17. Anoa Come Back!

423 22 0
                                        

"Aku memang salah Azka"
Alina menunduk.

"Kamu jangan menyalahkan dirimu, sebenarnya cara kamu menyampaikan kepada Alexi saja yang salah"
Azka mengelus punggung Alina yang membungkuk.

"Lalu aku harus bagaimana? "
Ucap Alina yang masih menunduk.

"Kamu harus cari bukti Al. Bukti apapun tentang pengkhianat yang Alda lakukan kepada Alexi, entah itu berupa foto, rekaman suara, atau yang lebih baik video. Mungkin dengan semua itu Alexi bisa percaya"

Alina seperti menemukan titik terang dari permasalahan ini. Ia mengulas senyum senang lalu dipeluknya Azka erat-erat. Ia bernafas lega.

"Trimakasih Az"
Ucap Alina dipelukan Azka. Jantung Azka berdetak hebat, karena deruan nafas hangat Alina. Ia mengelus rambutnya pelan.

"Aku merindukan panggilan itu saat terucap dari mulutmu"
Batin Azka yang masih mempertahankan posisinya.

●•♬●•

Alina.

"Alina ada teman kamu di depan, cepat temui dia"

Tiba-tiba ibu muncul di saat yang tidak tepat, bagaimana tidak, kedua mataku dilanda rasa kantuk yang mendalam. Aku mencoba mengumpulkan nyawa, setelah itu perlahan aku berjalan menghampiri ibu yang masih nangkring di depan pintu kamar.

"Siapa bu? "
Tanyaku mengucek kedua mata yang masih diselimuti kabut kantuk.

"Pergilah, jangan terus bertanya. Ibu pergi ke pasar dulu"
Ibu berdecak kesal.

Siapa yang mengganggu tidur siangku yang nyaman ini, jika nanti hanya menanyakan hal yang tidak penting akan kusumpahi tamu itu, dan ibu. Kenapa juga ia pergi ke pasar siang-siang begini.

"Ada apa? "
Tanyaku datar bin malas tanpa menatap wajah seorang pria yang ada dihadapanku.

"Al bisakah kita bicara sebentar? "
Tanyanya meminta izin.

"Alexi!"

Seketika itu ketujuh nyawaku benar-benar terkumpul. Kenapa dengan dirinya? Ya Tuhan kau kembalian Alexiku yang dulu. Syukurlah. Aku menghela nafas lega.

"Baiklah silahkan masuk"
Jawabku girang.

"Al sebelumnya aku minta maaf soal yang kemarin, jika perkataanku menyakitimu, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu"
Alexi merendahkan suaranya dan menatapku lurus.

"Aku mengerti Lex, mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika berada diposisimu, apalagi kamu baru jadian sama gadis yang dari dulu kamu inginkan, tentu kamu tidak terima kalau Alda aku tuduh begitu saja, apalagi tanpa bukti . Aku juga minta maaf soal kemarin, seharusnya aku berfikir lebih matang dulu sebelum bicara seperti itu padamu"
Ujarku dengan senyum yang belum luntur sedari tadi.

Alexi mengulas senyum yang sama di wajahnya, ia memelukku erat. Senyumku mengembang layaknya kue bolu yang baru keluar dari oven.

"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?"
Alexi bertanya dengan manik mata yang sangat penasaran.

Aku menjadi tidak enak hati jika harus bicara sejujurnya, tapi memang aku harus bicara apalagi mengingat keadaan Varisha yang makin hari tambah buruk. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi kepadanya tanpa melebihkan atau mengurangi apa yang aku lihat. Aku juga menambahkan saat kejadian tersebut Justin juga melihat keberadaan Alda.

"Kamu boleh percaya atau tidak Lex, yang penting aku sudah memberitahu ini padamu"

Ugh... Akhirnya, hatiku lega setelah menceritakan ini semua, untuk selanjutnya aku menyerahkan ini kepada Alexi karena ini urusan antar pacar.

Same MistakesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang