon kamu jangan menjauhiku hanya karena masalah ini"
Justin menggenggam kedua tangan Adresia, mencoba untuk menenangkan gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu masih tergugu tidak bisa menahan air suara rintihannya.

"Tiga tahun terakhir sejak aku mengenalmu, kurasa kamu bisa menjadi sahabat perempuan yang selalu ada untukku, tapi aku tidak menyangka jika kamu memiliki perasaan lebih padaku"
Justin menunduk. Ia menghembuskan nafasnya berat. Adresia mendongak menatap manik hazelnut Justin. Merasakan sebuah beban yang terpencar dari sahabat laki-lakinya itu.

"Sebenarnya ini bukan salahmu Jus, ini salahku karena mencintai orang yang salah"
Adresia berucap nanar dengan senyum getir yang menghias samar di bibirnya.

"Aku seharusnya bersyukur karena Tuhan bisa membuatku dekat denganmu karena statusku sebagai sahabatmu"
Adresia mencoba menarik kedua sudut bibirnya. Nampak senyum simpul menghiasi wajahnya yang masih basah dengan air mata.

"Jus... Aku boleh minta satu hal darimu?"
Mohon Adresia kepada Justin yang sakarang tersenyum melihat sahabatnya.

"Baiklah apa? "
Jawab Justin mantap.

Same MistakesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang