9. Necklace

666 29 0
                                        

Alexi.

"Lexi"
Teriak Alina turun dari mobil seseorang yang kuduga milik Justin.

Aku memandangi sahabatku ini. Dia ternyata cantik, apalagi sekarang mengenakan mini dress hitam, rambutnya yang terurai menambah kesan manis pada setiap orang yang melihatnya. Tapi kenapa matanya sembab?

Saat ia berjalan kearahku, kedua tangannya mengusap dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu bisa kulihat ia mengambil nafas dalam dan mengukir senyum sebelum memandangku.

"Hmmm..."
Dehamku saat Alina berdiri tepat didepanku.

"Yah Anoa ngambek, gak lucu lo"
Ucap Alina memelas.

"Just for you again"
Aku menyerahkan sebuket mawar kuning kepada Alina.

Aku tidak menyukai Alina lebih dari seorang sahabat, hanya saja saat berada disampingnya aku seperti seorang kakak yang selalu menjaga adiknya, kadang aku juga bingung kenapa perasaan ini muncul tiba-tiba.

"Jangan tanya lagi, kenapa aku membawa mawar kuning"
Aku menatap Alina datar.

"Iya tau, hm..hm..Al mawar kuning itu melambangkan per.sa.ha.ba.tan"
Jawab Alina menirukan cara bicaraku.

"Kamu yakin mau keleuar malem pake mini dress ini. Nanti kalau aku dibegal pereman mesum gimana?"
Tanyaku sambil memandang tubuh Alina dari atas sampai bawah.

Weits... Jangan mikir macam-macam, bayangin aja keluar malam, bonceng cewek, dan yang dibonceng makai mini dress yang panjangnya cuman di atas lutut, pasti kalau ada yang lihat apalagi pemilik otak mesum mesti bakal ngelakuin yang aneh-aneh. Jadi aku sebagai sahabat yang baik harus antisipasi.

"Ya enggak lah Anoa, emang aku kayak bitch girl apa ?!"
Dengusnya menatapku sebal.

"Aishh...cepetan ganti, keburu malem"
Gerutuku sebal karena melihatnya yang masih berdiri tanpa mengubah posisi dari beberapa menit lalu.

Tak lama kemudian Alina datang, dan sudah mengganti mini dressnya tadi dengan pakaian yang casual dan ia menggulung rambutnya yang tergerai.

"Yok cepetan"
Seru Alina dibelakangku.

Aku pun menjalankan motor Honda CBR repsol oren milikku. Suasana malam kota Jakarta hari ini cerah dengan hembusan angin tenang. Hiruk pikuk kota masih terlihat, namun tidak sepadat disiang hari. Gadis di belakangku terkadang menolehkan kepalanya ke kanan maupun ke kiri untuk melihat pemandangan malam sekeliling kota.

"Lex kamu mau ngajak aku kemana nih?"
Tanya Alina dengan suara yang ia keraskan.

"Udah lihat aja, bawel banget"
Jawabku agak keras.

Alina hanya menampangkan wajah datar. Suara bising mesin menemani perjalanan malam ini. Entahlah apa yang membuat Alina tiba-tiba berhenti untuk bicara, padahal ia sering berceloteh saat aku bonceng, namun sekarang ia hanya diam dan memainkan pundakku, seperti sekarang ini, jari-jarinya menekan pundaku layaknya tuts piano. Tak lama kemudian aku menghentikan laju motorku kesalah satu mini market yang berada di pinggir jalan.

"Kok berhenti Lex ?"
Tanya Alina setelah lama terdiam.

"Aku mau beli coklat, kamu mau?"
Tawarku padanya.

"Ah...kalau masalah makanan jangan ditanya lagi, jelas maulah"
Ucapnya tersenyum yang menampakkan deretan gigi putih miliknya.

"Aku nunggu disini aja ya Lex"
Ucap Alina melepaskan helm lalu berjalan kesalah satu tempat duduk yang disediakan oleh mini market tersebut.

Aku mengangguk dan membuka pintu mini market. Seorang wanita dengan seragam kerjanya tersenyum ke arahku dan mengucapkan salam yang rutin ia ucapkan saat ada pelanggan datang.

Same MistakesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang